MOJOK.CO – Banyak yang mengenal Yamaha Sigma sebagai motor kelas bawah. Tak mengapa, karena motor ini paling berjasa dalam hidup saya.
Sepeda motor pertama saya datangnya lewat jasa kurir. Bukan dibungkus plastik kecil seperti paket skincare, tapi dipaketkan utuh satu unit, dikirim dari rumah di Pati ke Jogja lewat DHL. Ambilnya di kantor cabang dekat Tugu, salah satu titik paling ikonik di kota ini. Seolah motor itu ingin memulai debutnya di tempat yang pas. Motor itu Yamaha Sigma.
Yamaha Sigma saya berhiaskan kombinasi stiker biru, kuning, dan oranye yang berani untuk ukuran motor bebek era itu. Tapi justru warna-warna itu yang bikin motor ini gampang dikenali dari jauh, semacam identitas visual sebelum istilah “personal branding” jadi bahasa sehari-hari orang kantoran.
Menjemput motor pemberian bapak
Waktu itu saya masih kelas 3 SMA, menjelang kelulusan, status sudah bukan anak kos baru. Sudah nyaris tiga tahun saya merantau dan tinggal di Jogja, cukup lama untuk paham betul rasanya ke mana-mana tanpa kendaraan pribadi.
Selama itu saya mengandalkan bus kota, nebeng teman, atau membonceng siapa saja yang kebetulan searah. Sempat juga punya sepeda, tapi nasib saya sungguh malang. Maling menggondol sepeda saya. Ironisnya, sepeda itu saya parkir di garasi kos. Sebuah tempat yang seharusnya paling aman.
Jadi, ketika kabar Yamaha Sigma datang, wajar kalau saya heboh sendiri. Saya menjemput motor pemberian bapak itu bersama teman. Motor itu benar-benar masih dalam wujud paket besar, bukan motor siap pakai yang tinggal starter.
Maka, saya membongkar pembungkus Yamaha Sigma itu sendiri. Saya lepas kardusnya satu per satu sampai akhirnya wujud motornya kelihatan utuh. Rasanya seperti buka kado ulang tahun versi ekstra besar.
Yamaha Sigma ini adalah motor harian bapak di rumah. Kebetulan di rumah sudah ada Honda Legenda 2 yang lebih sering bapak pakai. Jadi, Yamaha Sigma ini yang akhirnya “dipensiunkan” ke Jogja untuk saya. Semacam suksesi motor keluarga, dari motor utama jadi motor cadangan, dari motor cadangan jadi motor kuliah.
Yamaha Sigma itu yang nyaris menganggur di awal
Ironisnya, begitu Yamaha Sigma sudah ada di tangan, saya justru jarang memakainya di masa-masa awal. Sekolah saya waktu itu dekat, cuma tiga menit jalan kaki dari kos. Jadi buat apa mengeluarkan motor dari garasi kalau jalan kaki saja sudah sampai. Yamaha Sigma itu lebih banyak terparkir manis, menunggu momentumnya sendiri.
Momentum itu datang saat acara kelulusan. Bapak datang ke Jogja khusus untuk menghadiri wisuda SMA saya.
Dan Yamaha Sigma akhirnya punya tugas resmi pertamanya, menjemput bapak di hotel tempat beliau bermalam. Kami berdua berangkat ke acara dengan mengenakan batik, motor kecil biru-kuning-oranye itu jadi kendaraan resmi kami hari itu.
Ada rasa haru tersendiri kalau mengingatnya sekarang. Yamaha Sigma yang dulunya kendaraan harian bapak, saya kendarai untuk mengantar bapak sendiri ke momen penting anaknya.
Setelah itu, Sigma kembali “istirahat” sebentar. Hanya keluar kandang untuk urusan administratif: daftar kuliah dan tes masuk. Fungsinya masih sebatas kendaraan situasional, belum jadi bagian dari rutinitas harian.
Yamaha Sigma menjadi andalan saya saat kuliah
Semua berubah begitu saya masuk kuliah. Yamaha Sigma itu naik jabatan, dari motor cadangan menjadi motor utama harian.
Rute yang saya tempuh cukup jauh untuk ukuran kota kecil seperti Jogja waktu itu, dari Karangwaru menuju kampus UMY di Gamping, Ringroad barat. Pulang pergi, kadang pagi sampai siang, kadang sampai sore, bahkan kadang sampai malam kalau ada urusan bersama teman. Sigma jadi saksi rutinitas anak kuliahan yang jam pulangnya tak bisa kamu tebak.
