Slogan “kantor adalah keluarga” cuma omong kosong yang bikin rugi pekerja. Tak cuma secara mental, tetapi juga finansial.
***
“Bentar ya, sori banget. Atasanku baru aja ngirim revisian.”
Kalimat itu keluar dari mulut seorang kawan, tepat ketika kopinya baru diseruput dua kali. Hari Minggu sore, di momen long weekend pula, yang seharusnya kami pakai untuk bersantai mendadak berubah menjadi jam kerja tambahan.
Ia buru-buru merogoh tas, memangku laptop, dan mulai mengetik dengan dahi berkerut. Saya bisa melihat raut lelah di wajahnya, sisa gempuran pekerjaan dari hari Senin sampai Jumat yang belum juga tuntas.
Ketika saya mengingatkan bahwa ini adalah hari libur dan ia punya hak penuh untuk menolak tugas tersebut, jawabannya justru terdengar memilukan.
“Aku nggak enak kalau nolak. Atasan itu udah kayak kakak sendiri, sering nraktir makan dan bahkan belain di depan manajemen. Kita di tim itu solid banget, udah kayak keluarga.”
Di permukaan, alasan kawan saya itu terdengar sangat hangat. Siapa yang tidak ingin punya lingkungan kerja yang saling mendukung laiknya keluarga? Memiliki atasan yang ramah dan rekan kerja yang kompak memang idaman semua orang.
Namun, di balik narasi “atasan rasa kakak” atau jargon “kantor adalah keluarga”, tersembunyi sebuah jebakan eksploitasi. Rasa sungkan dan utang budi ini jelas merampas waktu istirahat dan kewarasan mental pekerja. Lebih jauh lagi, budaya kekeluargaan di tempat kerja nyatanya adalah instrumen ampuh, yang tanpa disadari, sedang menyabotase masa depan profesional mereka.
Menganggap kantor sebagai keluarga bikin rugi pekerja secara mental
Dalam dunia kerja profesional, hubungan antara perusahaan dan karyawan diikat oleh selembar kontrak. Kontrak itu hitam di atas putih. Ada jam kerja yang jelas, ada tugas pokok yang terukur, dan ada kesepakatan soal upah.
Jika ada tugas tambahan di luar kesepakatan tersebut, pekerja bisa dengan tegas menolaknya atau meminta upah lembur tambahan.
Sialnya, label “keluarga” kerap dipakai perusahaan ke dalam rutinitas kerja di kantor. Konsultan pengembangan organisasi, Joshua A. Luna, dalam esainya yang berjudul “The Toxic Effects of Branding Your Workplace a ‘Family’”, menyebut cara ini telah mengikis batas profesionalitas.
“Ketika bos sukses memposisikan diri sebagai ‘saudara’, penolakan dari bawahan tidak lagi dilihat sebagai hak buruh profesional,” kata Luna, dalam esai yang terbit di Harvard Business Review (2021) itu.
Dalam esainya, Luna menyebut fenomena ini sebagai boundary collapse.
Akibat dari runtuhnya batasan profesionalitas ini, pekerja akan dihantui oleh manipulasi emosi. Otak mereka merespons situasi itu seolah-olah mereka adalah anggota keluarga yang egois karena enggan membantu saudaranya sendiri yang sedang kesusahan.
Rasa bersalah inilah yang membuat pekerja rela mengorbankan haknya, kehabisan energi, dan terus merasa cemas karena selalu siaga menunggu pesan dari grup kantor. Padahal, dalam dunia kerja yang ideal, mengerjakan jobdesk harus didasari tuntutan profesionalitas–bukan kekeluargaan.
“Kesehatan mental pekerja menjadi korban. Ia akan dihantui rasa bersalah ketika tidak menjalankan perintah, meskipun sebenarnya dalam aturan perusahaan ia punya hak menolak.”
Jebakan menjadi karyawan palugada
Kerusakan mental akibat rasa sungkan ini, nyatanya baru permulaan. Bencana sesungguhnya terjadi ketika narasi “kantor adalah keluarga” mulai menggerogoti nilai jual pekerja di masa depan.
Profesor Ilmu Manajemen University of Oklahoma, Mark Bolino, dalam kajiannya di Harvard Business Review (2015), menjelaskan fenomena ini melalui konsep role creep. Ia merupakan situasi di mana tanggung jawab atau beban kerja seorang karyawan meluas secara bertahap dan informal, di luar deskripsi pekerjaan awal mereka.
