Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 April 2026
A A
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO

Ilustrasi Jalan Sigura-gura di Malang (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Slow living di Malang itu cuma akal-akalan. Pindah kerja ke kota ini buat mencari ketenangan malah berujung kena mental. Sama saja sumpeknya dengan Jakarta.

***

Bosan dengan macet, polusi, dan tekanan kerja di ibu kota, banyak orang pada akahirnya mencari pelarian. Belakangan ini, konsep slow living alias hidup santai mulai banyak diagungkan.

Kalau kamu mencari rekomendasi kota untuk menjalani gaya hidup ini di media sosial, nama Kota Malang pasti selalu muncul di urutan teratas. Biasanya bersanding dengan Jogja, Salatiga, atau Purwokerto.

Di linimasa TikTok atau Instagram, Malang selalu digambarkan dengan sangat estetik. Kotanya sejuk, banyak kafe nyaman, dan orang-orangnya tampak memiliki ritme hidup yang pelan. 

Menonton video semacam itu, siapa yang tidak tergiur? Bayangannya, kita bisa kerja remote sambil menyeruput kopi hangat di pagi hari dan hidup damai jauh dari suara klakson. 

Malang yang dulu bukanlah yang sekarang

Sayangnya, bayangan indah itu sering kali hanyalah memori masa lalu yang terus diputar ulang oleh algoritma. Realitanya, Malang hari ini sudah jauh berubah.

Mitos Malang sebagai surga slow living sebenarnya tidak salah-salah amat. Dulu, hal itu memang fakta.

Aditya (33), seorang karyawan swasta yang kini menetap di Jogja, bisa bersaksi soal masa kejayaan itu. Ia menghabiskan masa kuliahnya di Malang pada rentang tahun 2011 hingga 2015. Menurut Aditya, Malang kala itu memang sangat ideal untuk hidup tenang. 

“Dulu itu Malang masih sejuk. Jalanan kayak Suhat (Jl. Soekarno-Hatta) atau Ijen masih cukup lengang. Pokoknya masih syahdu banget,” kenang Adit, Jumat (10/4/2026).

Namun, ekspektasi Aditya hancur lebur ketika ia memutuskan untuk reuni ke Malang pada akhir tahun 2023 lalu. Niatnya ingin bernostalgia dan mencari ketenangan, ia malah disuguhi pemandangan yang menyesakkan. 

Hawa kota yang dulu sejuk, kini sudah nyaris tidak terasa. Jalanan semrawut dan macet di mana-mana. Kafe memang menjamur di setiap sudut, tapi suasananya berisik dan jalanannya terasa sangat padat. 

“Setelah beberapa hari berada di sana, aku ngerasain kalau vibes Malang yang dulu aku kenal sudah mati.”

Ruang terbuka hijau makin menipis

Perasaan Aditya soal udara Malang yang makin memanas itu bukanlah sekadar perasaanya saja. Data di lapangan memvalidasi perubahan tersebut. 

Iklan

Banyak sumber menyebut, hilangnya hawa sejuk di Malang sangat berkaitan erat dengan menyusutnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta masifnya pembangunan fisik. 

Lahan yang dulunya dipenuhi pohon peneduh atau area resapan air, perlahan tapi pasti berubah fungsi menjadi deretan ruko, kafe, dan kawasan indekos mahasiswa.

Catatan suhu dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengonfirmasi hal ini. Pada beberapa periode di siang hari, suhu udara di Malang kini sering menembus angka 32 hingga 34 derajat Celsius. 

Angka ini tergolong panas dan membuat tubuh cepat gerah. Fakta cuaca ini jelas menjadi tamparan keras, karena suhu seterik itu sangat “diharamkan” bagi para penganut slow living yang mencari kesejukan.

Pindah kerja ke Malang, niat mencari ketenangan malah zonk

Sayangnya, fakta bahwa Malang sudah memanas dan makin sesak seringkali baru disadari setelah orang benar-benar pindah. Hal inilah yang menjadi pukulan telak bagi Fajar (30), seorang pekerja kantoran yang sebelumnya bekerja di Jakarta Barat.

Saat menerima keputusan mutasi untuk bekerja di kantor cabang Malang, Fajar sangat antusias. Teman-teman kantornya di ibu kota pun ikut memanasi.

“Teman kantor pada iri gitu, ‘Wah enak pindah ke Malang bisa work-life balance, slow living, udara adem nggak kayak di Jakarta’,” ujar Fajar, Jumat (10/4/2026) 

Fajar berangkat ke Malang pada akhir 2024 lalu dengan sumringah. Bayangan hidup tenang, slow living, sudah tergambar di benaknya.

Sialnya, baru di bulan pertama bekerja, ilusi kota sejuk itu luntur. Yang dia rasakan malah cuaca panas yang menyengat, yang membuat kemeja kerjanya sering basah lepek. 

“Suhu siang hari di Malang itu benar-benar parah. Udara sejuk itu baru terasa dini hari.”

Baca halaman selanjutnya…

Jalanan tak beda jauh sama Jakarta. Macet, semrawut. Dipenuhi kendaraan plat luar kota.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 12 April 2026 oleh

Tags: cara bisa slow livingjakartakemacetan di malangKota MalangMalangmalang jawa timurpekerja malangpilihan redaksislow livingslow living di malangsuasana kota malang
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penumpang KRL Jakarta lebih manusiawi dibanding penumpang KRL/Commuter Line Jogja

KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

4 Mei 2026
5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
Lulusan UNJ berkebun di Bogor. MOJOK.CO

Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan

8 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026
Vakum 6 Tahun, LA INDIE MOVIE Hadir Kembali Cari Talenta Perfilman Indonesia MOJOK.CO

Vakum 6 Tahun, LA INDIE MOVIE Hadir Kembali Cari Talenta Perfilman Indonesia

7 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.