Daerah Istimewa Jogja, mungkin selalu terdengar romantis bagi mereka yang hanya datang untuk singgah dan liburan. Namun, bagi para sarjana yang mencoba mengadu nasib di Sleman, wilayah ini kerap menyajikan realitas yang menampar ego.
Lapangan kerja yang sempit dan upah yang minim memaksa banyak lulusan kampus untuk rela menelan seporsi kekalahan.
Saldi (27) adalah salah satunya. Pemuda asal Bengkulu ini menghabiskan waktu empat tahun untuk berdarah-darah mengejar gelar sarjana. Kini, ijazah tersebut seakan tak berguna.
Sehari-hari, ia mengenakan apron, menyeduh kopi, dan mengelap meja pelanggan. Ia terjebak dalam pekerjaan yang hanya menuntut syarat ijazah SMA, bergaji kecil, dan kerap dipandang sebelah mata.
Rela tak pernah mudik demi menjadi sarjana
Saldi bercerita, perjuangannya menuntaskan bangku kuliah sama sekali tidak dilewati dengan mudah. Ia masuk sebagai mahasiswa pada tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas kampus.
Sebagai perantau asal Sumatra, masa-masa itu adalah ujian mental yang sesungguhnya.
“Waktu itu serasa kayak terjebak. Telanjur ke Jogja, tapi sampai sini nggak bisa kemana-mana karena lockdown Covid,” ujar lulusan PTN Jogja ini, Minggu (19/7/2026).
Ia mengingat, harga tiket pesawat yang melambung tinggi membuatnya harus menekan dalam-dalam rasa rindu pada rumah. Selama menempuh pendidikan S1, ia hanya sanggup pulang kampung satu kali. Momen Lebaran berkali-kali ia lewati sendirian di kamar kos.
Uang saku kiriman orang tua juga sangat pas-pasan. Jika transferan terlambat datang, ia harus pintar-pintar mengganjal perut dengan apapun yang ada. Tak bisa pilih-pilih.
“Titik terendah sih, pernah kami sesama perantau di kos udah kayak parasit. Berharap dibawain makanan sama teman yang lebih tajir,” ujarnya.
Tekanan hidup sebagai perantau akhirnya terbayar lunas saat ia resmi diwisuda pada akhir 2024. Saat mengenakan toga, ia mengaku ada rasa bangga yang mekar. Ia sempat berpikir, ijazah S1 itu akan berguna untuk mengubah nasibnya menjadi lebih layak.
Tak punya pilihan, jadi guru honorer atau kerja “kasar”?
Sayangnya, ekspektasi itu langsung hancur berantakan begitu ia terjun ke bursa kerja. Sebagai sarjana pendidikan, pilihan yang paling masuk akal adalah pulang ke Bengkulu dan mengabdi sebagai guru.
Namun, realitas kesejahteraan guru honorer di daerah membuatnya berpikir dua kali. Ia sadar, upah mengajar di kampung halaman tidak akan cukup untuk menutup biaya kuliah yang sudah dikeluarkan orang tuanya.
“Sudah ada tawaran di kota asal, tapi anjirlah dengar cerita kawan-kawan ada yang cuma digaji 400 ribu sebulan,” kata Saldi.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan di Sleman. Keputusan ini memaksanya untuk berkompromi dengan kerasnya kenyataan. Bertahan hidup di Jogja berarti ia harus rela mengerjakan apa saja yang menghasilkan uang.
Ia meminggirkan gengsi gelar sarjananya. Saldi mulai menebar lamaran kerja ke berbagai tempat yang tidak menuntut keahlian akademisnya. Ia pernah seharian menahan panas aspal Sleman sebagai kurir ekspedisi. Ia juga pernah berdiri berjam-jam menjadi pramusaji di sebuah kedai ramen. Hari ini, ia bekerja sebagai pelayan di sebuah coffee shop.
Gajinya? Sangat jauh dari kata ideal. Penghasilannya bahkan tidak pernah menyentuh angka UMK Sleman. Di titik inilah Saldi menghadapi kenyataan yang paling memalukan harga dirinya.
Dengan status sebagai sarjana, ia masih kerap kehabisan uang di pertengahan bulan. Saat keadaan sudah mendesak, ia terpaksa membuang rasa malunya dengan menelepon sang kakak. Ia meminjam uang sekadar untuk menambal biaya sewa kos, atau bahkan makan besok pagi.
“Ternyata kerja di sini pun nggak bisa pilih-pilih sekalipun kita ini sarjana.”
Seporsi kekalahan, merasa ijazah S1-nya tak berguna di dunia kerja
Ironi yang paling tajam dalam keseharian Saldi datang langsung dari tempat kerjanya. Selama ia bekerja kasar, mulai dari mengantar paket, menyajikan ramen, hingga meracik kopi, mayoritas rekan kerjanya adalah lulusan SMA atau SMK.
Di kedai kopi tempatnya bekerja sekarang, Saldi sering mendapat instruksi dan evaluasi kerja dari atasannya. Orang yang menuntut kecepatan kerjanya setiap hari adalah seorang supervisor (SPV). Sang SPV memiliki usia yang sama dengannya, tapi pendidikan terakhirnya adalah tamatan SMA.
Saldi sama sekali tidak punya niat merendahkan mereka yang lulusan sekolah menengah. Hanya saja, bagi seseorang yang sudah jatuh bangun bikin skripsi, memeras keringat keluarga untuk membayar UKT, bahkan menahan rindu bertahun-tahun tidak pulang, fakta ini menjadi pil yang sangat pahit untuk ditelan.
“Bukan bermaksud merendahkan lulusan SMA. Yang ironis justru kami para sarjana ini. Ngapain sih kita mati-matian kuliah kalau kerjanya ya gini-gini aja,” ujarnya.
Pemuda itu bahkan kini sampai pada sebuah kesimpulan: ijazah S1 yang ia perjuangkan mati-matian ternyata nyaris tidak ada gunanya. Gelar sarjana tidak membantunya mendapatkan rasa hormat atau penghidupan yang lebih baik di pasar tenaga kerja saat ini.
Ia merasa telah menghabiskan banyak waktu dan uang di kampus, hanya untuk kembali ke garis start yang sama dengan mereka yang langsung bekerja setelah lulus SMA.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














