Menjadi pengangguran di Jogja tidak hanya perkara nasib di lowongan kerja, namun ada satu tembok pembatas yang tidak pernah disadari. Menjadi pengangguran di usia 30 tahun adalah alarm bahaya, karena di usia itu akan akrab dengan penolakan lamaran karena usia sudah terlalu matang dan bingung mau bekerja model bagaimana lagi.
***
Bagi Lutfi Saputra (30), mencari pekerjaan di Jogja bukan lagi perkara mengirim CV sebanyak-banyaknya. Ada satu bagian dari lowongan kerja di Jogja yang kini selalu ia perhatikan lebih dulu: batas usia. Lutfi, pemuda asli Gamping, Sleman, beberapa bulan terakhir kembali rajin mencari pekerjaan. Ia tidak hanya mengincar perusahaan di Jogja, tetapi juga membuka peluang kerja di luar daerah. Masalahnya, umur 30 tahun membuat sebagian lowongan kerja langsung gugur sebelum ia sempat menjelaskan pengalaman kerja dan kemampuan yang ia punya.
“Kalau di usia saya sekarang jelas kalah sama mereka yang masih muda dan fresh graduate, Mas,” ujar Lutfi kepada saya, Rabu (30/9/2026).
Ketika usia 30 menjadi angka horor bagi pengangguran di Jogja
Lutfi sebenarnya bukan orang yang baru mengenal dunia kerja. Ia lulusan S1 Akuntansi dan pernah bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Namun, perusahaan tempatnya bekerja melakukan layoff pada 2024. Setelah kehilangan pekerjaan, Lutfi mencoba kembali masuk ke pasar kerja. Waktu berjalan, usianya ikut bertambah.
“Dulu pernah jadi akuntan, namun pas 2024 itu kena layoff. Lalu setelah itu karena usia sudah 29 tahun agak sulit mencari pekerjaan, eh keterusan sampai sekarang kerja serabutan aja,” katanya.
Ia kembali mengirim lamaran dalam beberapa bulan terakhir. Dari belasan email yang masuk, sebagian memberikan alasan yang hampir sama.
“Tidak lolos verifikasi usia pelamar,” ujar Lutfi menirukan pemberitahuan yang ia terima.
Pengalaman tersebut membuat pencarian kerja terasa seperti permainan yang sudah menentukan siapa yang boleh masuk sejak awal. Lutfi belum tentu kalah dalam wawancara karena kemampuan akuntansinya. Ia bahkan belum sampai ke tahap itu.
Lowongan kerja di Jogja memang tidak selalu ramah segala usia
Batas usia dalam lowongan kerja memang bukan cerita yang sepenuhnya dibuat-buat oleh pencari kerja. Pada sejumlah lowongan kerja di Jogja, perusahaan mencantumkan batas usia tertentu.
Portal lowongan kerja juga memperlihatkan bahwa pasar kerja Jogja tidak menggunakan satu patokan usia. Pada pencarian Jobstreet September 2026, terdapat ratusan lowongan dengan kata kunci usia maksimal 40 tahun dan lebih dari seratus lowongan dengan batas maksimal 45 tahun di DI Yogyakarta.
Artinya, usia 30 tidak otomatis menutup seluruh pintu pekerjaan. Namun, bagi Lutfi, persoalannya terletak pada pekerjaan yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan yang ia miliki.
“Skill kami juga biasa saja, belum bisa ‘lah kalau bersaing sama yang muda dan fresh graduate,” ujarnya.
Pengangguran di DIY bukan cerita anak muda saja
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pasar kerja DIY memang masih menyisakan pekerjaan rumah. Pada Februari 2026, jumlah angkatan kerja DIY mencapai sekitar 2,28 juta orang. Dari jumlah tersebut, Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 3,05 persen. Angka itu turun dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 3,18 persen.
Jika menggunakan data Sakernas Agustus 2025, BPS mencatat 78.743 orang masuk kategori pengangguran terbuka di DIY. Kabupaten Sleman menyumbang 28.117 orang, angka tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di DIY.
Kelompok usia 30-an juga tetap menjadi bagian dari pasar kerja. Pada 2025, BPS mencatat 217.674 orang usia 30–34 tahun bekerja di DIY. Angka itu menunjukkan usia 30-an jelas bukan akhir dari kehidupan kerja.
Persoalannya, angka makro tersebut tidak otomatis menggambarkan pengalaman orang seperti Lutfi. Statistik bisa menunjukkan jumlah orang yang bekerja dan menganggur, tetapi tidak menunjukkan berapa kali seseorang gagal melewati kolom “usia maksimal” ketika mengirim lamaran.
Memilih kerja serabutan adalah cara bertahan hidup bagi pengangguran di Jogja
Pengalaman serupa datang dari Anggit (31). Selama sekitar setahun terakhir, ia berpindah-pindah pekerjaan. Ia pernah menjadi driver ojol dan mengambil pekerjaan sebagai kurir cabutan sebuah katering. Anggit sebenarnya ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan. Namun, mencari pekerjaan di Jogja pada usia kepala tiga membuat pilihannya terasa semakin sempit.
“Kalau seusia kami mau cari kerja yang mapan di Jogja agak sulit,” kata Anggit kepada saya melalui WhatsApp.
Saya bertanya mengapa ia tidak mencoba merantau. Jawabannya justru memperlihatkan persoalan lain.
“Kalau merantau mau ke mana dan pakai uang saku apa? Kerja aja masih belum ada tabungan,” ujarnya.
Merantau memang bisa menjadi jalan keluar ketika pasar kerja lokal tidak memberikan banyak pilihan. Namun, jalan itu membutuhkan ongkos, tempat tinggal, dan uang untuk bertahan sebelum menerima gaji pertama. Bagi orang yang sedang menganggur, biaya tersebut bukan perkara kecil.
Umur bertambah namun kebutuhan hidup tidak berkurang sama sekali
Lutfi belum menikah. Namun, status tersebut tidak membuat kebutuhan hidupnya berhenti. Ia tetap harus membiayai dirinya sendiri sambil mencari pekerjaan yang bisa memberinya penghasilan lebih stabil.
“Padahal saya belum menikah, tapi buat nyukupin diri sendiri saja kurang,” keluhnya.
Di titik ini, persoalan Lutfi bukan cuma tentang ingin mendapatkan pekerjaan kantoran lagi. Ia membutuhkan pekerjaan yang bisa membuat hidupnya kembali berjalan normal. Masalahnya, ia merasa kemampuan yang ia punya belum cukup kuat untuk mengalahkan kandidat yang lebih muda. Di sisi lain, pekerjaan yang menerima usia 30 tahun belum tentu sesuai dengan pengalaman akuntansi yang ia punya.
“Kalau di usia saya sekarang jelas kalah sama mereka yang masih muda dan fresh graduate,” katanya.
Lutfi dan Anggit akhirnya menghadapi pertanyaan yang sama: ketika lowongan kerja di Jogja meminta usia muda, sementara pengalaman mereka belum cukup kuat untuk menjual diri sebagai tenaga berpengalaman, mereka harus masuk ke pintu yang mana?
Usia 30 mestinya belum menjadi garis akhir untuk mencari pekerjaan. Tetapi bagi sebagian pencari kerja seperti Lutfi dan Anggit, angka itu sudah cukup untuk membuat beberapa pintu tertutup sebelum mereka sempat mengetuk.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan