Biasanya, ketika membaca novel berlatar sejarah kolonial, perhatian saya langsung tertuju pada urusan politik. Namun, entah kenapa, saat membaca Trabar Batalla karya Remy Sylado, fokus saya justru tersedot pada hal lain yang terasa jauh lebih purba, personal, sekaligus brutal. Yakni masalah ego, dorongan “hormon” laki-laki, dan betapa melelahkannya menjadi seorang pria di Teluk Minahasa pada abad ke-16.
Di masa itu–setidaknya dalam imajinasi Remy–hukum tidak bekerja lewat tumpukan dokumen pengadilan, seperti di era Hindia Belanda. Di bawah bayang-bayang moncong meriam Spanyol, keadilan dan harga diri hanya bisa diukur lewat satu cara: seberapa cepat tanganmu menghunus pedang sondang.
Remy Sylado memotret beban “utang darah” sang pemuda berdarah campuran
Masyarakat masa itu, hidup dalam hukum rimba. Ada tuntutan sosial yang tidak tertulis tapi sangat mengikat bahwa seorang laki-laki sejati pantang meneteskan air mata. Jika ia atau keluarganya dilukai, ia wajib membalas dendam.
Beban berat sebagai “laki-laki ideal” inilah yang harus dipikul habis-habisan oleh tokoh utama, Pepito. Sebagai seorang pemuda berdarah campuran, atau disebut Mestizo, yang ayahnya baru saja dibunuh secara keji, ia tidak memiliki waktu untuk bersedih. Kematian sang ayah langsung menjadi “utang darah” yang jatuh ke pundaknya.
Dalam novel ini, tidak ada adegan pelukan haru saat Pepito harus pergi memburu sang pembunuh. Kepada ibunya, Isabella, Pepito hanya meninggalkan secarik pesan tertulis yang terasa sangat dingin dan sarat akan gengsi maskulin.
“Bertemu dalam perang tanding! Aku minggat untuk membalas dendam atas kematian Wai.” Tulis Pepito.
Kalimat pamit yang sangat singkat itu, seolah menjadi deklarasi. Sebagai anak laki-laki, ia tidak punya pilihan lain. Lingkungan dan zamannya memaksa Pepito untuk menekan sisi emosionalnya dan mengubah duka menjadi amarah. Ia harus membunuh atau dibunuh demi melunasi utang darah keluarganya.
Bukan cuma beban balas dendam, tapi juga ego kejantanan
Namun, beban yang harus ditanggung Pepito ternyata bukan cuma urusan membalas dendam kematian ayahnya. Tekanan untuk terus tampil “jantan” juga menjalar ke urusan pergaulannya sehari-hari dengan sesama laki-laki.
Di sinilah Remy Sylado memotret dengan sangat jeli bagaimana laki-laki seringkali bertikai bukan karena urusan prinsip, tetapi sekadar adu ego.
Mari kita lihat satu adegan yang, menurut saya pribadi, sangat ikonik di bagian awal buku ini. Kereta yang ditumpangi Pepito mendadak harus berhenti di tengah jalan. Di depannya, pada jarak tepat tujuh meter, sosok Utu Sumampouw, sudah berdiri menantang.
Tangan kanan Utu menggenggam erat sebuah sondang yang telah ditarik lepas dari sarungnya. Ujung pedang itu diarahkan menyilang, lurus menantang dada Pepito.
Lalu, sebuah umpatan kasar meluncur dari mulut Utu, “Berhenti kau, Mestizo keparat! Kudachuki mestizo!”
Apa pemicu adegan yang mengancam nyawa ini? Konon, karena urusan seorang perempuan bernama Alona. Namun, ironisnya, Alona sang perempuan yang diperebutkan itu bahkan tidak hadir secara fisik di tempat kejadian.
Hasrat homososial antarpria dalam novel Remy Sylado
Jika kita merenungkannya sejenak, pertarungan antara Utu dan Pepito ini mengingatkan saya pada sebuah konsep, yang oleh Eve Kosofsky Sedgwick, disebut male-homosocial-desire. Konsep yang pertama kali ia kenalkan dalam buku Between Men (1985) ini, menyebut bahwa dalam budaya patriarkis, ikatan antarpria seringkali mengandung ketegangan yang tidak disadari.
Menurut pandangan Sedgwick, persaingan dua laki-laki yang memperebutkan satu perempuan sebenarnya sama sekali bukan tentang cinta kepada perempuan tersebut. Ia menyebutnya sebagai the triangular desire.
Alona, dalam kisah ini, pada akhirnya hanyalah sebuah alasan. Ia adalah sebuah “piala” yang diletakkan di tengah agar dua laki-laki ini punya pembenaran untuk saling menantang dan menguji ego.
Di titik ini, pedang sondang yang terhunus itu pun tak lagi dimaknai sebagai senjata tajam untuk melukai tubuh. Ia adalah representasi dari simbol falosentris, alias simbol mutlak dari supremasi, dominasi, dan kekuasaan laki-laki.
Siapa pun yang mundur atau menyarungkan pedangnya lebih dulu, maka harga dirinya sebagai laki-laki akan hancur lebur di mata masyarakat. Pepito terpaksa meladeni ancaman buta tersebut karena menolak berkelahi berarti menanggalkan statusnya sebagai laki-laki di dunia yang liar itu.
