ADVERTISEMENT

Lulus S2 Usia 23 Tahun, Saya Baru Sadar Fast Track Kuliah Tidak Seseru Fast Track Dufan

Lulus S2 Usia 23 Tahun, Saya Baru Sadar Fast Track Kuliah Tidak Seseru Fast Track Dufan MOJOK.CO

MOJOK.CO – Saya kira program fast track S2 akan membuat hidup melaju seperti menggunakan jalur cepat di Dufan, tetapi saya justru harus mengantre pengalaman.

Saya punya gelar magister pada usia 23 tahun melalui program fast track S2. Sekarang umur saya 24 tahun dan bekerja sebagai guru. Kalau ditulis begitu, hidup saya kelihatannya lancar sekali. 

Pendidikan selesai lebih cepat, kemudian langsung bekerja. Tinggal berfoto memakai blazer sambil menyilangkan tangan, lalu menambahkan kutipan tentang pentingnya keluar dari zona nyaman.

Padahal saya sendiri masih sering bingung.

Ketika kesempatan mengikuti program fast track S2 datang, tentu saya melihatnya sebagai sesuatu yang menarik. Saya bisa mempersingkat masa studi sekaligus memperoleh gelar magister pada usia yang relatif muda. 

Siapa yang tidak tergoda oleh kesempatan menyelesaikan dua jenjang pendidikan lebih cepat?

Ada kebanggaan yang menyertai pencapaian itu. Lulus S2 pada usia 23 tahun terdengar seperti bukti bahwa saya sudah melaju lebih jauh daripada kebanyakan orang seusia saya.

Namun, setahun setelah lulus, saya baru menyadari bahwa istilah fast track perlu dibaca baik-baik. Yang dipercepat hanyalah masa studi. Pengalaman kerja, kemampuan menghadapi manusia, dan ketenangan ketika rencana berantakan ternyata tidak termasuk dalam paket.

Saya kira konsepnya seperti fast track Dufan: mengantre lebih sebentar, masuk lebih cepat, lalu segera menikmati wahana. Ternyata selepas wisuda, saya justru bertemu antrean baru. Di depannya ada tulisan: pengalaman.

Saya sudah membawa ijazah. Rupanya tidak berlaku di loket ini.

Sudah ikut fast track S2, saya tetap akan bertanya ke yang berpengalaman

Bekerja sebagai guru mempertemukan saya dengan orang-orang yang sudah mengajar selama bertahun-tahun. Di dekat mereka, saya sadar bahwa menyelesaikan pendidikan lebih cepat tidak otomatis membuat saya lebih cepat memahami pekerjaan.

Saya datang membawa teori dan pengetahuan dari kampus. Sementara itu, mereka memiliki pengalaman menghadapi murid dengan bermacam-macam karakter dan persoalan.

Tentu saya tidak sedang membenturkan teori dengan praktik. Keduanya sama-sama berguna. Hanya saja, di kampus saya masih punya kesempatan membaca ulang soal sebelum menjawab. Di kelas, situasi bisa berubah sebelum saya selesai memikirkan respons yang paling bijaksana.

Saya bisa menyiapkan pembelajaran sebaik mungkin. Namun, murid bukan peserta simulasi yang sudah dibagikan naskah.

Mereka tidak akan berpikir, “Hari ini kita harus kooperatif. Kasihan Bu Sekar, beliau sudah menempuh pendidikan magister.”

Ya, mana mereka peduli.

Kalau bosan, ya bosan. Kalau belum paham, ya belum paham. Gelar saya tidak bisa maju ke depan kelas lalu membantu menjelaskan. 

Ia juga tidak bisa membisikkan kalimat yang harus saya ucapkan ketika suasana kelas mulai berbeda dari rencana.

Akhirnya, meski saya seorang lulusan prgram fast track S2, saya tetap perlu bertanya kepada guru lain. Bagaimana menghadapi situasi tertentu? Apakah saya perlu lebih tegas atau justru mengubah cara menyampaikan?

Saya sudah selesai mempertahankan tesis. Sekarang saya harus belajar menyampaikan teguran dengan tepat. Sama-sama perlu memilih kata, tetapi yang satu ini tidak bisa menunggu jadwal bimbingan.

Terlalu OP di kolom pendidikan, belum tentu di tempat kerja

Sebelum bekerja, saya membayangkan pendidikan yang lebih tinggi akan membuat posisi saya di dunia kerja menjadi lebih jelas. Setelah menjalaninya, saya justru merasa agak tanggung.

Ketika melihat kolom pendidikan di CV, bekal saya terasa sudah cukup ramai untuk seorang pemula. Namun, begitu melihat kolom pengalaman, saya langsung ingat untuk duduk dengan sopan.

Bercandanya, saya terlalu OP atau overpowered di bagian atas CV. Begitu digulir ke bawah, kekuatannya mulai berkurang.

Untuk pekerjaan tingkat awal, kadang muncul pertanyaan, “Sudah S2, mulainya tetap dari sini?”

Namun, ketika membayangkan tanggung jawab yang lebih tinggi, saya sendiri belum tentu siap. Mengurus pekerjaan yang lebih besar, apalagi memimpin orang lain, membutuhkan lebih dari sekadar pengalaman menjadi ketua kelompok tugas kuliah.

Ini bukan berarti pekerjaan pemula berada di bawah harga diri saya. Saya justru sedang membereskan ekspektasi sendiri. Ternyata saya bisa menjadi lulusan fast track S2 sekaligus pekerja baru yang masih membutuhkan arahan.

Dua hal itu sebenarnya tidak bertentangan. Hanya saja, ego saya kadang meminta penjelasan tambahan.

“Lho, kemarin kuliah capek-capek buat apa?”

Ya, untuk belajar. Memangnya setelah wisuda saya berharap langsung memahami seluruh urusan sekolah?

Baca halaman selanjutnya

Cepat lulus tidak berarti cepat mahir

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Sekar Tri Widati

Guru SMA yang masih seneng belajar, walau kadang lebih sering belajar sabar. Cita-citanya sederhana, suatu hari jadi pejabat, tapi sebelum itu masih sibuk ngajar dan pura-pura hidupnya tertata.