Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Jagat

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 Agustus 2026
A A
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Ilustrasi cuaca ekstrem. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kegiatan memanen air hujan masih dijumpai di perdesaan, seperti sebagian wilayah Gunungkidul, Wonogiri, hingga Bojonegoro. Sayangnya, budaya ini dianggap jorok dan terbelakang. Padahal, ia bisa menyelamatkan kita dari krisis kekeringan ekstrem akibat El Nino.

***

Iklan

Fenomena El Nino dengan intensitas curah hujan di bawah normal tengah memanggang sebagian besar wilayah Indonesia. Dari Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga selatan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, krisis air kini menjadi ancaman nyata. 

Dampak berantai pun tak terhindarkan. Mulai dari produksi pertanian terancam gagal panen, risiko kebakaran hutan melonjak tajam, hingga merebaknya ragam penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Merespons krisis yang berulang ini, Pakar Hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Maryono, melontarkan sebuah autokritik. Menurutnya, krisis air di musim kemarau saat ini sejatinya adalah konsekuensi langsung dari kelalaian kita sendiri saat musim hujan tiba.

“Kekeringan itu adalah dampak dari kelalaian kita melakukan sesuatu di musim hujan. Akibatnya, pada musim kering kita kebingungan mencari air,” tegas Agus dalam lokakarya bertajuk “Metode dan Teknologi Mitigasi Kekeringan” di UGM, Jumat (14/8/2026) kemarin.

Agus menekankan bahwa masyarakat sering kali melihat musim hujan dan musim kemarau sebagai dua fenomena yang terputus. Paradigma lama sistem drainase kita selalu berfokus pada bagaimana membuang air hujan secepat mungkin ke laut agar tidak banjir. 

Padahal, pemikiran itulah yang menjadi akar masalah.

Kualitas air hujan lebih bagus dari sumber air di darat

Di saat banyak pihak meremehkan air hujan, Agus justru membeberkan fakta sebaliknya. Kualitas air hujan sejatinya sangat luar biasa, bahkan melampaui kualitas air sungai maupun sumber air permukaan lainnya di darat.

Secara ilmiah, air hujan memiliki struktur molekul yang lebih kecil karena belum terkontaminasi atau tertempel berbagai mineral dari tanah. Hal ini membuatnya jauh lebih cepat diserap dalam proses metabolisme makhluk hidup. 

“Kalau kita minum air hujan, rasanya akan lebih cepat segar dibandingkan meminum air biasa,” jelasnya.

Sayangnya, praktik memanen air hujan sering disalahpahami sebagai tradisi tertinggal. Padahal, negara maju seperti Australia telah lama menjadikan sistem panen air hujan sebagai tulang punggung pasokan air bersih mereka, baik di kawasan perkotaan maupun pedesaan. 

Iklan

Di Indonesia, praktik adaptif serupa sebenarnya sudah mulai dilakukan di daerah kering seperti Bojonegoro dan sebagian besar wilayah di Gunungkidul.

Harus “memanen” secara masif karena manfaatnya sangat besar

Lantas, bagaimana cara kita membayar kelalaian tersebut? Menurut Agus, solusinya adalah memanen hujan secara masif. 

Di kawasan perkotaan, warga bisa menyulap sumur-sumur tua yang tak lagi terpakai menjadi sumur resapan. Air yang jatuh dari genting rumah ditampung terlebih dahulu dalam bak, disaring, lalu sisa kelebihannya diinjeksi atau dimasukkan kembali ke dalam tanah.

Gerakan kolektif semacam ini, jika dilakukan bersama-sama, tidak hanya akan menghentikan penurunan muka air tanah yang makin kritis, tetapi juga ampuh meredam banjir. Upaya ini pun harus diikuti oleh sektor-sektor raksasa peminum air tanah, seperti industri, perhotelan, dan perkantoran. Mereka wajib ikut menampung dan meresapkan air hujan sebagai bentuk timbal balik kepada alam.

Sementara itu, untuk sektor pertanian dan wilayah perdesaan, Agus mendorong kebangkitan kembali tradisi kolam tampung atau embung desa. Setiap desa wajib menahan air hujan agar tidak langsung lenyap meninggalkan permukiman.

Manfaatnya pun berlipat ganda. Di Bantul, masyarakat telah membuktikan bahwa air hujan yang ditampung tidak hanya menyelamatkan tanaman saat kemarau, tetapi juga sangat baik digunakan untuk budi daya perikanan, seperti memelihara ikan lele dan mujair.

Menghadapi sisa musim kemarau saat ini, Agus menyarankan masyarakat untuk lebih aktif dan mandiri mencari sumber air alternatif yang bersembunyi di bawah permukaan, seperti di sekitar aliran sungai, danau, rawa, hingga merawat kembali mata air yang terbengkalai.

“Orang harus mulai berpikir bahwa hujan dan kemarau itu adalah satu kesatuan sistem. Kalau tidak ingin bermasalah dan menderita di musim kemarau, maka pada musim hujannya kita harus banyak menampung air,” pungkasnya memberikan peringatan keras.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2026 oleh

Tags: Air hujanDesaEmbung desahidrologiManajemen air hujanmemanen air hujanMitigasi kekeringan El Ninopilihan redaksisiklus hidrologiSolusi bencana kekeringansumur resapan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.