Buku Remy Sylado, Inani Keke dan Trabar Batalla, menjadi angin segar di tengah gempuran fiksi sejarah Jawa-sentris di skena perbukuan kita. Uniknya, ia sempat dianggap budaya rendah oleh sebagian elitis di masanya.
***
Sejujurnya, ada satu titik di mana saya sering merasa jenuh saat menatap deretan novel fiksi sejarah di rak buku saya. Bukannya saya tidak menyukai sejarah. Saya sangat menyukainya, bahkan pernah kuliah di jurusan Ilmu Sejarah.
Masalahnya, hampir semua narasi besar yang kita miliki seolah-olah memiliki satu “kiblat” yang sangat kaku: Pulau Jawa di abad ke-19 atau ke-20. Kita seolah dipaksa untuk terus-menerus mengunyah ingatan tentang pedihnya era Hindia Belanda, urusan tanam paksa, atau heroisme melawan Jepang dalam latar sosiokultural yang sangat Jawa-sentris.
Novel-novel dari penulis besar seperti Pramoedya Ananta Toer, lewat Tetralogi Buru, memang sudah menjadi standard karya yang dianggap luar biasa. Begitu juga dengan karya-karya Y.B. Mangunwijaya, atau belakangan Dido Michielsen dengan Lebih Putih Dariku.
Namun, sehebat apa pun karya-karya itu, mereka tetap bermain di zona waktu dan lokasi yang sudah sangat “akrab” dan bahkan mungkin terlalu sering dieksplorasi. Ada ruang kosong dalam memori literatur sejarah kita yang membuat saya sering bertanya: di mana cerita tentang kepulauan lain sebelum Belanda menjadi penguasa tunggal?
Angin segar dari Minahasa
Kejenuhan itu mendadak hilang saat saya menemukan dua karya lama dari mendiang Remy Sylado. Inani Keke (1966) dan Trabar Batalla (1968).
Membaca kedua buku ini rasanya seperti ditarik paksa keluar dari zona nyaman sejarah. Bayangkan saja, di saat banyak penulis fiksi sejarah kita sibuk mengurus birokrasi kolonial abad ke-19, Remy, yang saat itu baru berusia 20-an, sudah mengajak kita melesat jauh ke belakang. Yakni ke abad ke-16 di pesisir Teluk Minahasa.
Jujur, ada rasa terkejut ketika saya menyadari bahwa sejarah kolonial kita ternyata punya sisi lain yang sangat jarang dibahas secara populer: kehadiran bangsa Spanyol.
Suasananya bukan lagi soal kantor-kantor di Batavia. Melalui dua karya itu, Remy menggambarkan suasana pesisir yang liar di Uwuran; di sebuah benteng bernama El Amoran, tempat aroma laut dan asap mesiu bertemu.
Di sinilah Remy meletakkan ceritanya, di sebuah era yang bagi banyak orang dianggap sebagai “titik buta”. Namun di tangan Remy, masa itu menjadi panggung yang sangat hidup.
Krisis identitas kaum Mestizo dalam novel Remy Sylado
Hal pertama yang paling membuat saya termenung lama adalah cara Remy mengolah isu identitas. Jika dalam novel sejarah era Belanda kita sering bertemu dengan istilah “Indo”, yang lahir dari institusi per-Nyai-an, dalam Inani Keke dan Trabar Batalla, kita diperkenalkan dengan kaum Mestizo.
Mestizo adalah sebutan bagi keturunan campuran Spanyol dan pribumi di Minahasa abad ke-16.
Melalui tokoh utama bernama Pepito (Josefito Ranoyapo Panda), saya melihat sebuah potret krisis identitas yang terasa sangat modern sekaligus purba.
Pepito adalah personifikasi dari manusia yang “terjepit”. Sebagai seorang Mestizo, dia bukan siapa-siapa di mata orang kulit putih Eropa yang congkak, seperti tokoh Fidel atau ayah tirinya yang kejam, Durant (Jesus Garcia). Baginya, darah pribumi yang mengalir di tubuhnya adalah cacat permanen di mata kolonial Spanyol.
Namun, di saat yang sama, dia tidak sepenuhnya bisa melebur dengan penduduk lokal yang memandangnya dengan rasa curiga dan sentimen rasial.
Penindasan yang melampaui batas ras
Posisi terjepit ini membuat saya langsung teringat dengan karakter-karakter Indo dalam karya Pramoedya. Bedanya, jika di era Belanda konfliknya sangat bersifat hukum dan administratif, seperti urusan hak asuh anak atau status kewarganegaraan, di Minahasa abad ke-16 ini, konfliknya jauh lebih personal, fisik, dan berdarah-darah.
Satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah peran para ibu dalam cerita ini. Saya melihat kontras yang menarik jika menyandingkan Nyai Ontosoroh dengan sosok Isabella, ibu Pepito.
