Kalau mendengar Minahasa, kebanyakan orang mungkin langsung ingat Bunaken, Manado Tua, atau laut yang bikin feed Instagram mendadak estetik. Padahal, ada Minahasa lain yang jarang masuk radar: Minahasa dalam roman klasik Remy Silado.
Lewat Trabar Batalla dan Inani Keke, Remy mengajak pembaca masuk ke abad ke-16, ketika orang Spanyol ternyata tak berhenti di Filipina, tapi bablas sampai Sulawesi Utara. Di sana, lahirlah kisah cinta, dendam, perkelahian, dan tokoh-tokoh berdarah campuran alias mestizo.
Tokoh utamanya, Pepito Panda, adalah blasteran Minahasa-Spanyol. Hidupnya penuh romantika, konflik, dan asmara yang jauh dari kesan sastra serius nan kaku. Salah satu adegan paling khas bahkan terjadi di atas tumpukan sabut kelapa di bawah pohon nyiur—bukan di ballroom hotel, bukan pula di taman kota ala drama Korea.
Tapi dua roman ini bukan sekadar urusan ciuman dan percintaan tropis. Ada sejarah, bahasa, sampai jejak hubungan Indonesia–Spanyol yang selama ini kalah populer dibanding Portugis, VOC, atau Jepang. Membaca Trabar Batalla dan Inani Keke rasanya seperti mencampur roman populer, catatan sejarah, majalah Romantika, dan aroma kopra dalam satu blender. Hasilnya riuh, agak berlebihan, tapi justru bikin susah berhenti.
Kalau penasaran dengan semesta Minahasa ala Remy Silado, buku Inani Keke dan Trabar Batalla bisa didapatkan di sini: https://s.shopee.co.id/5VSM8ogYPW
Dan kalau ingin mendengar obrolan lengkap Muhiddin M. Dahlan soal mestizo, Minahasa, Besame Mucho, sampai sabut kelapa yang mendadak jadi properti asmara, langsung saja mampir ke video terbaru Jasmerah.








