Rasanya belum lama merasa bungah menyaksikan anak wisuda dengan toga sarjana di sebuah PTS Jogja. Namun, saat ini, seorang bapak harus ikut nelangsa kala menyaksikan sang anak tak kunjung dapat kerja meski dengan modal ijazah S1.
***
Sebenarnya bukan hal aneh ketika ada orang tua mengantar anak mendatangi sebuah event bursa kerja. Hanya saja, kata Suwandi, anak perempuannya merasa akan mempermalukan bapaknya jika Suwandi sampai harus ikut menyisir dari satu stand ke stand bursa kerja lain.
Itulah yang mendasari Suwandi hanya menunggu di luar Auditorium LPP Agro Nusantara dalam Job Fair 2026 di Kota Jogja, Rabu (15/7/2026) siang.
“Anak saya itu selalu berpikir udah bikin malu bapaknya karena sudah dikuliahkan tapi nggak dapat-dapat kerja,” ujar Suwandi saat saya jejeri untuk sebat bareng.

Kenangan bungah saat antar anak wisuda sarjana
Suwandi sempat tersenyum saat saya tanya anak perempuannya lulusan mana dan tahun kapan?
Setahun lalu anak perempuan Suwandi lulus dari Fakultas Ekonomi di sebuah PTS di Jogja. Suwandi ingat betul, sejak pagi buta anak perempuannya sudah bersiap untuk diwisuda—menyongsong gelar sarjana.
Sebagai bapak, Suwandi hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat momen tersebut. Ada rasa bangga karena sang anak akhirnya menuntaskan kuliahnya. Ada rasa haru karena Suwandi ternyata mampu membiayai penuh biaya perkuliahan sang anak selama 4 tahun.
“Waktu itu saya sewakan mobil milik kerabat lah. Dari rumah saya antar sama ibu dan adiknya,” kenang Suwandi, pria asal Kota Jogja tersebut.
“Habis wisuda dia juga kelihatan bahagia sekali. Foto-foto sama teman-temannya, terus kami diajak foto di studio,” sambungnya. Foto momen wisuda tersebut bahkan Suwandi pajang dengan percaya diri di ruang tamu rumahnya.
Setahun susah kerja hingga turunkan foto wisuda sarjana
Kebahagiaan momen wisuda ternyata hanya bertahan beberapa hari. Setelahnya anak Suwandi justru tampak selalu murung. Penyebabnya, ijazah S1 yang dimiliki dari sebuah PTS Jogja ternyata tidak kunjung laku untuk dilirik perusahaan.
Suwandi sebenarnya tidak menekan anaknya untuk lekas dapat kerja. Toh Suwandi masih sanggup bekerja. Hanya saja, anak perempuan pertamanya tersebut terus-menerus merasa gagal.
“Jadi sensitif. Kalau ada orang tanya kesibukan dia sekarang apa, itu dia langsung mbesengut,” ungkap Suwandi.
Bahkan, enam bulan setelah lulus kuliah, karena masih susah cari kerja, anak perempuannya tersebut sampai mencopot foto wisuda sarjana yang terpajang di ruang tamu. Foto kecil yang semula terpajang di meja kamarnya pun ikut disembunyikan.
“Pas ibunya nanya kenapa disembunyikan semua? Katanya malu karena punya gelar sarjana aja tapi nggak kepakai buat apa-apa,” beber Suwandi.
Suwandi dan ibunya pun sudah berkali-kali menghibur: kalau belum dapat kerja berarti memang belum rezeki. Toh orang tua juga tidak mempermasalahkan. Tapi tidak mempan. Anak perempuannya itu makin hari makin terpuruk karena katanya setiap lamaran kerja yang dikirimkan ke perusahaan tidak kunjung ada balasan.

Nekat mau kerja di pabrik rokok, tapi ditentang
Pada awal tahun 2026 lalu, anak Suwandi sebenarnya mendapat panggilan kerja dari sebuah pabrik rokok. Katanya mendaftar di bagian pengemasan.
Dengan setengah putus asa, anak Suwandi minta izin agar diperbolehkan kerja di pabrik rokok tersebut.
“Kalau saya nggak masalah. Karena pikir saya, daripada stres mikir nggak kerja-kerja. Tapi ibunya nggak boleh,” jelas Suwandi.
“Kalau ibunya itu eman. Ibunya malah lebih rela anaknya nggak kerja daripada jadi buruh di pabrik rokok,” imbuhnya.
Ya sudah, akhirnya anak Suwandi kembali berkutat pada laptopnya di kamar. Katanya sudah puluhan lamaran kerja ia kirim.
“Tapi sudah ada beberapa yang pernah wawancara kerja. Karena dia beberapa kali pamit minta doa buat wawancara. Ada yang wawancara di laptop (online), ada juga yang datang ke kantor. Salah satunya saya pernah ngantar yang di kantor,” papar Suwandi. Hanya memang belum rezeki bagi anak Suwandi.
Pertama kali ke job fair: modal ijazah SMA, singkirkan ijazah S1
Untuk job fair, setahu Suwandi, hari itu adalah kali pertama sang anak coba-coba mengikuti.
Di Jogja sendiri sebenarnya sudah beberapa kali ada job fair. Hanya saja anak Suwandi mengaku malu kalau harus ikut job fair. Karena baginya, job fair itu isinya orang-orang yang sudah mentok.
“Ini tadi saja pakai masker bilangnya malu. Mau diantar ke dalam juga nggak mau bilangnya takut saya malu. Padahal saya tadi lihat banyak kok (yang diantar orang tuanya juga). Yang laki-laki diantar ibunya cari kerja juga ada,” ujar Suwandi.
“Tadi di motor dia cerita, katanya menyiapkan dua lamaran (cv). Satu ijazah S1, satu ijazah SMA. Katanya, sepertinya ijazah SMA sekarang lebih mudah cari kerja. Minimal jadi karyawan Indomaret,” tambahnya.

Ada perasaan nelangsa di batin Suwandi. Bukan karena ia kecewa karena setelah wisuda sarjana sang anak susah cari kerja. Tapi lebih karena melihat sang anak yang terbebani dengan ijazah S1-nya: merasa tidak berguna jika tidak kunjung dapat kerja, sampai ke job fair pun turut mengandalkan ijazah SMA.
Sayangnya, meski Suwandi berkali-kali memberi pengertian pada sang anak, tapi sang anak masih terus terbebani. “Mungkin karena lihat ada temannya kuliah dulu yang sudah kerja, atau lihat tetangga kami yang cuma lulusan SMA tapi sudah kerja,” tutup Suwandi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: 300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard” Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