Hal yang membuat adegan ini terasa semakin ironis adalah kenyataan bahwa sebenarnya Pepito tidak menaruh hati pada Alona. Ini adalah puncak absurditas dari tuntutan maskulinitas itu sendiri.
Bayangkan, kamu dipaksa bertaruh nyawa untuk memperebutkan seorang perempuan yang bahkan tidak kamu inginkan. Hanya karena ada laki-laki lain yang sedang butuh “panggung pembuktian”.
Jika Pepito menolak tantangan itu dengan alasan seperti, “aku tidak menyukai Alona”, masyarakat abad ke-16 dalam cerita Remy tidak akan melihatnya sebagai laki-laki yang bijak. Sebaliknya, masyarakat akan langsung meludahinya dan mencapnya sebagai pecundang.
Di sinilah letak tragisnya. Akal sehat, empati, dan bahkan nyawa manusia rela dikorbankan secara sia-sia hanya demi memelihara sebuah ilusi kosong yang bernama “kehormatan laki-laki”.
Yang adu ego laki-laki, yang jadi korban tetap perempuan
Kekacauan ego laki-laki ini semakin menjadi-jadi ketika kita membawanya ke skala yang lebih besar. Ya, konflik antara kaum penjajah dan kaum terjajah. Dalam dunia Trabar Batalla, maskulinitas dan ego laki-laki tidak bisa dipisahkan dari warna kulit dan kasta rasial.
Di ujung hierarki tertinggi, kita melihat tokoh-tokoh kulit putih Eropa seperti Fidel dan Durant. Mereka menampilkan gaya maskulinitas khas penjajah: arogan, merasa paling unggul, dan memandang rendah siapa saja yang tidak murni berdarah Eropa.
Mereka merasa bisa mengambil dan menindas siapa saja tanpa perlu memikirkan konsekuensinya. Sebaliknya, maskulinitas Pepito adalah maskulinitas kaum Mestizo; sebuah kejantanan yang lahir dari rasa keterasingan, penderitaan, dan usaha keras untuk bertahan hidup di tengah himpitan diskriminasi.
Dampak buruk dari maskulinitas Eropa yang arogan ini paling jelas terlihat pada nasib Isabella, ibu Pepito. Meskipun Isabella adalah orang Spanyol tulen, hidupnya justru dihancurkan oleh kekejaman laki-laki dari bangsanya sendiri, semata-mata karena ia memilih menikah dengan pria lokal.
Perempuan, lagi-lagi, menjadi korban utama ketika laki-laki dibiarkan merasa berkuasa penuh tanpa ada hukum yang membatasi tindak-tanduk mereka.
Kekerasan pun dianggap jadi medium terbaik
Melihat semua ketidakadilan dan penindasan itu, menjadi sangat bisa dipahami mengapa Pepito akhirnya harus meledak dalam sebuah duel brutal di akhir cerita. Saat Pepito menebaskan pedangnya kepada orang-orang kulit putih yang selama ini merendahkan darah campurannya, itu bukan lagi menjadi balas dendam pribadi.
Filsuf Frantz Fanon dalam buku The Wretched of the Earth (1961), menjelaskan bahwa sistem penjajahan tidak hanya merampas tanah, tapi juga harga diri dan kemanusiaan kaum yang dijajah.
Oleh karena itu, di tanah jajahan yang penuh dengan rasisme dan eksploitasi, kekerasan fisik seringkali menjadi semacam katarsis. Ia seolah jadi satu-satunya bahasa penebusan yang tersisa bagi kaum tertindas.
Alhasil, setiap ayunan sondang Pepito adalah upaya putus asa untuk merebut kembali martabat dan kedaulatan dirinya sebagai manusia seutuhnya. Ia seolah ingin membuktikan bahwa rasa hormat tidak ditentukan oleh seberapa putih warna kulit seseorang, tapi oleh keberanian untuk berdiri melawan ketidakadilan.
Pada akhirnya, Trabar Batalla membuktikan dirinya jauh lebih besar daripada sekadar novel petualangan sejarah tentang bangsa Spanyol di Nusantara. Novel ini berhasil memotret dengan sangat jujur tentang sisi kelam ego, dendam, dan hasrat berkuasa para laki-laki di masa kolonial.
Membaca buku ini membuat saya semakin kagum pada kejeniusan mendiang Remy Sylado. Bayangkan, buku ini ditulis pada akhir tahun 1960-an, saat Remy baru berusia awal dua puluhan.
Jauh sebelum topik tentang toxic masculinity, kekerasan gender, atau trauma pascakolonial ramai didiskusikan secara populer di Indonesia, Remy muda sudah berhasil menangkap realitas yang rapuh dan brutal itu. Lalu, membungkusnya ke dalam sebuah penceritaan yang memukau dan mengalir.
Shira Media resmi merilis ulang cetakan mahakarya Remy Sylado ini pada 15 Mei 2026 lalu. Bagi kamu yang ingin melengkapi koleksi dan menyelami kisahnya, pemesanan dapat dilakukan melalui tautan berikut: PESAN BUKU.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













