Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Rupiah Melemah Bikin Kelas Menengah Makin Susah: Gaji Tak Kemana-mana, tapi Biaya Hidup Terus Melonjak

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Juni 2026
A A
pahlawan pertama di uang rupiah mojok.co

Ilustrasi uang Rupiah(Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kemarin siang, saya makan di sebuah warteg langganan. Seporsi nasi dengan lauk telur dadar dan tempe orek yang biasanya seharga sepuluh ribu rupiah, kini perlahan naik harga. 

Untuk lauk yang harganya tetap, ukurannya dipangkas. Potongan tempe, misalnya, terlihat lebih tipis. Potongan ayam juga demikian. Saat saya tanyakan, pengelola warteg mengeluhkan tingginya harga bahan pokok di pasar.

Kalau dipikir-pikir, tipisnya irisan tempe ini, misalnya, memang berkaitan erat dengan rantai pasok ekonomi global. Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), lebih dari 80 persen kebutuhan kedelai nasional bergantung pada impor. 

Saat nilai tukar Rupiah melemah hingga level Rp18.200 per dolar AS, seperti hari ini, beban belanja bahan baku bagi perajin tempe otomatis membengkak. Menyusutkan ukuran lauk menjadi “strategi” paling rasional bagi pengusaha kecil agar tak gulung tikar.

Efek pelemahan Rupiah ini berlipat ganda saat menyentuh sektor yang lebih besar. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Denni Puspa Purbasari, menjelaskan situasinya makin rumit karena pasokan energi global ikut terganggu. Konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan jalur distribusi di Selat Hormuz, menghambat pengiriman minyak dunia.

Industri dalam negeri yang sangat bergantung pada bahan bakar dan bahan baku berbasis minyak bumi akhirnya menanggung biaya operasional yang tinggi. 

“Ketika harga minyak itu tinggi, maka perusahaan akan melihat apakah kemudian dapat menaikkan harga,” kata Denni, sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (11/6/2026).

rupiah.MOJOK.CO
Pelemahan nilai rupiah atas dolar berdampak buruk bagi kelas menengah. Gaji mereka stagnan, tapi kebutuhan hidup naik. (Gambar: Mufid Majnun/Unsplash)

Namun, menaikkan harga jual barang menjadi pilihan berat karena daya beli masyarakat sedang melemah. Di lapangan, tekanan ekonomi ini langsung terasa oleh masyarakat, khususnya pekerja. 

Rendi (25), misalnya, seorang karyawan swasta yang ngekos di kawasan Sleman, mengeluhkan uang gajinya yang kini lebih cepat habis. Ia mengaku kesulitan mengatur pengeluaran harian.

“Makan di burjo saja kerasa bedanya. Nasi telur yang dulu delapan ribu rupiah, sekarang sepuluh ribu. Belum lagi isi bensin motor buat bolak-balik kerja tiap hari. Gaji tidak naik, tapi pengeluaran buat bertahan hidup naik lumayan berasa,” keluhnya.

Kondisi Rendi adalah potret dari kelas menengah yang sedang tertekan. Dosen FEB UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, menyoroti tingginya kerentanan kelompok pekerja ini terhadap fluktuasi harga komoditas global, terutama Bahan Bakar Minyak (BBM).

Wisnu menghitung bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi membuat pengeluaran transportasi harian kelas menengah melonjak 15 hingga 20 persen. Situasi ini diperburuk oleh wacana kebijakan pembatasan BBM bersubsidi melalui sistem kode batang (barcode) yang terintegrasi dengan data pajak. 

Alhasil, kelas menengah berisiko dicoret dari daftar pembeli bensin bersubsidi.

“Kelompok kelas menengah yang rentan ini umumnya tidak menerima bantuan sosial. Ketika terjadi kenaikan harga secara signifikan, dampaknya bisa langsung terasa pada pengeluaran rumah tangga,” urai Wisnu.

