MOJOK.CO – Pentagram, kepala kambing, dan peti mati muncul dalam rangkaian Maulid Nabi di Karnaval Simbang Kulon, Pekalongan. Sebenarnya setan mana yang sedang mereka undang?
Di Jawa, kepala hewan di atas panggung belum tentu menjadi bagian dari ritual. Terkadang, benda semacam itu hanya digunakan untuk memeriahkan pertunjukan dan membuat penonton tidak buru-buru pulang.
Masalahnya, Simbang Kulon Night Carnival 2026 membawa kemeriahan itu ke level yang agak sulit dijelaskan kepada warganet. Dalam salah satu video pertunjukan yang beredar, terlihat peserta mengenakan kostum hitam dengan tudung runcing.
Ada pula peti mati, simbol yang disebut sebagai pentagram terbalik, lilin, serta adegan teatrikal penyembelihan kambing di atas altar.
Video tersebut kemudian beredar luas dan langsung dianggap sebagai pertunjukan yang berhubungan dengan satanisme.
Andai adegannya berdiri sendiri, mungkin orang hanya akan berkata, “Wah, horor.” Persoalannya, pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad dan khitanan massal.
Acara itu diselenggarakan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Kontrasnya terlalu sempurna untuk algoritma: Maulid Nabi di satu sisi, pentagram dan kepala kambing di sisi lain. Tinggal menunggu warganet menyusun benang merah sendiri.
Karnaval Simbang Kulon, tradisi yang sudah berlangsung 61 tahun
Padahal, sebelum videonya menjadi bahan perdebatan, Simbang Kulon Night Carnival merupakan bagian dari tradisi masyarakat yang telah berlangsung selama 61 tahun. Pada 2026, kegiatan tersebut melibatkan 25 barisan dari 25 musala dengan berbagai pertunjukan.
Mulai dari parade busana, kesenian daerah, drumben, ogoh-ogoh, hingga sound horeg. Rangkaian acaranya juga meliputi pengajian umum dan khitanan massal.
Temanya bahkan cukup adem, yaitu Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran, yang kurang lebih berarti menyatukan budaya dan menguatkan persaudaraan.
Lalu, bagaimana acara yang awalnya dimaksudkan untuk merawat tradisi dan keguyuban bisa tiba-tiba dianggap menyerupai ritual pemujaan setan?
Mungkin kita bisa memulainya dari satu hal yang sering luput ketika melihat kebudayaan kampung: masyarakat tidak selalu memisahkan agama, hajatan, kesenian, tontonan, dan urusan sosial ke dalam kotak-kotak serapi slide presentasi seminar.
Di karnaval, sesuatu yang menakutkan boleh kok dipertontonkan
Dalam pembahasannya mengenai karnaval, Mikhail Bakhtin melihat karnaval sebagai ruang ketika tatanan sehari-hari untuk sementara dibalik. Hal-hal yang biasanya rapi boleh dibuat berantakan.
Yang biasanya serius boleh ditertawakan. Bahkan, sesuatu yang menakutkan boleh dibawa keluar dan dipertontonkan.
Kita sebenarnya tidak asing dengan hal semacam itu. Di berbagai daerah, sosok raksasa, monster, wajah menyeramkan, binatang besar, hingga makhluk yang tidak jelas berasal dari mitologi mana—atau sekadar hasil begadang tiga malam—bisa muncul dalam perayaan warga.
Ogoh-ogoh merupakan contoh yang paling mudah dikenali, meskipun konteks keagamaannya tentu berbeda dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan karnaval di Simbang Kulon.
Kemunculan monster, kostum menyeramkan, sound horeg, dan berbagai bentuk pertunjukan yang berlebihan dalam sebuah karnaval kampung sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.
Masalah muncul ketika simbol yang dipakai bukan berasal dari kamus budaya setempat, melainkan dari internet.
Pentagram terbalik, tudung runcing, altar, lilin, peti mati, dan kepala kambing merupakan kombinasi visual yang sudah mempunyai arti tertentu bagi pengguna internet.
Begitu masuk ke TikTok, X, Instagram, atau YouTube, simbol-simbol tersebut tidak lagi menjadi sekadar properti panggung. Semuanya membawa koper makna dari tempat lain.
Karnaval Simbang Kulon: Tabrakan dua sudut pandang
Bagi pembuat pertunjukan, simbol-simbol itu mungkin dipakai karena terlihat seram, unik, dan cocok dengan konsep teatrikal. Bagi penonton lokal, semuanya bisa saja dianggap sebagai bagian dari kreativitas peserta karnaval.
Namun, bagi orang yang melihatnya melalui layar ponsel, simbol yang sama sudah memiliki asosiasi berbeda: satanisme, Baphomet, sekte sesat, atau segala macam cerita horor yang pernah mereka konsumsi.
Dalam antropologi, perbedaan sudut pandang ini dikenal melalui istilah emic dan etic. Emic melihat sebuah peristiwa dari sudut pandang orang yang menjalankannya, sedangkan etic melihatnya dari sudut pandang pengamat di luar.
Kontroversi Karnaval Simbang Kulon barangkali lahir dari tabrakan dua cara membaca tersebut. Pelaku pertunjukan mungkin berpikir, “Ini cuma dibuat seram.” Sementara itu, penonton internet melihat pentagram, kepala kambing, dan peti mati, lalu bertanya, “Ini ritual apa?”
Keduanya menggunakan kamus yang berbeda.
