Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
3 Agustus 2026
A A
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Ilustrasi - Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Melihat orang tua yang belum bisa menikmati menua tanpa memikul banyak beban menjadi seporsi kekalahan besar bagi seorang anak laki-laki. Menyisakan perasaan gagal karena masih begini-begini saja, kerja dengan gaji kecil pas-pasan. 

Duduk bersandar di kamar kosan yang agak pengap, air mata Hedi (27) mengucur tidak terbendung dengan isak yang bersikeras ia tahan agar tidak meledak. Ia tidak ingin ada yang mendengar tangisnya malam itu, dari balik pintu kamarnya di sebuah kos murah di Surabaya, Jawa Timur. 

Iklan

Momen itu terjadi pada Mei lalu, saat usia Hedi sudah menginjak 27. Usia yang dulu ia bayangkan sudah mencapai banyak hal. 

Ketika kenyataannya jauh dari rencana, masih begini-begini saja, belum jadi apa-apa, dan belum mencapai apapun, batinnya diserang sara bersalah terhadap kedua orang tuanya di kampung halaman di Bojonegoro, Jawa Timur. 

“Aku masih struggle sebagai pekerja swasta dengan gaji kecil pas-pasan di Surabaya, saat banyak teman sudah bisa beranjak jauh,” tuturnya lirih. 

Seporsi kekalahan anak laki-laki: kerja gaji kecil tidak sanggup bantu orang tua renovasi dapur-beli tv

Tumpukan rasa bersalah itu dipicu oleh banyak hal. Salah satu yang sangat memukul Hedi adalah perkara renovasi dapur. 

Suatu kali saat mengangkat telepon dari rumah, Ibu Hedi mengungkapkan keinginan untuk memperbaiki dapur rumah. Cat mengelupas, genteng bocor, dan beberapa barang sudah waktunya diganti dengan yang baru. 

Mendengar itu, Hedi hanya bisa merespons normatif: sekadar memastikan separah apa kondisinya sehingga harus segera direnovasi. 

Di momen lain, pernah si Ibu bercerita kalau televisi di rumah sedang rusak. Membuat rumah terasa sunyi, tanpa siaran sinetron yang baisa ditonton Bapak dan Ibu Hedi. 

“Dua kesamaan dari dua momen itu, Ibu bilang masih mengumpulkan uang, dicicil satu persatu. Dan aku, sama sekali nggak punya keberanian untuk bilang, ‘Kutransfer uang buat renovasi dapur dan memperbaiki tv, atau seharusnya ya membelikan tv baru.’ Aku nggak punya keberanian bilang itu,” ungkap Hedi. 

Pasalnya, Hedi sendiri hidup dengan gaji kecil pas-pasan meski sudah bertahun-tahun kerja di Surabaya. Buat hidup Hedi sehari-hari di perantauan saja masih serba kurang. Nyaris tidak pernah ada uang lebih yang bisa ia sisihkan. 

Kenyataan itu menjadi seporsi kekalahan bagi Hedi. Apalagi jika membandingkan dirinya dengan sejumlah teman yang pekerjaan dan keuangannya jauh lebih baik. Karena mereka sudah sampai di fase hidup: leluasa mengeluarkan uang untuk membelikan sesuatu untuk orang tua masing-masing. 

Hanya bisa antar Ibu berobat, tapi menghindar saat membayar obat

Seporsi kekalahan Hedi—sebagai anak laki-laki yang seharusnya menjadi tumpuan orang tua saat mereka menua—terus bertambah sepanjang ia masih belum jadi apa-apa. Ia merasa menjadi anak gagal saat menyadari kalau untuk sekadar menanggung biaya berobat Ibunya saja ia tidak sanggup. 

Sering ketika sedang teleponan dengan sang Ibu, Ibu Hedi mengaku sedang tidak enak badan. Entah kepala pusing, meriang, batuk berat, atau keluhan-keluhan lain. 

“Seporsi kekalahan besarku adalah, aku cuma bisa meminta Ibu supaya cepat pergi berobat. Ya, aku hanya bisa meminta Ibu melakukan itu. Tapi aku nggak bisa berkata tegas bakal ngirim uang untuk biaya periksanya,” tutur Hedi lirih. 

Begitu juga ketika Hedi kebetulan sedang pulang kampung ke Bojonegoro. Saat mendapati Ibunya tidak enak badan, Hedi hanya bisa sebatas memaksa mengantarkan Ibu ke klinik kecamatan. 

“Aku biasanya cuma nunggu di luar. Aku cuma bisa mengantar, untuk menebus obat dan biaya periksa, ya tetap dari uang ibu sendiri. Aku nggak sanggup lihat pemandangan itu, jadi aku memilih nunggu di luar,” katanya. 

Seporsi kekalahan besar anak laki-laki: merasa gagal karena orang tua menua dengan tetap bekerja

Lebih dari itu, rasa bersalah dan perasaan gagal Hedi lebih besar karena kenyataan kalau alih-alih bisa menua dengan tenang tanpa beban, orang tuanya masih harus tetap bekerja. 

Iklan

“Karena aku nggak bisa diandalkan. Bapak dan Ibu masih harus bersakit-sakitan, berpanas-panasan, di ladang dan pasar, agar kehidupan sehari-hari tetap terpenuhi,” beber Hedi. 

Dulu sekali, ketika masih kuliah, Hedi punya ambisi besar untuk membahagiakan orang tua: membiarkan mereka menua dengan lebih banyak waktu bersantai di rumah, tidak perlu bercapek-capek lagi. 

Hedi bahkan sering mengungkapkan ambisi itu di hadapan sang Ibu: “Buk, doakan saja. Nanti kalau Hedi lulus, terus kerja layak, sukses, Ibuk dan Bapak sudah nggak harus ke sawah atau pasar lagi. Nikmati hidup, biar Bapak dan Ibuk menikmati masa tua.”

Ketika ambisi tersebut ternyata masih sangat jauh dari kondisi Hedi hari ini, tidak pelak jika sedang sendiri di kamar kos atau berkendara menyibak keramaian jalanan Surabaya, ia bisa tiba-tiba menangis. Menangisi gaji kecil pas-pasan sebagai pekerja swasta, meratapi ketidakberdayaan mencari pekerjaan lain yang lebih baik, dan mengutuki diri sendiri karena masih  gagal membuat orang tua menikmati masa tua tanpa memikul beban lagi.

Kalimat hiburan dari Bapak dan Ibu membuat semakin bersalah

Orang tua Hedi sebenarnya tidak pernah banyak menuntut dari Hedi. Bahkan berkali-kali menegaskan kalau mereka tidak ingin menua dengan menjadi beban bagi anak-anaknya. 

Itulah kenapa orang tua Hedi malah berpikir, selama masih kuat, tetap bekerja di masa tua adalah pilihan. Mereka juga bahkan selalu bilang, hasil kerja Hedi ya untuk hidup Hedi sendiri. Sementara hidup orang tua biarlah dipikir orang tua. 

Bagi Hedi, itu hanyalah kalimat hiburan agar Hedi tidak merasa terbebani. Karena kenyataannya, terus memikul beban di masa tua membuat Bapak dan Ibunya kelihatan sangat kepayahan. 

“Tapi tetap saja, aku merasa bersalah karena masih menjadi anak gagal. Apalagi aku adalah anak laki-laki, yang seharusnya bisa mereka andalkan di masa tua mereka,” pungkasnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2026 oleh

Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

TPU Farm: Ketika Cabai Tumbuh di Area Makam

17 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.