Fantiana Maria Mo’ong atau yang akrab dipanggil Suster Fanti baru saja menyelesaikan ujian skripsi di Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT). Salah satu mahasiswa Katolik ini digadang-gadang jadi calon wisudawati terbaik UMJT tahun 2026.
***
Suster Fanti adalah seorang biarawati sekaligus mahasiswa Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) UMJT. Meski menjadi bagian dari kelompok minoritas, hal itu tak menghalangi Suster Fanti untuk berkiprah di UMJT.
Setelah menempuh pendidikan selama 4,5 tahun, perempuan asal Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur ini akhirnya lulus dengan IPK yang menggembirakan. Pada akhir Januari 2025 lalu, ia juga berhasil menjadi delegasi Muhammadiyah Youth Interfaith Leadership Program (MY-ILP) di Denpasar, Bali.
MY-ILP merupakan program pelatihan kepemimpinan lintas agama bagi mahasiswa non-Muslim yang berkuliah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Program ini diselenggarakan Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Tujuannya untuk membangun toleransi, mengembangkan kepemimpinan yang inklusif dan kapasitas kepemimpinan generasi muda yang berwawasan kebangsaan, serta menjadi wadah dialog lintas iman.
Tak pelak, Suster Fanti berpotensi menjadi wisudawati terbaik UMJT tahun ini, sebab ia mampu merepresentasikan UMJT (transformasi dari Universitas Muhammadiyah Madiun atau UMMAD) sebagai kampus yang terbuka bagi siapa pun.
Perjuangan Suster Fanti menyelesaikan skripsi di UMJT
Sebagai mahasiswa Prodi Ilmu Kesos UMJT, Suster Fanti mengangkat skripsi berjudul “Pola Asuh Demokratis untuk Anak Down Syndrome” di UMJT. Fanti yang juga guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bhakti Luhur Madiun berkesempatan melakukan penelitiannya di sana atas izin dari Yayasan Bhakti Luhur Madiun selaku pihak pengelola SLB.
“Saya melakukan penelitian anak down syndrome yang ada di Panti Asuhan Bhakti Luhur Madiun selama 3 bulan. Di sana ada 6 anak down syndrome, tapi saya ambil sampel 3 saja,” ujar Suster Fanti dikutip dari keterangan resmi pada Senin, (7/9/2026).
Dari hasil temuannya, Suster Fanti menjelaskan bahwa pola asuh demokratis bagi anak down syndrome mencakup beberapa pola yakni kasih sayang dan dukungan emosional. Selain itu, komunikasi yang baik, kata dia, harus dilakukan dua arah.
Tak cukup sampai di situ, pengasuh dapat memberikan pelajaran soal kedisiplinan yang mendidik, kebebasan yang terarah, serta penghargaan atas keberhasilan anak down syndrome. Dengan begitu, label negatif kepada anak down syndrome dapat berangsur-angsur menghilang.
“Dengan pola asuh yang benar nantinya anak down syndrome bisa mandiri dan bisa diterima,” harap Suster Fanti.
Lulus skripsi di UMJT dengan IPK yang menggembirakan

Setelah data terkumpul, Suster Fanti berhasil menyelesaikan skripsinya selama 6 bulan. Hasil skripsi tersebut juga mendapat apresiasi dari Qoni’ah yang merupakan dosen pembimbing skripsinya. Beberapa dosen penguji seperti Nuril Endi Rahman serta Muh.Niam juga mengatakan bahwa proses ujian Suster Fanti berjalan dengan baik meski ada sedikit revisi.
“Ya, sudah lulus, setelah saya melakukan riset dengan bimbingan dosen prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UMJT yang sabar membimbing riset kami,” kata Suster Fanti.
“Tadi ada sedikit evaluasi di sistematika penulisan, ada tambahan latar belakang yang harus ditulis. Jadi ada sedikit revisi, tapi saya dinyatakan lulus langsung,” lanjutnya.
Dengan begitu, Suster Fanti pun dinyatakan lulus ujian skripsi di UMJT. Jika semua urusan akademik lancar, maka ia bisa mengikuti wisuda sarjana UMJT Periode tahun 2026 pada bulan Desember mendatang.
“3,90,” jawab Suster Fanti saat ditanya berapa IPK terakhir yang diraih.
Persaingan sehat antar wisudawati terbaik UMJT
Kaprodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UMJT sekaligus dosen pembimbing skripsi Suster Fanti, Qoni’ah, menyampaikan ada kemungkinan Suster Fanti bisa meraih gelar lulusan terbaik UMJT. Pertimbangan itu dapat dilihat dari kontribusi Fanti kepada masyarakat, terutama di panti asuhan tempat dia mengajar.
Fanti tak hanya berpengalaman dalam kegiatan sosial, tapi juga pengabdian masyarakat, relawan, atau program yang berdampak bagi masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan pengalamannya lolos seleksi MY-ILP tahun 2025.
“Kami juga menilai atas integritas dan sikap kedisiplinannya, tanggung jawab, etika, kejujuran, serta sikap profesional selama menjadi mahasiswa,” kata Qoni’ah.
Mendengar hal itu, Suster Fanti pun hanya tersenyum. Meski Fanti cukup percaya diri dengan raihan IPK dan pengalamannya, ia tidak ingin sombong. Sebab, masih ada teman seperjuangannya yang juga baru menyelesaikan skripsi di UMJT.
“Nanti saya lihat dulu (nilai dari mahasiswa lain). Misalnya, Rani dengan IPK 3,7 atau 3,8, tetap Rani yang jadi terbaik karena Rani lulus di semester 8,” jelas Qoniah.
Nama Rani yang disebut Qoniah adalah Maria Regina Asal Jawang. Ia merupakan mahasiswa Katolik yang juga satu prodi dengan Suster Fanti. Sama seperti Fanti, Rani juga memiliki pengalaman mengikuti MY-ILP pada tahun 2025.
Oleh karena itu, keduanya menjadi kandidat terkuat sebagai wisudawati terbaik UMJT tahun ini. Terlepas dari persaingan tersebut, Fanti dan Rani dapat membuktikan bahwa UMJT adalah kampus yang menjunjung tinggi nilai toleransi. Di sana, mahasiswa Muslim, Kristen, hingga Katolik dapat berinteraksi secara intens tanpa menghilangkan identitas mereka sebagai penganut agama yang taat.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.