Masalahnya, internet merupakan tempat yang tidak sabaran menghadapi perbedaan kamus. Video berdurasi beberapa puluh detik tidak menyediakan cukup ruang untuk menjelaskan latar belakang sebuah pertunjukan.
Algoritma juga tidak peduli apakah simbol tersebut benar-benar dipercaya oleh pembuatnya atau hanya digunakan sebagai properti.
Selama visualnya mengejutkan, video itu akan terus berjalan dari satu layar ke layar berikutnya. Itulah sebabnya simbol sekarang dapat bepergian lebih cepat daripada niat orang yang menggunakannya.
Orang kampung juga bisa punya selera horor
Ada kecenderungan menarik dalam perdebatan semacam ini. Begitu melihat sesuatu yang dianggap asing dan gelap, kita buru-buru menganggap pelakunya pasti memercayai makna yang melekat pada simbol tersebut.
Padahal, manusia sering menggunakan simbol tanpa sepenuhnya memahami sejarah atau makna yang menyertainya. Anak muda memakai kaus bergambar tengkorak tanpa sedang mengadakan upacara kematian.
Orang memasang gambar tengkorak karena terlihat keren. Anak sekolah bisa memasang kutipan berbahasa Inggris di bio Instagram tanpa benar-benar memahami seluruh artinya.
Peserta karnaval pun bisa memakai simbol tertentu karena menganggapnya seram dan berharap pertunjukan mereka terlihat lebih mengerikan.
Namun, bukan berarti penggunaan simbol tersebut otomatis menjadi tepat.
Justru di sinilah kritik yang lebih masuk akal bisa diletakkan. Panitia Karnaval Simbang Kulon tetap perlu mempertimbangkan konteks acara, terlebih karnaval tersebut menjadi bagian dari rangkaian Maulid Nabi dan khitanan massal.
Kreativitas bukan kartu bebas keluar penjara yang membuat semua simbol aman digunakan di segala tempat.
Pada zaman ketika setiap panggung kampung berpotensi menjadi tontonan nasional, pembuat pertunjukan juga perlu membayangkan bagaimana simbol yang mereka pilih akan dibaca di luar pagar kampung.
Panitia tidak bisa sepenuhnya berlindung di balik alasan “sekadar seni” ketika simbol yang digunakan telah mempunyai asosiasi kuat di ruang publik.
Meski demikian, menyebut sebuah pertunjukan kontroversial sebagai “ritual satanik” juga membutuhkan bukti lebih dari sekadar kostum dan properti. Kalau tidak, kita sedang mengubah estetika menjadi akidah.
Ketika warganet ikut melakukan ritual
Setelah video Karnaval Simbang Kulon tersebut viral, muncul pula upaya menghubungkan kematian Ahmad Faiz dengan dugaan ritual satanisme dalam karnaval.
Ahmad Faiz memang meninggal beberapa jam setelah mengikuti acara tersebut. Namun, pihak keluarga menegaskan bahwa ia tidak meninggal ketika karnaval berlangsung.
Menurut keluarga, sebelum meninggal, Ahmad Faiz berada dalam kondisi kelelahan setelah hampir tidak tidur selama dua hari karena mempersiapkan karnaval sambil tetap bekerja.
Di titik ini, kita dapat melihat bagaimana pikiran manusia bekerja ketika berhadapan dengan sesuatu yang terasa ganjil. Dua peristiwa yang kebetulan berdekatan waktunya mulai dijahit menjadi satu cerita: kostum monster, kepala kambing, pentagram, kemudian kematian seorang peserta.
Semuanya terasa terlalu cocok untuk disebut kebetulan. Padahal, kenyataan tidak selalu bekerja seperti naskah film horor.
Gejala tersebut dapat dibaca sebagai kepanikan moral atau moral panic, yaitu ketika kecemasan sosial menemukan objek untuk ditakuti bersama. Dalam kasus Simbang Kulon, objeknya adalah peserta berkostum gelap dan pertunjukan yang dianggap menyerupai ritual satanik.
Begitu narasinya terbentuk, fakta-fakta lain tinggal dipilih berdasarkan kecocokannya dengan cerita. Kalau ada fakta yang tidak sesuai, paling gampang memang diabaikan. Namanya juga kolom komentar.
Karnaval Simbang Kulon menunjukkan simbol bisa berubah arti
Ironisnya, setelah bertahun-tahun orang kota menertawakan masyarakat desa karena dianggap mudah percaya kepada hal-hal mistis, media sosial justru menunjukkan bahwa manusia modern juga tidak kebal dari kebiasaan mencari pertanda.
Bedanya, dahulu orang bertanya kepada tetua kampung. Sekarang mereka bertanya kepada kolom komentar, yang jawabannya kadang lebih yakin daripada orang yang benar-benar datang ke lokasi.
Di Simbang Kulon, mungkin tidak ada setan yang sedang disembah. Yang ada hanyalah warga yang menggelar karnaval, peserta yang ingin pertunjukannya terlihat seram, dan simbol-simbol internet yang membawa makna dari tempat lain.
Persoalannya bukan semata-mata siapa yang benar atau salah membaca, melainkan bagaimana sebuah simbol dapat berubah arti ketika berpindah tangan. Apalagi ketika perpindahannya dibantu algoritma.
Penulis: Desy Wulandari
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Teori Konspirasi HAARP Staf Presiden Ngawur, Mitos Leluhur Soal Bencana Malah Lebih Masuk Akal