Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 Juli 2026
A A
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

ilustrasi - pekerja gen z (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Daerah Istimewa Jogja, mungkin selalu terdengar romantis bagi mereka yang hanya datang untuk singgah dan liburan. Namun, bagi para sarjana yang mencoba mengadu nasib di Sleman, wilayah ini kerap menyajikan realitas yang menampar ego. 

Lapangan kerja yang sempit dan upah yang minim memaksa banyak lulusan kampus untuk rela menelan seporsi kekalahan.

Iklan

Saldi (27) adalah salah satunya. Pemuda asal Bengkulu ini menghabiskan waktu empat tahun untuk berdarah-darah mengejar gelar sarjana. Kini, ijazah tersebut seakan tak berguna.

Sehari-hari, ia mengenakan apron, menyeduh kopi, dan mengelap meja pelanggan. Ia terjebak dalam pekerjaan yang hanya menuntut syarat ijazah SMA, bergaji kecil, dan kerap dipandang sebelah mata.

Rela tak pernah mudik demi menjadi sarjana

Saldi bercerita, perjuangannya menuntaskan bangku kuliah sama sekali tidak dilewati dengan mudah. Ia masuk sebagai mahasiswa pada tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas kampus. 

Sebagai perantau asal Sumatra, masa-masa itu adalah ujian mental yang sesungguhnya.

“Waktu itu serasa kayak terjebak. Telanjur ke Jogja, tapi sampai sini nggak bisa kemana-mana karena lockdown Covid,” ujar lulusan PTN Jogja ini, Minggu (19/7/2026).

Ia mengingat, harga tiket pesawat yang melambung tinggi membuatnya harus menekan dalam-dalam rasa rindu pada rumah. Selama menempuh pendidikan S1, ia hanya sanggup pulang kampung satu kali. Momen Lebaran berkali-kali ia lewati sendirian di kamar kos. 

Uang saku kiriman orang tua juga sangat pas-pasan. Jika transferan terlambat datang, ia harus pintar-pintar mengganjal perut dengan apapun yang ada. Tak bisa pilih-pilih.

“Titik terendah sih, pernah kami sesama perantau di kos udah kayak parasit. Berharap dibawain makanan sama teman yang lebih tajir,” ujarnya.

Tekanan hidup sebagai perantau akhirnya terbayar lunas saat ia resmi diwisuda pada akhir 2024. Saat mengenakan toga, ia mengaku ada rasa bangga yang mekar. Ia sempat berpikir, ijazah S1 itu akan berguna untuk mengubah nasibnya menjadi lebih layak.

Tak punya pilihan, jadi guru honorer atau kerja “kasar”?

Sayangnya, ekspektasi itu langsung hancur berantakan begitu ia terjun ke bursa kerja. Sebagai sarjana pendidikan, pilihan yang paling masuk akal adalah pulang ke Bengkulu dan mengabdi sebagai guru. 

Namun, realitas kesejahteraan guru honorer di daerah membuatnya berpikir dua kali. Ia sadar, upah mengajar di kampung halaman tidak akan cukup untuk menutup biaya kuliah yang sudah dikeluarkan orang tuanya.

“Sudah ada tawaran di kota asal, tapi anjirlah dengar cerita kawan-kawan ada yang cuma digaji 400 ribu sebulan,” kata Saldi.

Iklan

Ia pun akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan di Sleman. Keputusan ini memaksanya untuk berkompromi dengan kerasnya kenyataan. Bertahan hidup di Jogja berarti ia harus rela mengerjakan apa saja yang menghasilkan uang.

Ia meminggirkan gengsi gelar sarjananya. Saldi mulai menebar lamaran kerja ke berbagai tempat yang tidak menuntut keahlian akademisnya. Ia pernah seharian menahan panas aspal Sleman sebagai kurir ekspedisi. Ia juga pernah berdiri berjam-jam menjadi pramusaji di sebuah kedai ramen. Hari ini, ia bekerja sebagai pelayan di sebuah coffee shop.

Gajinya? Sangat jauh dari kata ideal. Penghasilannya bahkan tidak pernah menyentuh angka UMK Sleman. Di titik inilah Saldi menghadapi kenyataan yang paling memalukan harga dirinya. 

Dengan status sebagai sarjana, ia masih kerap kehabisan uang di pertengahan bulan. Saat keadaan sudah mendesak, ia terpaksa membuang rasa malunya dengan menelepon sang kakak. Ia meminjam uang sekadar untuk menambal biaya sewa kos, atau bahkan makan besok pagi.

“Ternyata kerja di sini pun nggak bisa pilih-pilih sekalipun kita ini sarjana.”

Seporsi kekalahan, merasa ijazah S1-nya tak berguna di dunia kerja

Ironi yang paling tajam dalam keseharian Saldi datang langsung dari tempat kerjanya. Selama ia bekerja kasar, mulai dari mengantar paket, menyajikan ramen, hingga meracik kopi, mayoritas rekan kerjanya adalah lulusan SMA atau SMK.

Di kedai kopi tempatnya bekerja sekarang, Saldi sering mendapat instruksi dan evaluasi kerja dari atasannya. Orang yang menuntut kecepatan kerjanya setiap hari adalah seorang supervisor (SPV). Sang SPV memiliki usia yang sama dengannya, tapi pendidikan terakhirnya adalah tamatan SMA.

Saldi sama sekali tidak punya niat merendahkan mereka yang lulusan sekolah menengah. Hanya saja, bagi seseorang yang sudah jatuh bangun bikin skripsi, memeras keringat keluarga untuk membayar UKT, bahkan menahan rindu bertahun-tahun tidak pulang, fakta ini menjadi pil yang sangat pahit untuk ditelan.

“Bukan bermaksud merendahkan lulusan SMA. Yang ironis justru kami para sarjana ini. Ngapain sih kita mati-matian kuliah kalau kerjanya ya gini-gini aja,” ujarnya.

Pemuda itu bahkan kini sampai pada sebuah kesimpulan: ijazah S1 yang ia perjuangkan mati-matian ternyata nyaris tidak ada gunanya. Gelar sarjana tidak membantunya mendapatkan rasa hormat atau penghidupan yang lebih baik di pasar tenaga kerja saat ini. 

Ia merasa telah menghabiskan banyak waktu dan uang di kampus, hanya untuk kembali ke garis start yang sama dengan mereka yang langsung bekerja setelah lulus SMA.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2026 oleh

Tags: gaji di bawah UMRijazahijazah s1Ijazah S1 tak gunaloker slemanLulusan S1 kerja SMARealitas dunia kerja JogjasarjanaSarjana PTNsarjana susah kerjaSusah cari kerja Jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO
Urban

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Banyak Sekolah Menahan Ijazah Siswa, Masalah Sistemik yang Bisa Hancurkan Masa Depan Anak.MOJOK.CO
Kabar

Banyak Sekolah Menahan Ijazah Siswa, Masalah Sistemik yang Bisa Hancurkan Masa Depan Anak

3 Juli 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur MOJOK.CO
Esai

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.