Setiap kali saya pulang ke desa, pertanyaan dari para bocil dan sepupu di rumah selalu sama., “Mas, bawa Mie Gacoan nggak?”
Agak lain, memang. Tak seperti kebanyakan orang yang menagih bakpia, mereka justru menanyakan apakah saya membawa oleh-oleh mi pedas tersebut.
Bagi anak muda di desa, Mie Gacoan memang sudah naik kasta dan dianggap sebagai barang mewah. Rasa penasaran mereka dipompa setiap hari lewat video-video yang seliweran TikTok.
Saking mewahnya makanan ini, Lebaran lalu saya melihat sendiri ada 12 anak desa yang nekat motoran beramai-ramai ke Jogja. Mereka menempuh perjalanan darat dua jam lebih, menembus macet dan panasnya terik matahari arus mudik, sekadar demi menyiksa mulut memakan mie pedas tersebut.
Cerita itu saya tumpahkan dalam tulisan berjudul, “Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang ‘Menyiksa’ Mulut Mereka”.
Bagi mereka, jarak berjam-jam bukanlah hambatan asalkan rasa penasaran di lidah akhirnya terbayar lunas.
Rela antre demi bawa pulang mie yang berubah jadi keras
Pengalaman saya melihat kegilaan remaja desa pada mie viral ini ternyata juga sangat dirasakan oleh Wahyu (23). Mahasiswa asal Gunungkidul ini menjadikan Mie Gacoan sebagai barang bawaan wajib setiap kali ia pulkam pada akhir pekan.
Wahyu bercerita, perjuangan membawa mie ini dari Jogja sampai ke rumahnya lumayan menguras kesabaran. Sebelum memacu motornya ke kampung halaman, ia harus rela berdesak-desakan mengantre di gerai mie tersebut.
Setelah antrean panjang selesai dan pesanan di tangan, kantong plastik berisi tumpukan kotak mie itu ia cantelkan di gantungan dek motor. Ia lalu menempuh perjalanan nyaris dua jam melewati jalanan naik-turun dan berkelok.
“Nggak kebayang kan wujud mie udah kayak gimana,” kisah Wahyu beberapa waktu lalu.
Wahyu ingat betul wujud Mie Gacoan yang ia bawa. Uap panas dari mie matang membuat bagian dalam kotak plastik mengembun parah selama perjalanan. Begitu tutupnya dibuka, uapnya sudah hilang berganti hawa dingin.
“Mienya itu jadi kaku, melar, dan nempel jadi satu. Waktu diangkat pakai garpu, bentuknya nyetak kotak persis kayak batu bata. Pangsit gorengnya yang tadinya renyah juga sudah mleyot waktu ditarik,” imbuhnya.
Rasa nomor dua, yang penting bisa update status WA
Anehnya, melihat wujud mie yang sudah melar dan mencetak itu, adik-adik dan sepupu Wahyu sama sekali tidak protes. Mereka justru kegirangan menyambut bungkusan plastik tersebut.
Mie yang sudah lengket dan susah dipisahkan itu dipaksa diaduk menggunakan sumpit plastik bawaan. Mereka tetap menyantapnya dengan lahap, seolah itu adalah makanan paling enak sedunia. Padahal, secara logika, tekstur mie yang sudah dingin dan alot jelas jauh dari kata nikmat.
Ternyata, bagi anak-anak muda desa ini, urusan rasa adalah nomor dua. Ada ritual yang jauh lebih penting sebelum mie kaku itu masuk ke mulut: memotret Mie Gacoan.
“Dibikin story dong,” ujar Wahyu, seraya tertawa.
Kotak styrofoam berisi mie dan taburan ayam cincang itu difoto dari berbagai sudut, lalu diunggah ke status WhatsApp. Tujuannya, buat pamer ke teman-teman kalau mereka “sudah pernah” makan makanan hits dari kota.
Ada semacam kebanggaan dan validasi pergaulan yang didapat hanya dengan memamerkan bungkus makanan tersebut.
Peluang cuan dari fenomena Jastip Mie Gacoan
Tingginya rasa penasaran remaja desa ini rupanya ditangkap sebagai peluang bisnis oleh banyak perantau. Wahyu bercerita, di daerahnya kini sangat ramai fenomena jastip Mie Gacoan.
Banyak teman Wahyu sesama mahasiswa yang sengaja membuka pre-order (PO) di status WhatsApp beberapa hari sebelum pulang kampung. Mereka menawarkan siapa saja yang mau menitip beli makanan tersebut. Nanti, titik bertemunya bisa diatur saat si mahasiswa tiba dari Jogja.
“Tarif jastipnya lumayan. Harga per porsinya bisa dinaikkan lima ribu,” kata Wahyu.
Gilanya, meski harganya jadi jauh lebih mahal, dagangan jastip itu selalu ludes dipesan. Mereka sama sekali tidak peduli harus membayar lebih mahal untuk sekotak mie dingin yang bentuknya sudah sekaku batu bata.
Bagi Wahyu, fenomena ini adalah potret nyata betapa kuatnya pengaruh media sosial bagi gaya hidup anak-anak di desanya.
“Kadang kalau dipikir-pikir lucu juga. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga penasaran,” tutup Wahyu sambil tertawa.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Rzea
BACA JUGA: Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














