Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
19 Mei 2026
A A
Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO

ilustrasi - anak muda pilih side hustle. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Laporan dari Deloitte Global 2026 Gen Z and Millenial Survei menunjukkan anak muda kini punya cara pandang karier yang berbeda. Mereka sudah tak melihat jabatan tinggi sebagai sesuatu yang menggiurkan, tapi lebih suka pertumbuhan yang bertahap. 

Dengan kata lain, mereka mereka tidak keberatan menunda promosi jabatan guna memperbanyak pengalaman yang membawanya pada kesuksesan jangka panjang. Intinya, mereka lebih mengutamakan stabilitas, keterampilan, dan kesejahteraan dalam hidup daripada kemajuan karier. 

“Temuan tahun ini menunjukkan bahwa generasi ini mudah beradaptasi, pragmatis, dan memiliki tujuan yang jelas dalam mencapai kemajuan, bahkan ketika ekonomi dan perubahan teknologi yang pesat membuat tantangan hidup jadi semakin berat,” ujar Chief People & Purpose Officer Global Deloitte, Elizabeth Faber dikutip Senin (18/5/2026).

Bukan tanpa alasan, laporan Deloitte menjelaskan kalau tren ‘mungkin nanti’—termasuk naik jabatan pada anak muda dipengaruhi oleh tekanan biaya hidup. Dari 22.500 responden yang terdiri dari generasi Z dan milenial di 44 negara, hanya 6 persen dari Gen Z dan milenial yang mau mencapai posisi kepemimpinan sebagai tujuan dari karier.

Sementara itu, sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial memilih menunda keputusan penting dalam hidup, seperti memulai keluarga, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis karena situasi keuangan mereka.

Anak muda pilih side job daripada naik jabatan

Fani Brahmantio (26) adalah salah satu orang yang memilih stabilitas dan kesejahteraan dalam hidup. Alumnus Universitas Sriwijaya (UNSRI) ini memutuskan buka toko kelontong dekat rumahnya, alih-alih melanjutkan kariernya sebagai pegawai bank di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

“Pada dasarnya aku orang yang suka berbisnis dan tipikal orang yang nggak bisa stuck di satu tempat. Kemudian aku sadar, dunia bisnis memang tempatku dan aku juga menyukai dunia kreatif,” kata Fani.

Seperti yang dilaporkan Deloitte, selain pragmatis, anak muda cenderung ambisius dan realistis memikirkan keuangannya. Alih-alih terpatok pada gaji bulanan yang pasti serta karier yang berjenjang, Fani justru mencari penghasilan lain.

Dengan membuka toko kelontong, ia dapat fleksibel mengambil tugas lain seperti kerja remote. Salah satunya menjadi social media manager dan influencer outreach dari sebuah brand di luar negeri.

Lewat side hustle seperti sekarang, tak pelak, penghasilannya pun jadi lebih besar ketimbang pegawai bank dulu. Pada akhirnya, Fani pun termakan oleh kalimat anak muda sekarang: mending banyakin side job daripada naik jabatan karena tanggung jawabnya pasti ikut nambah. 

Anak muda tolak tanggung jawab berlebih

Begitu pula Abdi Nastiar (23), salah satu anak muda yang melepaskan promosi jabatannya di perusahaan Kereta Api Indonesia (KAI). Abdi yang awalnya bekerja sebagai pramugara jalur Solo-Jakarta, setahun kemudian diangkat sebagai ketua tim.

Namun, baru beberapa bulan menjabat, pemuda asal Solo itu memutuskan resign. Selain karena tanggung jawabnya yang berat, Abdi berujar lingkungan kerjanya juga kurang nyaman.

“Sebenarnya kalau soal gaji lumayan, malah lebih besar dari yang sebelumnya. Sekitar Rp5 juta, tapi fisik dan mental jadi tak karuan. Seringkali aku harus menginap di Jakarta dengan biaya hidup yang mahal. Bukannya cepat kaya, tabunganku malah sering minus dan harus nombok karena kerjanya harus bolak-balik Solo-Jakarta,” jelas Abdi.

Pada akhirnya, Abdi memutuskan resign dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut. Ia memilih menjaga kesehatan mentalnya ketimbang naik jabatan.

Iklan

“Aku merasa jenuh dan nggak berkembang, seperti hampa dan kehilangan sesuatu dalam diri sejak dari Jakarta,” ujar Abdi. 

Kini, Abdi justru menemukan jalan lain dengan bekerja sebagai fotografer di Bali. Bahkan ia mendapat income yang lumayan, yakni sekitar Rp15 juta dalam sebulan dari satu proyek yang ia peroleh. Ini belum pekerjaan lainnya, seperti editor atau content creator.

Efek dari tekanan ekonomi dan perubahan teknologi

Kejadian yang dialami oleh Fani dan Abdi juga membuktikan temuan Deloitte, bahwa sebagian anak muda lebih memprioritaskan kemajuan yang stabil daripada promosi cepat. 21 persen Gen Z dan 20 persen milenial bahkan bersedia untuk pindah posisi atau mundur selangkah untuk menemukan peran yang tepat.

Sebab anak muda alias Gen Z dan milenial kini tak mau menanggung stres dan tanggung jawab yang berlebihan. Mereka khawatir tugas seorang pemimpin bikin mereka kelelahan, sehingga tidak bisa mewujudkan work life balance walaupun kehadiran AI sebenarnya dinilai sudah cukup membantu.

Masalahnya diperparah dengan fenomena kelelahan digital akibat penggunaan teknologi yang dipakai terus-menerus, pergantian tools dan beragam platform yang punya karakter masing-masing.

Kejadian ini dialami langsung oleh Dewi Apriani (30). Lulusan S2 yang pernah kerja di sebuah perusahaan IT itu, kini menyibukkan diri menjadi peternak ayam di Kabupaten Bogor.

Dewi berujar pernah berdiskusi dengan atasannya soal masa depan teknologi dan energi listrik di tengah maraknya kasus PHK. Saat itulah dia berpikir, pekerjaan apa yang sekiranya tidak bisa digantikan oleh robot maupun AI tapi tetap dibutuhkan manusia yakni sektor pangan.

Anak muda pilih bergerak maju dengan bijaksana

Apa yang dilakukan Dewi bukan tanpa alasan. Ia mengaku sudah mempertimbangkan betul pilihannya. Bahkan menurutnya, sekarang ia lebih bahagia dengan beternak dan mendirikan DeW Farm—usaha urban farming yang turut mengintegrasikan budidaya sayur dan buah.

“Segala sesuatu yang hidup tidak akan punah. Maka saya memilih fokus pada hal yang berkelanjutan: pangan,” ucap lulusan S2 IT tersebut.

Prinsip Dewi senada dengan apa yang dikatakan Elizabeth Faber, bahwa anak muda cenderung beradaptasi dengan menuntut ketahanan sejak dini dan terus menerus. Generasi ini, kata dia, memilih bergerak maju dengan bijaksana, selektif, dan sesuai keinginan mereka sendiri.

“Ini menggarisbawahi realitas yang lebih luas: apa yang dibutuhkan, diinginkan, dan diharapkan dari pekerjaan oleh generasi, akan terus berkembang. Dan organisasi yang mampu mengikuti perkembangan tersebut adalah organisasi yang bersedia berkembang bersama mereka,” tegas Elizabeth.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2026 oleh

Tags: anak mudaGen Zgenerasi mudajenjang karierjob sidekarier elitekejar jabatanmilenialresign
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO
Urban

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Mendalam

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.