Iklan

Saat kelas menengah seperti Rendi menghabiskan uang gajinya untuk kebutuhan dasar dan terpaksa berhemat, roda ekonomi nasional akan ikut melambat. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten mencatat bahwa lebih dari 50 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga.

Dampak pelemahan rupiah ke sektor ekonomi tingkat bawah

Ketika kelas menengah mengurangi makan di luar, membatasi jajan, atau menunda belanja pakaian, pelaku UMKM merasakan dampak langsungnya. Warung makan, kedai kopi, dan toko eceran kehilangan pembeli. Penurunan daya beli ini pada akhirnya memukul perekonomian dari tingkat paling bawah.

Beban ini juga menjalar ke industri skala besar. Laporan dan analisis dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) kerap memperingatkan bahwa lonjakan ongkos produksi memaksa perusahaan melakukan langkah efisiensi drastis. 

Langkah yang diambil beragam, mulai dari menunda penerimaan pegawai baru, memangkas uang lembur, hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Pekerja kelas menengah kini berhadapan dengan risiko ganda: tingginya pengeluaran hidup dan ancaman kehilangan mata pencaharian.

Masalah makin kompleks karena tekanan ekonomi ini turut membebani kas negara. Dosen FEB UGM, Muhammad Nabiel Arzyan, menyebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ikut tersedot oleh kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan Rupiah.

Berdasarkan realisasi pemerintah hingga akhir Mei 2026, serapan dana untuk menambal subsidi dan kompensasi energi sudah mencapai angka 45 persen dari total alokasi APBN tahun ini. Apabila kuota subsidi habis sebelum akhir tahun, pemerintah akan berhadapan dengan opsi sulit: menambah utang negara atau menaikkan harga BBM yang berisiko memicu inflasi lanjutan.

“Memang ini cukup unik dan masih memungkinkan berbagai skenario, apalagi harga minyak dan rupiah itu cukup terpengaruh,” kata Nabiel.

Untuk meredam dampak nilai tukar, Nabiel menyarankan agar pemerintah lebih mengoptimalkan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) saat berdagang dengan negara mitra. 

“Penggunaan mata uang lokal dapat menjadi salah satu mekanisme mitigasi risiko. Namun, isu nilai tukar rupiah pada dasarnya jauh lebih struktural,” tambahnya.

kelas menengah.MOJOK.CO
Penurunan daya beli akibat pelemahan nilai rupiah, pada akhirnya memukul perekonomian dari tingkat paling bawah. (Gambar: Emily N/Unsplash)

Menyikapi rentetan tantangan ekonomi ini, pemerintah dituntut untuk merumuskan kebijakan yang memberi kepastian. Dosen FEB UGM, Dr. Evi Noor Afifah, mengingatkan bahwa pelemahan Rupiah akan memengaruhi perekonomian secara luas. Dunia usaha yang tertekan akan mengurangi angka investasi, sehingga menghambat laju target pertumbuhan ekonomi.

Evi mendorong pemerintah agar lebih terbuka menyampaikan informasi terkait kondisi ketahanan energi dan langkah mitigasi yang disiapkan. Informasi yang valid sangat dibutuhkan oleh masyarakat awam dan pelaku bisnis untuk merencanakan keuangan mereka.

“Mungkin juga perlu ada arus informasi yang lebih kredibel, lebih terbuka,” saran Evi.

Kelas menengah membutuhkan kepastian di tengah ketidakstabilan harga, mengingat mereka berada di luar jaring pengaman sosial pemerintah. Jika daya beli dan ketahanan kelompok pekerja ini terus melemah, roda ekonomi akan kehilangan mesin penggerak utamanya. Target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah pun akan semakin jauh dari jangkauan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rupiah Anjlok, Pakar UGM Wanti-wanti Kenaikan Harga Sembako atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2026 oleh

Tags: Dolarharga naikkebutuhan hidupkenaikan hargapelemahan rupiahpilihan redaksiRupiahRupiah MelemahUGM
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan.MOJOK.CO
Seni

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus “Menyangkal”, Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan

10 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.