Ada dua hal kecil yang sampai sekarang masih lekat di ingatan, dan justru dua hal remeh inilah yang bikin motor ini terasa personal.
Pertama, suara tin tin tin khas Yamaha Sigma ketika lampu sein nyala. Suara itu jadi semacam penanda kehadiran. Orang di sekitar bisa tahu saya mau belok tanpa perlu melihat lampu sein. Cukup dengar bunyinya. Sepele, tapi entah kenapa suara itu yang paling gampang diingat dibanding detail teknis motor lainnya.
Kedua, spion. Ini yang menurut saya paling menarik karena berkaitan dengan tren jalanan Jogja era 2000-an yang, jujur saja, agak konyol. Waktu itu, banyak anak muda sengaja melepas salah satu spion, entah kanan atau kiri, biar terlihat lebih “gaul”.
Ada juga yang mengganti spionnya jadi yang ukurannya lebih kecil dari standar pabrik. Alasannya soal gaya, padahal fungsinya jelas mengorbankan keselamatan demi terlihat keren di jalan.
Saya sendiri, entah karena keras kepala atau memang belum kepikiran ikut tren, membiarkan kedua spion Yamaha Sigma tetap standar, mengembang sempurna seperti posisi tangan sedang berdoa.
Helm yang saya pakai pun helm standar bawaan motor. Bukan helm batok yang waktu itu jadi simbol gaul anak motor kampus.
Belakangan saya sadar, justru versi “kuno” dan “standar” ini yang jauh lebih nyaman dan lebih aman untuk harian. Spion lengkap bikin saya bisa melihat kondisi di belakang dengan jelas tanpa harus menoleh berlebihan.
Motor “kelas bawah” yang ternyata punya cerita panjang
Kalau menelusuri sejarahnya, Yamaha Sigma bukan sekadar motor keluarga tanpa nama besar. Ia pertama meluncur pada 1997 sebagai penerus Yamaha Alfa IIR.
Posisinya adalah sebagai motor bebek 2-tak entry level, satu kelas di bawah Yamaha F1Z yang kemudian dilanjutkan oleh F1-ZR. Dari sisi rangka dan mesin, Sigma sebenarnya masih satu platform dengan Alfa, hanya saja tampilannya lebih modern dan sedikit lebih meruncing.
Jadi, kalau dulu saya merasa Yamaha Sigma ini motor “biasa saja”, ternyata memang begitulah posisinya sejak awal. Ia motor rakyat, bukan motor gengsi.
Soal jeroan mesin, Sigma mengusung mesin 2-tak satu silinder berpendingin udara berkapasitas 102,1 cc, dengan tenaga sekitar 7,7 hingga 7,9 PS pada 7.000 rpm dan torsi sekitar 9 Nm di 6.000 rpm.
Angka ini jauh dari galak kalau membandingkannya dengan motor sport 2-tak sekelas F1-ZR yang tenaganya bisa mencapai 12 PS. Tapi, justru karena “pas-pasan” itulah Sigma terasa jinak dan gampang saya kendalikan buat anak SMA yang baru belajar bawa motor sendiri di jalanan Jogja.
Meski tergolong motor kelas bawah, Yamaha Sigma sudah punya electric starter. Ini fitur yang cukup keren untuk ukuran motor entry level di zamannya, serta sistem pengapian CDI yang lebih modern.
Ironisnya, motor yang secara teknis cukup mumpuni ini justru kalah pamor di pasaran. Harga jual Sigma waktu itu ada di kisaran Rp9 jutaan, setara dengan motor 4-tak sekelas Honda Legenda. Tapi, masyarakat justru mulai beralih ke motor 4-tak yang lebih irit dan bebas dari ribetnya mengisi oli samping.
Kalau saya pikir lagi, ini jadi semacam ironi ganda buat saya. Yamaha Sigma yang di zamannya sendiri kurang laku dan akhirnya “pensiun dini” dari pasar, justru jadi motor yang paling berjasa buat perjalanan pribadi saya.
Dari anak kos yang dulu cuma bisa mengandalkan bus dan boncengan, sampai akhirnya punya kendaraan yang benar-benar bisa saya andalkan setiap hari. Terima kasih Yamaha Sigma.
Penulis: Boy Nugroho
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi dan pengalaman berharga lainnya di rubrik Otomojok.














