Yogyakarta – Riuh rendah tepuk tangan penonton di Akademi Bahagia sore itu menjadi pembuka sebuah acara yang tak biasa.
Dalam gelaran podcast Sebat Dulu Live on Stage, panggung sore itu tak hanya menjadi ruang percakapan, tetapi juga tempat musik, hadroh, dan pesan kemanusiaan bertemu dalam satu panggung.
Kelas Urup dan Tetap Menjaga Kewarasan
Sesi diskusi kemudian menjadi pembuka perjalanan sore itu. Duet host Alit jabang bayu dan Patub Letto bersama dengan Kunto AJi.
Ditengah gempuran media sosial yang sering kali menjadi sumber noise tertinggi bagi Gen Z, Kunto Aji membagikan rahasia pribadinya dalam menjaga mental dengan membatasi diri dari dunia maya dan membuat ruang-ruang kecil di dunia nyata.
Salah satu ruang yang lahir dari gagasan tersebut adalah Kelas Urup, sebuah program yang kini telah memasuki tahun ketiganya.
“Urup itu awalnya perpanjangan dari album Mantra-Mantra. Kita pengen merayakan resolusi tahun baru—termasuk memperbaiki jam tidur—dengan menyambut matahari pertama di alam terbuka bersama orang-orang satu frekuensi,” jelas Kunto.
Di tahun ketiga ini, urup hadir dengan DNA yang lebih matang dan konsep kegiatan yang terkurasi ketat. Mulai dari meditasi sore hingga terapi frekuensi suara. Bagi Kunto, wadah ini menjadi tempatnya berekspresi secara organik tanpa harus diburu-buru oleh tuntutan industri.
Yogyakarta Hadroh Klan (YKHC): Dari Improvisasi Jogokaryan hingga “Penjaga Akidah”
Kejutan terbesar malam itu adalah cerita di balik kolaborasi Kunto Aji dengan YogyaKarta Hadroh Clan (YKHC). Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja (impromptu) saat momen puasa tahun lalu di Masjid Jogokaryan.
Kolaborasi organik ini akhirnya melahirkan sebuah karya mahal bertajuk “Rampak Pembebasan“. Mengambil kata dari bahasa lama yang berarti bergerak serempak bersama-sama, lagu ini ditulis sebagai respons mendalam terhadap krisis kemanusiaan di Gaza, Palestina.
Kunto Aji mengungkapkan kecemasan psikologis yang melandasi lahirnya lagu ini. Ia gelisah melihat bagaimana media sosial perlahan membuat masyarakat dunia menormalisasi kekejaman dan kriminalitas luar biasa.
“Kasus di Gaza itu berbahaya secara psikologis kalau kita lama-lama jadi terbiasa dan menganggap hal itu normal. Padahal itu sangat tidak normal. Kita harus tetap cemas dan bersuara,” tegas Kunto.
Lagu ini digarap dengan lirik dan ketukan rap trap yang kencang untuk memantik kembali kepedulian yang mulai abai.
Penutup yang Menggetarkan Langit
Menjelang penghujung acara, suasana berubah semakin khidmat ketika Ustadz Salim A. Fillah menyampaikan beberapa nasihat dan refleksi singkat kepada para hadirin. Kehadirannya menjadi penyejuk di tengah semangat yang sejak awal memenuhi ruangan. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama.
Usai doa, seluruh pengisi acara kembali berkumpul di atas panggung bersama penonton untuk pertama kalinya melantunkan lagu Rampak Pembebasan secara live.
Ketukan rap yang bertenaga berpadu dengan gemuruh rebana hadroh, menciptakan suasana yang penuh semangat sekaligus khusyuk. Emosi mencapai puncaknya saat Selawat Asyghil berkumandang, mengiringi doa agar umat dijauhkan dari kezaliman. Di saat yang sama, seruan “Free, Free Palestine!” menggema kompak dari seluruh penjuru ruangan.
Sore itu, Yogyakarta menjadi saksi bahwa musik, hadroh, dan dakwah mampu melebur menjadi satu kekuatan. Bukan sekadar pertunjukan, melainkan pengingat untuk tidak berdiam diri di hadapan kezaliman, sekaligus ikhtiar bersama menjaga nurani dan kewarasan.









