Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

Rofahiyatul Aisy oleh Rofahiyatul Aisy
26 Agustus 2026
A A
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Ilustrasi Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Trauma akademik yang saya alami bermula dari ucapan dosen penguji yang menyebut tesis saya bahkan tidak layak menjadi skripsi.

Saya masih mengingat ujian tesis hari itu, cuaca Bandung yang biasa dingin terasa lebih panas. Teman-teman menunggu dan memberi dukungan dari luar ruangan, sementara dosen pembimbing berusaha menyemangati saya. Setelah presentasi selesai, tibalah sesi tanya jawab. 

Iklan

Salah seorang dosen penguji tidak mengajukan pertanyaan ataupun meminta penjelasan. Ia hanya berkata, “Ini bukan tesis, tetapi laporan kegiatan. Jadi skripsi saja tidak layak, apalagi tesis.”

Plaakk!

Rasanya seperti ditampar menggunakan bundelan tesis sendiri. Bayangkan ditampar tumpukan kayu yang menjelma kertas. Sakitnya bukan di pipi, melainkan tepat di hati.

Kacamata saya mendadak beralih fungsi. Bukan lagi membantu memperjelas penglihatan, tetapi menjadi bendungan air mata. Saya takut, begitu kacamata itu dilepas, air mata yang tertahan akan tumpah di hadapan orang-orang di ruangan.

Saya pulang dengan kepala tertunduk sambil membawa luka yang tidak terlihat. Sejak hari itu, saya mulai menutup diri. Revisi yang sebenarnya tidak terlalu banyak terasa seperti pekerjaan yang mustahil diselesaikan. Setiap membuka laptop, ucapan dosen penguji tersebut kembali terngiang.

Laptop kesayangan yang biasanya menemani saya mengerjakan berbagai hal akhirnya berubah menjadi musuh. Melihatnya saja membuat saya ingin menghindar.

Trauma akademik setelah ujian tesis

Seperti luka pada umumnya, dampak trauma akademik itu tidak terlihat, tetapi terasa nyata. Saya diliputi ketakutan, merasa gagal, kehilangan kepercayaan diri, dan mulai menganggap diri tidak layak menyandang gelar magister.

Saya memahami bahwa tesis magister harus memenuhi standar akademik tertentu. Dosen penguji berhak mengkritik metode, analisis, argumen, maupun kesimpulan penelitian saya. Belakangan, saya pun menyadari bahwa tesis tersebut pasti memiliki kekurangan.

Namun, kritik semestinya membantu mahasiswa mengetahui letak kekeliruan dan cara memperbaikinya. Kritik terhadap karya seharusnya tidak berubah menjadi vonis terhadap kemampuan seseorang.

Sayangnya, dalam kondisi lelah dan tertekan, saya belum bisa membedakan keduanya. Kritik terhadap tesis terasa seperti penolakan terhadap diri saya secara keseluruhan.

Cita-cita yang sebelumnya saya gantungkan tinggi-tinggi pun perlahan saya turunkan. Jangankan menggapainya, membayangkan diri kembali menekuni dunia akademik saja saya sudah tidak berani.

Meski demikian, saya tetap memaksa diri menyelesaikan tesis. Saya mengikuti ujian kembali, mengerjakan revisi, menemui dosen, lalu mengurus wisuda dan seluruh administrasi akhir perkuliahan.

Namun, semua itu tidak lagi saya jalani dengan semangat untuk merayakan pencapaian. Saat itu, saya hanya ingin segera lulus, meninggalkan kampus, dan tidak pernah bertemu dosen penguji tersebut lagi.

Secara administratif, perjalanan akademik saya selesai. Namun, secara emosional, saya belum benar-benar meninggalkan ruang ujian itu.

Dampaknya terus menggerogoti

Perasaan tidak layak terus menggerogoti kepercayaan diri saya. Apalagi, sebagai seorang Cancerian, saya merasa dicintai dan dihargai ketika kehadiran saya dibutuhkan serta dapat memberi manfaat kepada orang-orang terdekat.

Namun, jika apa yang saya kerjakan saja dianggap tidak semestinya, bagaimana mungkin saya bisa memberikan dampak? Dasar Cancerian, cangkangnya terlihat kuat, tetapi isinya lembek sekali.

Iklan

Sesekali saya berusaha menenangkan diri dengan berbagai pembelaan. “Tidak apa-apa, toh teman-teman yang kamu bantu merasa terbantu,” atau, “Kamu hanya sedang apes mendapatkan dosen penguji seperti itu.” Kalimat-kalimat tersebut cukup membantu saya bertahan menghadapi hari-hari yang tidak bisa dijeda. 

Namun, sejak saat itu, keluar rumah dan bergaul dalam komunitas besar tetap terasa berat. Kepala terasa berat, langkah pun berat, sementara kepercayaan diri saya semakin ringan.

Titik balik dari trauma akademik

Waktu terus berjalan. Perlahan, saya menemukan hal-hal kecil yang mengubah cara pandang terhadap diri sendiri. Tulisan-tulisan saya ternyata dikutip orang lain. 

Ada mahasiswa yang menjadikannya referensi, aktivis yang menggunakannya sebagai bahan diskusi, bahkan dosen yang memanfaatkannya dalam kegiatan akademik.

Dari sana muncul sebuah pertanyaan: jika tulisan dan gagasan yang saya hasilkan benar-benar tidak berguna, mengapa ada orang yang merasa terbantu?

Pertanyaan sederhana itu menjadi titik balik bagi saya.

Dalam sebuah kegiatan kaderisasi organisasi, saya bertugas sebagai fasilitator. Salah seorang peserta tiba-tiba mengenali saya.

“Oh, ini toh Aisy Aisy itu. Aku pakai artikel Mbak sebagai referensi esaiku kemarin, lho.”

Saya senang bukan kepalang. Namun, karena harus tetap terlihat tenang dan berwibawa sebagai fasilitator, saya hanya tersenyum sambil menjawab, “Iya, ini Aisy.”

Rupanya, tesis atau tulisan saya memiliki jenjang kariernya sendiri. Bahkan, mungkin perjalanan kariernya lebih sukses daripada penulisnya.

Pengalaman-pengalaman kecil itu membantu saya pulih. Saya mulai memahami bahwa penelitian bukan sekadar tugas untuk memenuhi standar akademik dan mendapatkan gelar, melainkan salah satu cara memberikan kontribusi kepada orang lain.

Namun, pengakuan orang lain bukan satu-satunya alasan saya kembali percaya diri. Saya juga belajar memisahkan karya dari diri sendiri.

Tulisan saya boleh dianggap kurang baik dan penelitian saya boleh dikritik, tetapi kekurangan sebuah karya tidak otomatis menjadikan saya manusia yang gagal.

Menulis lagi, tetapi bentar nangis dulu

Pernah melihat meme “akan aku hadapi, tetapi bentar nangis dulu”? Begitulah cara saya belajar menulis kembali.

Saya mulai menulis meski masih gemetar. Karena lama menghilang dari peredaran, saya kehilangan banyak teman diskusi keilmuan.

Rasanya seperti harus memulai dari awal seorang diri. Namun, saya tetap mencoba. Tulisan ini menjadi salah satu karya yang akhirnya berani saya unggah sekaligus bagian dari proses pemulihan.

Kali ini, saya tidak lagi sekadar mengejar pengakuan, tetapi berusaha menghasilkan sesuatu yang bermakna. Setiap kali menulis, saya merasa sedang merajut kembali kepercayaan diri yang pernah robek karena trauma akademik.

Saya seperti mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya masih layak belajar, masih mampu berkarya, dan masih bisa memberi manfaat.

Prosesnya tentu tidak selalu mulus. Ada kalanya saya kembali takut dan meragukan tulisan sendiri. Namun, saya mulai memahami bahwa pulih bukan berarti tidak pernah menangis atau merasa takut lagi. Pulih berarti tetap berani melangkah meskipun ketakutan itu sesekali muncul.

Untukmu yang tertampar kepahitan trauma akademik

Kalau ada yang menganggap trauma akademik hanya sebagai sikap berlebihan, saya mungkin hanya bisa tersenyum. Saya tahu luka itu nyata karena pernah kehilangan kepercayaan diri, menjauhi dunia akademik, dan takut menulis akibat satu kalimat di ruang ujian.

Setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda untuk pulih. Ada yang mampu bangkit sendiri, ada yang membutuhkan teman untuk bercerita, dan ada pula yang memerlukan bantuan profesional.

Beristirahatlah ketika lelah dan mintalah bantuan ketika beban terasa terlalu berat. Tidak semua perjuangan harus diselesaikan seorang diri.

Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang kurikulum, teori, dan metodologi. Pendidikan juga merupakan perjalanan manusia untuk menerima kekurangan, menghadapi luka, memperbaiki kesalahan, dan menemukan kembali makna dari sesuatu yang dipelajari.

Tesis saya mungkin memang tidak sempurna. Saya pun masih harus belajar banyak. Namun, satu kalimat yang pernah saya dengar di ruang ujian itu tidak lagi berhak menentukan apakah saya layak menulis atau tidak.

Sekarang, saya memilih menulis lagi.

Penulis: Rofahiyatul Aisy
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Derita Kuliah S2 ketika Menghadapi Dosen Pembimbing yang Malas Membaca dan Minta Ganti Teori Sampai 3 Kali

 

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2026 oleh

Tags: DosenKampusMahasiswaTesistrauma akademik
Rofahiyatul Aisy

Rofahiyatul Aisy

Rofahiyatul Aisy, seorang istri yang juga praktisi pendidikan. Baru belajar menulis lagi tentang pelatihan, kepemimpinan, organisasi, dan akademik. Pecinta dokumen rapi, yang hobi koleksi stationery.

Artikel Terkait

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.