Jika Ontosoroh adalah simbol ketegaran perempuan pribumi yang melawan sistem, Isabella adalah perempuan Spanyol tulen yang justru menjadi korban kekejaman bangsanya sendiri setelah menikah dengan pria Minahasa (Wai Ranoyapo).
Nasib Isabella yang nestapa di tangan Durant menunjukkan bahwa dalam sejarah kolonial ala Remy, penderitaan tidak mengenal warna kulit. Siapa pun yang mencoba melintasi batas ras akan dihancurkan oleh sistem yang ada.
Penyelipan idiom-idiom Jawa yang agak absurd
Hal unik lainnya yang sangat “Remy Sylado” adalah soal bahasa. Ceritanya terjadi di Minahasa tahun 1500-an. Akan tetapi, Remy dengan sangat berani (atau mungkin mbeling) mencampurkan dialog berbahasa Spanyol dan Melayu-Manado dengan idiom-idiom bahasa Jawa seperti “nrimo”, “dijawil”, atau “menggèh-menggèh”.
Bagi pembaca yang mengejar akurasi sejarah (yang kaku), ini mungkin dianggap sebagai sebuah kesalahan teknis. Namun, bagi saya, ini adalah cara cerdas Remy untuk menunjukkan hibriditas atau percampuran budaya kita yang memang tidak pernah rapi.
Dia seolah ingin bilang bahwa identitas kita ini memang berantakan dan campur aduk sejak lama. Dan bahasa adalah bukti paling nyata dari kekacauan yang indah itu.
Penyelesaian konflik yang lebih maskulin versi Remy Sylado
Resolusi konflik yang ditawarkan Remy pun sangat maskulin dan berbeda dari novel sejarah biasanya. Jika Minke melawan lewat tulisan di koran, Pepito menyelesaikan dendam atas kematian ayahnya lewat jalur yang lebih purba: Trabar Batalla atau perang tanding.
Di sini, saya seperti melihat adegan film perang yang begitu kolosal. Bayangkan suasana malam yang mencekam di Pantai Uwuran, di mana pasir laut yang kering beradu dengan langkah kuda dalam kegelapan.
Suara deburan ombak yang di Teluk Minahasa digambarkan Remy, seolah menjadi musik latar bagi kilatan pedang sondang yang saling beradu.
Remy menggambarkan duel ini tak sekadar menjadi adegan film action. Ia menggambarkannya sebagai “pengadilan” terakhir bagi manusia yang tidak punya tempat dalam hukum formal.
Pepito bukan Minke, ia tidak punya koran untuk mengadu. Ia juga dia tidak punya pengadilan yang adil untuk menuntut Durant. Yang dia punya hanyalah kehormatan untuk berhadapan satu lawan satu di medan laga.
Ini adalah perlawanan purba seorang pemuda yang identitasnya dirampas. Sebuah cara menyelesaikan masalah yang sangat maskulin, dan sesuai dengan napas zaman kolonisasi awal yang masih sangat keras dan tanpa ampun.
Harta karun yang sempat dianggap “budaya rendah”
Puncak keunikan buku ini tentu ada pada bentuk fisik bukunya. Di sini saya harus sepakat dengan Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang menulis kata pengantarnya.
Kata SGA, Remy muda benar-benar seorang pelopor sastra multimodal yang mendahului zamannya. Sebelum industri buku mengenal istilah ilustrasi digital, Remy sudah berani menyelipkan “foto-drama” ke dalam novelnya.
Dia menyutradarai adegan, mengajak aktor sungguhan (seperti Rima Melati muda), lalu memasukkan foto-fotonya ke halaman buku agar pembaca punya gambaran visual yang nyata.
Namun, di sinilah letak–meminjam kata SGA–”pemberontakan estetikanya” yang paling jenius. Meskipun latar ceritanya abad ke-16, tokoh Pepito di dalam foto itu justru tampil dengan rambut jambul pompadour ala Elvis Presley.
Kalau kata SGA, ini bukan karena Remy malas riset, tapi karena dia sedang bermain-main. Dia menjadikan sejarah sebagai taman bermain budaya pop. Dia tidak mau tunduk pada aturan realisme yang kaku dan membosankan. Inilah bibit awal semangat “mbeling” yang kemudian membesarkan namanya di majalah Aktuil.
Sayangnya, karya yang begitu visioner ini sempat terlupakan karena dianggap sebagai “budaya rendah” atau roman picisan oleh kritikus sastra yang elitis pada masanya, hanya karena format bukunya yang kecil dan beredar di taman bacaan kumuh. Padahal, jika kita membacanya hari ini, Inani Keke dan Trabar Batalla adalah harta karun yang luar biasa.
Per hari ini, Jumat, 15 Mei 2026, Shira Media resmi merilis ulang cetakan mahakarya Remy Sylado ini. Bagi kamu yang ingin melengkapi koleksi dan menyelami kisahnya, pemesanan dapat dilakukan melalui tautan berikut: PESAN BUKU.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














