ADVERTISEMENT

Teori Konspirasi HAARP Staf Presiden Ngawur, Mitos Leluhur Soal Bencana Malah Lebih Masuk Akal

Teori Konspirasi HAARP Staf Presiden Ngawur, Mitos Leluhur Soal Bencana Malah Lebih Masuk Akal

MOJOK.COMending percaya sama mitos tentang bencana daripada ngikut teori konspirasinya staf presiden.

Erupsi Gunung Anak Krakatau Jumat lalu dan lima gunung api lainnya dalam waktu berdekatan bikin banyak orang deg-degan. Abu vulkanik nyamber sampai Banten, Lampung, bahkan Jabar dan DKI. Tapi daripada kasih solusi, salah satu staf presiden malah sibuk tebar teori konspirasi.

Ulta Levenia Nababan, Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden, dengan pedenya nyeletuk kalau erupsi enam gunung ini “73,5 persen” ada yang mengorkestrasi. Dia menghubungkan fenomena ini sama proyek High Frequency Active Auroral Research Program (HAARP) milik Amerika Serikat. 

Bahkan pertemuan Presiden RI sama Putin di Vladivostok juga dia hubung-hubungkan.

Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran,”  kata Ulta.

Skeptis? Ini mah bukan skeptis, ini mah ngawur.

Daryono, pegiat mitigasi bencana yang juga mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sudah dengan tegas membantah omongan ngawur ini. 

Menurutnya, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif yang mustahil disimulasi, dibangkitkan, atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun. 

Energi yang memicu erupsi berasal dari mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer. Masa iya gelombang elektromagnetik bikinan manusia bisa nembus sedalam itu?

Tapi yang bikin miris, ini bukan cuma omongan netizen kebanyakan. Ini staf presiden, guys. Orang yang seharusnya ngasih masukan ke kepala negara, malah sibuk bikin teori konspirasi. Netizen pun geram.

“Giliran kritik pemerintah harus pake data dan fakta. Tapi giliran badan komunikasi RI boleh bikin teori konspirasi ga berdasar,” tulis salah satu warganet.

Yang lain nyeletuk lebih kena:
“Alam aja kena fitnah si mbak”

Leluhur kita sudah punya jawaban untuk memitigasi bencana

Daripada sibuk nuduh antek asing, mending kita dengerin nasihat leluhur kita sendiri. Pengetahuan lokal tentang bencana udah terbukti nyata menyelamatkan nyawa. 

Ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tapi ilmu yang diakui secara internasional.

Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030 masuk dalam dokumen PBB yang jadi rujukan global. Secara eksplisit dokumen ini mengakui pengetahuan lokal sebagai bagian penting dalam mengurangi risiko bencana. 

Ilmu yang diwariskan turun-temurun ini dianggap setara dengan pendekatan saintifik modern.

Coba lihat Smong di Simeulue, Aceh. Kata ini udah jadi bagian dari budaya tutur selama 97 tahun. 

Masyarakat Simeulue paham betul kalau air laut surut mendadak dan gempa mengguncang, itu pertanda tsunami. Pengetahuan ini diwariskan lewat lagu-lagu dan cerita rakyat. 

Hasilnya? Saat tsunami Aceh 2004, pulau yang berada dekat episentrum itu cuma kehilangan ratusan jiwa, sementara Banda Aceh dan wilayah lain kehilangan ratusan ribu. Smong bahkan sekarang udah masuk KBBI. Penghargaan internasional pun sudah mereka terima.

Di Pandeglang daerah dekat Anak Gunung Krakatau, masyarakat punya istilah “Cah Laut!” yang jadi sinyal evakuasi saat tsunami Selat Sunda 2018 menerjang. 

Begitu teriakan itu terdengar, warga langsung lari ke titik kumpul yang sudah disepakati. Nggak perlu nunggu sirine atau peringatan resmi yang seringkali telat.

Mitos-mitos leluhur bisa dijelaskan secara ilmiah

Masyarakat Baduy di Banten juga punya kearifan dalam membangun rumah tahan gempa. Rumah panggung dari kayu dan bambu, tanpa paku, pake anyaman rotan dan teknik pasak. 

Struktur ini bikin rumah bisa bergerak dinamis saat gempa, mengurangi risiko rubuh. Sayangnya, akses ke bahan-bahan alami ini makin sulit dan mahal, makanya banyak yang terpaksa bangun dari bata dan beton yang lebih murah, padahal lebih rawan ambruk saat gempa.

Di lereng Merapi, masyarakat punya ilmu titen, kemampuan membaca tanda-tanda alam berdasarkan pengamatan turun-temurun. 

Di Gunung Kelud, ritual Larung Sesaji nggak cuma seremoni agama, tapi juga jadi mekanisme budaya yang ningkatin kesiapsiagaan bencana. Riset ilmiah bahkan nunjukkin ritual ini punya manfaat psikologis, memperkuat ikatan sosial, dan ngebantu masyarakat mengingat jalur evakuasi.

Sementara itu, Penelitian yang saya lakukan sendiri di sekitar Danau Singkarak, Sumatera Barat, juga menemukan bahwa masih ada masyarakat setempat yang megang teguh pengetahuan tentang tanda-tanda alam. 

Kemunculan burung elang putih yang terbang di sekitar kampung, misalnya, dianggap sebagai isyarat akan datangnya gempa. 

Pengetahuan ini, meskipun terkesan sebagai mitos, sesungguhnya memiliki dasar yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Hewan memiliki kepekaan terhadap perubahan geofisika yang terjadi sebelum bencana.

Daripada menuduh teori konspirasi, dengarkan nasihat leluhur

Pengetahuan lokal dan sains modern sebenarnya kayak dua sisi mata uang. Sama-sama penting. 

Sains ngasih kita data dan alat canggih buat prediksi. Pengetahuan lokal ngasih kita kearifan dan kearifan yang sudah teruji ratusan tahun.

Tapi malah staf presiden memilih jalan pintas. Menuduh konspirasi asing terlibat bencana di Indonesia. Padahal yang dia butuhkan cuma buka mata dan telinga, dengerin apa yang sudah lama diketahui masyarakat di sekitar gunung api.

Kita nggak bisa mengubah posisi Indonesia sebagai kawasan rawan bencana, itu fakta geografis. Tapi kita bisa mengubah cara menghadapinya. Bukan dengan teori konspirasi yang ngawur, tapi dengan menjembatani kearifan lokal dan sains modern.

Intinya, daripada sibuk cari-cari “antek asing” di balik setiap bencana, masih masuk akal kita mendengarkan nasihat leluhur kita sendiri. Mereka sudah hidup berdampingan dengan gunung api selama berabad-abad. 

Mereka punya jawaban yang sudah terbukti nyata. Tidak perlu nunggu 20-40 tahun buat “membuktikan” teori konspirasi kayak yang dibilang Ulta. Pengetahuan lokal udah di sini, sudah terbukti, dan tinggal kita mau mengakui atau tidak.

Soalnya, kalau gunung meletus, yang nolongin kita bukanlah teori konspirasi. Namun, pengetahuan tentang kapan harus lari, ke mana harus lari, dan bagaimana cara selamat. 

Warisan leluhur yang sayangnya malah dilupakan, atau sengaja dilupakan di tengah hiruk-pikuk teori konspirasi yang tidak jelas dasar ilmiahnya.

Penulis: Mochammad Wahyu Gani
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Teori Konspirasi: Apa Itu Sebenarnya dan Bagaimana Orang Bisa Percaya?

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Mochammad Wahyu Ghani

Kontributor aktif media opini dan satir.