Akhir-akhir ini, saya jadi lumayan akrab dengan beberapa pengamen lampu merah di Jogja. Kebetulan, angkringan tempat kami sering menghabiskan malam itu sama.
Awalnya, interaksi kami cuma sebatas basa-basi. Cuma tegur sapa laiknya pengunjung angkringan pada umumnya. Namun, karena sering bertemu, obrolan kami perlahan jadi makin panjang dan mengalir.
Dari obrolan sambil ngopi itulah, saya jadi tahu kalau beberapa dari mereka aslinya bukan murni pengamen jalanan. Dulu, mereka rutin mencari uang dari panggung ke panggung.
Siang hari nyari tambahan receh di bangjo, nah, malam harinya baru tampil rapi membawakan lagu di kafe-kafe.
Namun, bisnis hiburan memang keras. Persaingan antarmusisi lumayan ketat. Beberapa dari kenalan saya ini perlahan tersisih karena pihak kafe lebih memilih menyewa band pengisi baru yang dianggap lebih pas.
Ujung-ujungnya, karena butuh pemasukan buat makan dan bayar kos, mereka pun memutuskan turun ke jalan secara full time. Mereka ngamen di lampu merah dari siang sampai malam.
Mendengar cerita itu, jujur saya kagum. Pantas saja setiap kali saya mendengar mereka nyanyi di lampu merah, rasanya beda.
Pengamen yang modal suara emas, bukan cuma modal nekat
Rasa penasaran saya soal kenapa suara mereka sangat bagus akhirnya terjawab. Beberapa pengamen di angkringan itu bercerita kalau dulu mereka pernah mengecap bangku kuliah jurusan seni musik di salah satu kampus di Jogja, meski akhirnya tidak selesai.
Ada juga yang latar belakangnya mantan anak band dan sudah sering manggung di berbagai acara.
Pantas saja, secara musikalitas mereka sangat rapi. Petikan gitarnya pas, ketukan cajon-nya enak, dan vokalnya sangat nyaman didengar. Mereka tahu cara mengambil nada tinggi tanpa harus teriak-teriak memekakkan telinga.
Berhenti semenit di lampu merah sambil mendengarkan mereka nyanyi rasanya seperti sedang menonton konser mini.
Kondisi ini otomatis membuat saya membandingkannya dengan pengamen di kawasan wisata, khususnya Jalan Malioboro. Dari pengalaman pribadi, memang ada satu atau dua pengamen di sana yang suaranya bagus.
Namun, jujur saja, kebanyakan dari mereka cuma modal nekat. Alih-alih menghibur pengunjung yang sedang duduk santai, kehadiran mereka malah terasa mengganggu.
Sengaja nyanyi jelek biar cepat diusir
Perasaan terganggu oleh pengamen Malioboro ini pernah dirasakan oleh Dipta (23), seorang mahasiswa kampus swasta di Jogja. Ia punya pengalaman yang bikin dirinya jadi malas nongkrong lama-lama di kawasan wisata tersebut.
Bagi Dipta, banyak pengamen di Malioboro yang sebenarnya datang bukan untuk “jualan” suara. Mereka sadar kalau suaranya pas-pasan, tapi malah sengaja menggunakan taktik “mengusir diri sendiri”.
Caranya, kalau kata Dipta, mereka akan bernyanyi dengan suara yang sengaja dijelek-jelekkan, asal-asalan, dan berisik. Tujuannya untuk membuat pengunjung merasa risih.
Saat pengunjung tidak tahan mendengar suara bising itu, mereka akan cepat-cepat merogoh kantong dan memberikan uang receh. Harapannya cuma satu, agar si pengamen segera pergi dari hadapan mereka.
Sebagai orang asli Jakarta, Dipta mengaku taktik model begini bukan hal yang mengejutkan. Di Jakarta pun banyak pengamen yang memakai cara serupa.
“Tapi kan ini di Malioboro, tempat wisata utamanya Jogja. Masa di satu kawasan yang sama, pengamen yang modelnya ganggu begini jumlahnya banyak banget? Kita baru duduk sebentar mau ngobrol, udah didatengin pengamen yang suaranya bikin sakit kuping,” keluh Dipta kesal.
Menurutnya, saat orang memberikan uang ke pengamen bermodel seperti ini, itu sekadar mencari ketenangan saja, bukan karena menghargai nyanyiannya.
Dihina oleh pengamen gara-gara uang receh habis
Selain perkara suara yang bikin risih, masalah paling fatal dari pengamen Malioboro adalah sikap mereka yang sering memaksa. Mojok sendiri pernah membuktikan kenyataan ini lewat sebuah liputan eksperimental beberapa waktu lalu berjudul “1 Menit Duduk di Jalan Malioboro Jogja: ‘Dipalak’ Gerombolan Pengamen, Diganggu Terus sebelum Dikasih Uang”.
Waktu itu, reporter Mojok mencoba duduk selama satu menit di salah satu kursi trotoar Malioboro. Hasilnya cukup bikin geleng-geleng kepala. Hanya dalam waktu 60 detik, ada sekitar tiga sampai empat pengamen yang datang silih berganti.
Polanya selalu sama: saat reporter memberi isyarat tidak bisa memberi uang, wajah para pengamen itu langsung berubah sinis, bahkan ada yang terang-terangan marah.
Saya pun pernah merasakan pengalaman tidak enak ini sekitar tahun 2024 lalu. Malam itu, selepas capek meliput aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer, saya dan beberapa kawan memutuskan mampir nongkrong sebentar di Malioboro untuk melepas lelah.
Awalnya suasana aman-aman saja. Beberapa rombongan pengamen yang datang pertama masih kami kasih uang. Namun, karena recehan di kantong kami benar-benar sudah habis tak bersisa, kami terpaksa menolak pengamen yang datang berikutnya. Kami menolaknya dengan sangat halus.
Bukannya maklum, salah satu dari pengamen itu malah membuang muka. Ia menatap kami dengan sinis dari atas ke bawah, lalu menyindir dengan suara yang lumayan keras, “Menuh-menuhin Jogja aja.”
Saya dan teman-teman cuma bisa diam sambil saling pandang. Untungnya malam itu kami sedang malas berdebat, jadi tidak sampai berujung ribut-ribut seperti video jotos-jotosan yang viral di media sosial baru-baru ini.
Namun, tetap saja, makian pendek itu sukses membuat kami langsung merasa tidak nyaman dan memilih untuk lekas pulang.
Pengalaman itu membuat saya semakin sadar mengapa saya lebih menyukai pengamen lampu merah. Teman-teman pengamen di angkringan itu, meski hidupnya pas-pasan dan harus berpanas-panasan di jalan raya, masih memegang etika. Kalau kita tidak memberi uang saat lampu menyala hijau, mereka cuma mengangguk, membalas senyum, lalu berjalan ke kendaraan lain tanpa sedikit pun melontarkan makian.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














