Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Juli 2026
A A
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Ilustrasi - Tahlilan (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi masyarakat desa, tradisi tahlilan memiliki posisi yang sangat penting. Perdebatan soal hukum agama terkait acara ini memang selalu ada. Sebagian masyarakat juga menilai acara ini membebani tuan rumah karena harus menyiapkan makanan. 

Namun, bagi para tetua desa, tahlilan tetap dipertahankan karena alasan yang jauh lebih besar: ini adalah ruang pertemuan paling ampuh untuk merekatkan kerukunan.

Iklan

Sayangnya, kebiasaan ini perlahan mulai bergeser. Anak-anak muda, khususnya Gen Z, perlahan menyingkir. Mereka lebih suka berdiam diri di kamar masing-masing. Kalaupun terpaksa datang karena didorong oleh orang tua, mereka biasanya hanya nongkrong di dapur bersama anak muda lainnya.

Perubahan gaya bersosialisasi ini mulai sering menjadi bahan obrolan para sesepuh desa. Sunar (40), Ketua Karang Taruna di desa saya, adalah orang yang paling sering mendengar curhatan bapak-bapak soal kelakuan anak muda sekarang.

Hilangnya ruang srawung

Di desa saya, acara tahlilan sebenarnya baru benar-benar hidup ketika lantunan doa selesai dan suguhan teh panas keluar dari dapur. Di momen inilah warga melakukan srawung. 

Bapak-bapak akan duduk santai berjam-jam membicarakan banyak hal. Mulai dari jadwal siskamling, ngobrolin penyakit, bahkan kerap juga bicara soal politik.

Sunar sering mendapat keluhan soal ketidakhadiran anak muda di “forum” ini. Para orang tua merasa heran melihat anak muda sekarang begitu canggung kalau disuruh duduk membaur bersama bapak-bapak.

“Anak muda sekarang susah kalau disuruh duduk di depan. Padahal kumpul sesudah doa itu penting banget buat srawung,” kata Sunar, menceritakan kegelisahannya tatkala saya temui saat momen lebaran lalu.

“Ada anak karang taruna yang sama sekali tidak tahu kalau tetangga masuk rumah sakit. Ya wajar saja dia nggak tahu, soalnya dia tidak pernah srawung. Informasi di desa itu bergeraknya ya dari obrolan sehabis yasinan ini,” imbuh Sunar panjang lebar.

Saya sering melihat sendiri fenomena ini. Ruang tengah yang seharusnya menjadi tempat bertukar kabar sama sekali kosong dari wajah pemuda belasan tahun. 

Akibatnya sangat jelas. Mereka terputus dari informasi lingkungan sekitar. Mereka menjadi generasi yang tidak tahu urusan desa dan semakin tidak peka dengan kondisi tetangganya. 

Padahal, bagi saya, obrolan santai di atas tikar setelah tahlilan itulah wadah utama untuk belajar peduli pada lingkungan dan memahami cara orang desa menyelesaikan masalah secara musyawarah.

Dapur jadi tempat aman buat “menghindar”

Anak muda yang masih mau datang ke rumah duka rata-rata punya motif tersendiri. Mereka menghindari pintu depan, memilih masuk lewat pintu samping, dan langsung menempatkan diri di dapur. 

Alasan utamanya terdengar mulia: ikut rewang atau membantu tuan rumah menyiapkan konsumsi. Mereka biasanya sibuk merebus air, menata gelas teh, menyajikan makanan, atau sekadar mengedarkan asbak ke ruang depan.

Iklan

Menurut Sunar, alasan membantu itu perlahan berubah fungsi menjadi sekadar tameng. Dulu, orang yang rewang di dapur tetap ikut mengobrol dan menyimak pembicaraan dari ruang depan. Sekarang, suasananya jauh berbeda.

“Boro-boro ikut tahlilan. Mereka merasa sudah gugur kewajiban karena ikut bantu bikin minum di belakang. Selesai bawa nampan ke depan, mereka langsung balik kanan ke dapur,” ungkapnya. 

“Mereka pikir tugas bersosialisasinya sudah selesai sampai di situ. Padahal, orang tua di depan itu ingin anak-anak ini ikut duduk dan ikut nimbrung obrolan, minimal mendengarkan.”

Kenyataan di lapangan memang persis seperti keluhan Sunar. Dapur kini berubah menjadi tempat pelarian yang paling aman bagi Gen Z.

Tugas meracik teh atau menata jajanan pasar biasanya diselesaikan dalam waktu yang sangat cepat. Setelah semua beres, mereka akan membuat lingkaran kecil di pojok ruangan. 

Masing-masing segera mengeluarkan ponsel dari saku, membuka aplikasi game online, dan asyik mabar sampai acara selesai.

Mereka memang hadir secara fisik di rumah duka. Namun, pikiran dan perhatian mereka sama sekali tidak ada di tempat itu. 

Krisis generasi penerus tahlilan

Dampak paling menakutkan dari pergeseran gaya hidup ini adalah ancaman putusnya generasi perawat tradisi. Setiap kali Sunar mencoba mengajak anak-anak muda ini pindah ke ruang tengah, mereka selalu punya seribu alasan untuk menolak. 

Mulai dari alasan malu, takut ditanya-tanya, sampai alasan tidak hafal urutan doanya.

Keengganan ini menyuarakan ketakutan para orang tua di desa dengan sebuah gambaran yang sangat sederhana, tapi tajam.

“Coba kamu perhatikan sendiri. Yang duduk di ruang tengah, yang pegang buku Yasin itu umurnya berapa rata-rata? Pasti di atas lima puluh tahun semua. Lha, terus sepuluh tahun lagi, siapa yang bakal memimpin doa kalau orang-orang tua ini sudah pada meninggal?” keluh Sunar.

Pertanyaan itu selalu membuat saya ikut merenung setiap kali hadir di acara tahlilan warga. Di barisan karpet depan, hampir tidak ada anak muda yang ikut membaca doa. Anak muda seolah terlalu nyaman menjadi penonton di belakang layar, dan enggan mengambil peran untuk belajar memimpin sebuah perkumpulan dari para tetua.

“Kalau anak-anak muda ini terus-terusan bersembunyi di dapur dan main HP, tradisi kumpul warga ini lama-lama bisa mati sendiri,” tutup Sunar.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tahlilan Jadi Beban Fisik dan Mental bagi Perempuan: Tidak Diberi Ruang Berduka karena Tuntutan Amplop hingga Suguhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: anak mudaanak muda desabudaya tahlilanDesaGen Zgen z di desapilihan redaksitahlilantahlilan di desayasinan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Sekolahan

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Andromeda dan bajaj. MOJOK.CO

Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat

24 Juli 2026
Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang MOJOK.CO

Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang

27 Juli 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.