Seolah tak ada waktu jeda untuk berleha-leha, sarjana muda di Jogja buru-buru mencari kerja meski tidak sesuai dengan jurusan kuliah mereka. Di tengah ekonomi yang serba tidak pasti, kesulitan mencari kerja menjadi tantangan nyata, alih-alih mengejar mimpi yang ideal.
Sarjana muda gusar mencari kerja
Aya (23), seorang sarjana muda sibuk mengitari hampir seluruh booth di Job Fair Kota Yogyakarta 2026. Sebagai alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Jurusan Sosiologi, Aya berujar saat ini target kariernya tidak muluk-muluk.
“Harapannya sih bisa kerja di bidang layanan masyarakat, tapi sekarang nggak terlalu spesifik, yang penting bisa dapat kerja aja,” kata Aya yang berhasil mengunjungi 10 booth dari sekitar 29 perusahaan di Job Fair Kota Yogyakarta 2026 pada Rabu (16/7/2026).
Aya tak menampik informasi di media sosial cukup memengaruhinya dalam mencari pekerjaan. Misalnya, tren soal “in this economy” yang mendesak perusahaan harus efisiensi dan melakukan lay off ke pegawainya.
“Mau nggak mau, sebagai orang yang terbilang nol pengalaman, aku bakal lebih susah buat melamar. Akhirnya, kita pun harus cari pengalaman di tempat lain, sebelum akhirnya apply ke perusahaan yang ingin kita tuju,” jelas Aya.
Senada dengan Aya, sarjana muda seperti Fitri (23) yang baru saja menyelesaikan sidang skripsi Jurusan Manajemen di Universitas Gadjah Mada (UGM) mengaku buru-buru mencari kerja walaupun belum diwisuda.
“Aku sih inginnya kerja di bidang sumber daya manusia (SDM) atau HR, tapi satu bulan ini aku sudah gusar cari kerja dan belum dapat juga. Jadi menurutku sekarang, terabas aja sih apapun kesempatannya,” kata Fitri.
Kerja apa saja boleh, asal gaji oke
Pengalaman pertama Fitri mengikuti job fair secara offline pun tak sia-sia. Setelah mengitari beberapa booth, Fitri mengaku dapat informasi tambahan yang barangkali tidak dia dapatkan dari sekadar mencari kerja lewat online.
Salah satu perusahaan yang bikin dia tertarik adalah Teleperformance, yakni perusahaan multinasional asal Prancis yang bergerak di bidang Business Process Outsourcing (BPO), khususnya layanan customer experience dan contact center.
“Kayaknya jadi customer service juga menarik, bisa melayani banyak orang,” ucap sarjana muda tersebut.
Begitu pula Aya yang lebih merasa lega karena bisa datang offline ke acara job fair. Dari sana, dia bisa tanya-tanya langsung ke perusahaan soal syarat dan tugas yang mereka butuhkan, yang ternyata jauh lebih fleksibel dari apa yang dicantumkan.
“Soalnya bisa aja di iklan atau posternya mereka mencantumkan tugas secara umum, padahal ada tugas-tugas lain yang lebih spesifik,” jelas Aya.
Baik Aya maupun Fitri berujar, meski pekerjaannya nanti tidak sesuai dengan jurusan kuliah mereka, keduanya berharap gajinya setimpal dengan tugas-tugas yang mereka kerjakan nanti.
Sarjana muda boleh coba-coba, yang tua jangan
Berbeda dengan Aya dan Fitri, bagi Liza (28) yang sudah punya modal ijazah D3 Jurusan Bisnis, dia tetap keukeuh memilih kerja di bidang administrasi atau digital marketing.
“Aku pribadi memang fokus ke posisi yang aku mau, yang kira-kira sesuai sama pengalamanku. Terus aku lihat juga nih status perusahaannya, kalau outsourcing aku skip dulu,” jelas Liza yang sudah bukan lagi sarjana muda.
Liza bukannya picky, tapi berdasarkan pengalaman teman-temannya yang kerja di bidang outsourcing, banyak dari mereka yang statusnya tidak tetap dan kena PHK. Sehingga, jaminannya pun tidak pasti.
“Kalaupun harus nyebrang (tidak sesuai dengan jurusan kuliah atau pengalamannya selama ini), kayaknya jangan jauh-jauh ya karena untuk memulai lagi dari nol kok rasanya nggak ada waktu lagi untuk belajar, dibanding mereka yang masih duduk di bangku sekolah,” jelas Liza.
“Sebenarnya nggak ada yang telat, tapi aku pribadi lebih mengurangi risiko gagal. Nah, kalau buat teman-teman yang usianya masih di awal 20-an, menurutku bagus banget kalau mau coba-coba,” lanjutnya.
Syarat khusus yang berpeluang besar dipilih rekruter
Dosen Sosiologi Universitas Padjadjaran, Desi Yunita, berujar anak muda yang bergelar sarjana artinya sudah terkualifikasi memiliki penalaran dan keahlian di bidangnya. Skill interpersonal itulah yang seharusnya lebih dihargai oleh para rekruter.
Namun, ada satu hal yang perlu diyakini sarjana muda yakni penilaian perusahaan terhadap kepribadian. Misalnya, kepiawaian mereka dalam bersikap. Desi berujar, sarjana muda sebaiknya tidak melupakan etika dasar.
Oleh karena itu, alih-alih berputus asa mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya, sarjana muda sebaiknya tidak berhenti menggagas diri.
“Tampilan atau bungkus bisa berubah, tetapi pribadi berkarakter dan skill interpersonal ini lebih dipilih untuk bekerja, minimal modal itu sangat penting,” ujar Desi dikutip dari Kompas.id, Kamis (23/7/2026).
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