Bolino menemukan fakta bahwa dorongan untuk terus membantu divisi lain atas nama kekeluargaan, akhirnya menjadi bumerang yang merusak performa pekerja itu sendiri. Pekerja mungkin terlihat rajin dan disukai banyak orang di kantor. Namun, mereka perlahan kehilangan kepakaran di bidang aslinya.
Mari kita ambil contoh sederhana. Atas nama “membantu keluarga” yang sedang kekurangan orang, seorang desainer grafis bisa tiba-tiba diminta mengurus naskah media sosial. Bulan depannya, ia diminta ikut menyusun laporan keuangan, atau membantu mengatur acara jalan-jalan kantor. Niat awalnya mungkin terkesan seperti proses belajar hal baru.
Nyatanya, sebagaimana diungkap Bolino, secara tidak sadar ini adalah bentuk eksploitasi beban kerja. Pekerja dipaksa menjadi staf serba bisa alias staf “palugada”.
Bahayanya baru terasa ketika pekerja ini mencoba melamar ke perusahaan lain. Di bursa kerja yang sebenarnya, seorang spesialis yang menguasai satu bidang secara mendalam selalu dibayar jauh lebih mahal dibandingkan generalis yang serba bisa tapi dengan kemampuan pas-pasan.
Karena terlalu sibuk mengurus jobdesk divisi lain atas nama gotong royong, keahlian utama si desainer grafis tidak pernah benar-benar terasah tajam. Riwayat kerja atau CV miliknya akhirnya terlihat berantakan karena fokus keahliannya terpecah ke mana-mana.
“Sangat besar kemungkinan ia bisa kehilangan nilai tawar tinggi di mata perekrut baru.”
Gaji jalan di tempat karena terlalu setia
Kerugian yang paling memukul dari ilusi kekeluargaan ini ada pada urusan keuangan. Karena merasa terikat utang budi secara emosional dengan atasan dan rekan setim, pekerja sering kali kehilangan keberanian untuk mengundurkan diri.
Alhasil, mereka pun melewatkan peluang emas untuk melompat ke perusahaan lain yang menawarkan masa depan lebih cerah. Seorang karyawan rela menetap bertahun-tahun demi menjaga perasaan orang-orang di kantor lama, padahal nominal gajinya nyaris tak beranjak naik.
Kenyataan pahit ini pernah dibuktikan oleh peneliti asal Wharton School, Matthew Bidwell, melalui risetnya di berjudul “Paying More to Get Less” (2012). Bidwell membongkar fakta mengenai kerugian finansial bagi pekerja yang terlalu setia pada satu tempat. Data yang ia temukan sangat menohok dan membantah anggapan bahwa kesetiaan akan selalu berbuah manis.
Penelitian itu menunjukkan bahwa karyawan baru yang direkrut dari luar rata-rata mendapatkan tawaran gaji 18 hingga 20 persen lebih tinggi. Angka sebesar itu diberikan untuk posisi dan tanggung jawab yang sama persis dengan pekerja lama yang dipromosikan di dalam perusahaan.
Sederhananya, kata Bidwell, bertahan di satu perusahaan karena tidak tega meninggalkan teman kantor adalah sebuah langkah memiskinkan diri sendiri. Sistem korporat terbukti secara matematis lebih suka mengucurkan anggaran besar untuk membajak orang dari luar, ketimbang memberikan kenaikan gaji yang layak bagi pekerjanya sendiri yang sudah setia menemani perusahaan bertahun-tahun.
Puncak dari semua manipulasi yang-terlihat-manis ini akan terlihat ketika perusahaan menghadapi masa sulit atau gagal mencapai target keuntungan. Jurnalis ketenagakerjaan Sarah Jaffe, melalui bukunya Work Won’t Love You Back (2021), mengingatkan satu realitas kejam yang sialnya harus diterima pekerja.
Kata Jaffe, sistem industri memang selalu menuntut pekerja untuk mencintai pekerjaannya setengah mati. Namun, perusahaan tidak pernah didesain untuk balas mencintai karyawannya. Hubungan kerja pada hakikatnya sangat bersyarat, cuma bergantung pada uang masuk dan pencapaian target(KPI).
Alhasil, melabeli tempat kerja sebagai sebuah keluarga adalah racun yang berbahaya. Keluarga sejati menjalin hubungan kasih sayang dan seringnya tanpa pamrih. Sebaliknya, hukum korporat tidak mengenal kasih sayang semacam itu. Ketika pendapatan perusahaan menurun dan manajemen merasa perlu menekan pengeluaran, mereka yang dianggap keluarga ini tetap saja akan didepak.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














