Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
26 Agustus 2026
A A
pegawai BPO

ilustrasi-lulusan magister (Ega Fanshuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi lulusan Magister Pendidikan Biologi UNY dan bekerja sebagai BPO adalah cara aman untuk tidak dianggap pengangguran dan membuat orang tua di rumah menderita. 

***

Iklan

Akbar (25) adalah lulusan Magister Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Secara di atas kertas jurusannya sangat menjanjikan, namun hidup nampaknya tidak sehebat teori-teorinya.

Setelah lulus dari S2 tersebut, Akbar mengalami fase terberat dalam hidupnya. Sebagai anak rantau dari Jambi dan mengadu nasib di Jogja, perkara mencari pekerjaan adalah perkara yang berat. 

Awal-awal lulus S2 ia mencoba peruntungan untuk mendaftar di beberapa kampus swasta di Jogja dengan harapan diangkat menjadi asisten dosen. Namun, beberapa lamaran bahkan tidak diperhatikan. 

“Awalnya memang pingin jadi asisten dosen. Saya sudah coba daftar ke beberapa kampus,” katanya ketika ditemui Mojok Rabu (26/08/2026).

Namun, kampus-kampus yang ia harapkan tidak kunjung memberikan kabar. Lamaran demi lamaran dikirim, tetapi panggilan kerja tak kunjung datang. Sementara itu, biaya hidup di tanah rantau tetap harus dibayar.

Gelar magister itu tidak banyak membantu

Di titik itulah gelar magister ternyata tidak banyak membantu.

Dalam lulusan Magister tersebut, harapannya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jurusannya mulai goyah. Akbar akhirnya ditawari seorang kawan untuk bekerja di sebuah perusahaan BPO yang berkantor di kawasan Lippo Plaza Jogja. 

Pekerjaannya sebagai customer service. Jelas tidak berhubungan dengan Pendidikan Biologi yang ia tempuh sampai jenjang S2.

“Awalnya mikir, ‘Masa S2 kerja begini?’” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Tapi akhirnya daftar juga?”

“Iya. Daripada nggak kerja.”

Kalimat terakhir itu terdengar sederhana. Namun, bagi perantau seperti Akbar, “daripada nggak kerja” barangkali adalah bentuk kompromi paling nyata dengan kehidupan.

Ia kemudian memberanikan diri mendaftar menjadi pegawai BPO (Business Process Outsourcing). Ia kini masih menjalani masa probation. Setidaknya, setiap pagi ada alasan untuk berangkat ke kantor. 

Berbohong ke orang tua agar tidak dianggap gagal

Yang menarik, kepada orang tuanya di Jambi, Akbar tidak langsung bercerita bahwa dirinya bekerja sebagai customer service di BPO.

Ia hanya mengatakan bahwa dirinya bekerja di kantor.

“Kenapa nggak cerita pekerjaan sebenarnya?”

Iklan

“Takut dianggap gagal,” jawabnya.

Bukan karena bekerja sebagai pegawai BPO itu rendah. Ia hanya takut orang tuanya membayangkan sesuatu yang berbeda ketika anak mereka yang sudah menyelesaikan S2 akhirnya bekerja jauh dari bidang yang dipelajarinya.

Akbar bahkan memilih mengatakan kepada orang tuanya bahwa pekerjaannya aman.

“Biar mereka nggak khawatir juga. Yang penting saya kerja.”

Barangkali ada banyak anak rantau yang melakukan hal serupa. Bukan berbohong karena malas bercerita, tetapi karena tidak ingin menambah beban pikiran orang tua di rumah.

Fenomena banyak lulusan magister yang menjadi pengangguran

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia pada Mei 2026 masih berada di angka 4,65 persen. 

Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang dan rata-rata upah buruh berada di angka Rp3,39 juta. 

Artinya, pekerjaan memang tersedia, tetapi mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, harapan, serta kemampuan ekonomi adalah persoalan yang berbeda. 

Di Jogja, Akbar mungkin hanya satu dari sekian banyak lulusan perguruan tinggi yang sedang mencari jalan memutar menuju pekerjaan impiannya. 

Bagi lulusan magister seperti Akbar yang memilih menyebrang dari jurusan yang ia pelajari dan bertahan hidup in this economy, pilihannya tidak banyak.

Bagi lulusan magister, gelar itu (kadang) bukan satu-satunya penyelamat

Bagi Akbar dan banyak lulusan S2 lain yang merantau di Jogja, dapat memilih pekerjaan sesuai bidang yang ditekuni adalah sebuah kemewahan. Namun sayang, tidak semua orang memiliki kemewahan tersebut.

“Bisa bertahan hidup saja sudah syukur, dalam keadaan seperti ini menjadi apapun selama halal dan tidak dianggap pengangguran sama orang rumah,” tutupnya dengan tawa yang menyimpan banyak kepiluan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2026 oleh

Tags: gagallulusan s2magistermerantauorang tua banggapegawai BPO. bekerjaPengangguransarjana
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Artikel Terkait

budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.