Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Agustus 2026
A A
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Ilustrasi - Pengamen (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Akhir-akhir ini, saya jadi lumayan akrab dengan beberapa pengamen lampu merah di Jogja. Kebetulan, angkringan tempat kami sering menghabiskan malam itu sama. 

Awalnya, interaksi kami cuma sebatas basa-basi. Cuma tegur sapa laiknya pengunjung angkringan pada umumnya. Namun, karena sering bertemu, obrolan kami perlahan jadi makin panjang dan mengalir.

Iklan

Dari obrolan sambil ngopi itulah, saya jadi tahu kalau beberapa dari mereka aslinya bukan murni pengamen jalanan. Dulu, mereka rutin mencari uang dari panggung ke panggung. 

Siang hari nyari tambahan receh di bangjo, nah, malam harinya baru tampil rapi membawakan lagu di kafe-kafe.

Namun, bisnis hiburan memang keras. Persaingan antarmusisi lumayan ketat. Beberapa dari kenalan saya ini perlahan tersisih karena pihak kafe lebih memilih menyewa band pengisi baru yang dianggap lebih pas. 

Ujung-ujungnya, karena butuh pemasukan buat makan dan bayar kos, mereka pun memutuskan turun ke jalan secara full time. Mereka ngamen di lampu merah dari siang sampai malam.

Mendengar cerita itu, jujur saya kagum. Pantas saja setiap kali saya mendengar mereka nyanyi di lampu merah, rasanya beda.

Pengamen yang modal suara emas, bukan cuma modal nekat

Rasa penasaran saya soal kenapa suara mereka sangat bagus akhirnya terjawab. Beberapa pengamen di angkringan itu bercerita kalau dulu mereka pernah mengecap bangku kuliah jurusan seni musik di salah satu kampus di Jogja, meski akhirnya tidak selesai. 

Ada juga yang latar belakangnya mantan anak band dan sudah sering manggung di berbagai acara.

Pantas saja, secara musikalitas mereka sangat rapi. Petikan gitarnya pas, ketukan cajon-nya enak, dan vokalnya sangat nyaman didengar. Mereka tahu cara mengambil nada tinggi tanpa harus teriak-teriak memekakkan telinga. 

Berhenti semenit di lampu merah sambil mendengarkan mereka nyanyi rasanya seperti sedang menonton konser mini.

Kondisi ini otomatis membuat saya membandingkannya dengan pengamen di kawasan wisata, khususnya Jalan Malioboro. Dari pengalaman pribadi, memang ada satu atau dua pengamen di sana yang suaranya bagus. 

Namun, jujur saja, kebanyakan dari mereka cuma modal nekat. Alih-alih menghibur pengunjung yang sedang duduk santai, kehadiran mereka malah terasa mengganggu.

Sengaja nyanyi jelek biar cepat diusir

Perasaan terganggu oleh pengamen Malioboro ini pernah dirasakan oleh Dipta (23), seorang mahasiswa kampus swasta di Jogja. Ia punya pengalaman yang bikin dirinya jadi malas nongkrong lama-lama di kawasan wisata tersebut.

Bagi Dipta, banyak pengamen di Malioboro yang sebenarnya datang bukan untuk “jualan” suara. Mereka sadar kalau suaranya pas-pasan, tapi malah sengaja menggunakan taktik “mengusir diri sendiri”. 

Caranya, kalau kata Dipta, mereka akan bernyanyi dengan suara yang sengaja dijelek-jelekkan, asal-asalan, dan berisik. Tujuannya untuk membuat pengunjung merasa risih. 

Saat pengunjung tidak tahan mendengar suara bising itu, mereka akan cepat-cepat merogoh kantong dan memberikan uang receh. Harapannya cuma satu, agar si pengamen segera pergi dari hadapan mereka.

Sebagai orang asli Jakarta, Dipta mengaku taktik model begini bukan hal yang mengejutkan. Di Jakarta pun banyak pengamen yang memakai cara serupa.

Iklan

“Tapi kan ini di Malioboro, tempat wisata utamanya Jogja. Masa di satu kawasan yang sama, pengamen yang modelnya ganggu begini jumlahnya banyak banget? Kita baru duduk sebentar mau ngobrol, udah didatengin pengamen yang suaranya bikin sakit kuping,” keluh Dipta kesal.

Menurutnya, saat orang memberikan uang ke pengamen bermodel seperti ini, itu sekadar mencari ketenangan saja, bukan karena menghargai nyanyiannya.

Dihina oleh pengamen gara-gara uang receh habis

Selain perkara suara yang bikin risih, masalah paling fatal dari pengamen Malioboro adalah sikap mereka yang sering memaksa. Mojok sendiri pernah membuktikan kenyataan ini lewat sebuah liputan eksperimental beberapa waktu lalu berjudul “1 Menit Duduk di Jalan Malioboro Jogja: ‘Dipalak’ Gerombolan Pengamen, Diganggu Terus sebelum Dikasih Uang”.

Waktu itu, reporter Mojok mencoba duduk selama satu menit di salah satu kursi trotoar Malioboro. Hasilnya cukup bikin geleng-geleng kepala. Hanya dalam waktu 60 detik, ada sekitar tiga sampai empat pengamen yang datang silih berganti. 

Polanya selalu sama: saat reporter memberi isyarat tidak bisa memberi uang, wajah para pengamen itu langsung berubah sinis, bahkan ada yang terang-terangan marah.

Saya pun pernah merasakan pengalaman tidak enak ini sekitar tahun 2024 lalu. Malam itu, selepas capek meliput aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer, saya dan beberapa kawan memutuskan mampir nongkrong sebentar di Malioboro untuk melepas lelah.

Awalnya suasana aman-aman saja. Beberapa rombongan pengamen yang datang pertama masih kami kasih uang. Namun, karena recehan di kantong kami benar-benar sudah habis tak bersisa, kami terpaksa menolak pengamen yang datang berikutnya. Kami menolaknya dengan sangat halus.

Bukannya maklum, salah satu dari pengamen itu malah membuang muka. Ia menatap kami dengan sinis dari atas ke bawah, lalu menyindir dengan suara yang lumayan keras, “Menuh-menuhin Jogja aja.”

Saya dan teman-teman cuma bisa diam sambil saling pandang. Untungnya malam itu kami sedang malas berdebat, jadi tidak sampai berujung ribut-ribut seperti video jotos-jotosan yang viral di media sosial baru-baru ini. 

Namun, tetap saja, makian pendek itu sukses membuat kami langsung merasa tidak nyaman dan memilih untuk lekas pulang.

Pengalaman itu membuat saya semakin sadar mengapa saya lebih menyukai pengamen lampu merah. Teman-teman pengamen di angkringan itu, meski hidupnya pas-pasan dan harus berpanas-panasan di jalan raya, masih memegang etika. Kalau kita tidak memberi uang saat lampu menyala hijau, mereka cuma mengangguk, membalas senyum, lalu berjalan ke kendaraan lain tanpa sedikit pun melontarkan makian.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Agustus 2026 oleh

Tags: Fenomena pengamen JogjaMasalah pengamen MalioboroPengamenpengamen jogjaPengamen lampu merah Jogjapengamen malioboropilihan redaksiSisi gelap Malioboro
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Green al-Maun dan Bagaimana Masjid Menjadi Sentral Dakwah Tauhid Lingkungan untuk Menciptakan Kesejahteraan Sosial

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.