Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
18 Agustus 2026
A A
Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Ilustrasi - Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Program magang pemerintah hingga rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai masih belum bisa menjadi jawaban atas persoalan jutaan pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi. Apalagi, selama ini para lulusan perguruan tinggi lebih banyak dibekali teori ketimbang keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja (industri). 

Wajar saja, ketika memasuki semester akhir, mahasiswa mulai overthinking dengan masa depan karier mereka setelah lulus kuliah. Begitu juga ketika tidak sedikit orang tua menyangsikan keputusan anaknya untuk menjadi mahasiswa, sebagaimana beberapa kali diliput Mojok. 

Iklan

Pasalnya, fakta dan data menunjukkan, betapa lulusan perguruan tinggi saat ini justru dihadapkan dengan persoalan sulitnya mencari pekerjaan—alias menjadi pengangguran. Sementara beberapa orang tua atau mahasiswa daftar kuliah di antaranya dengan membawa ekspektasi: ijazah dari perguruan tinggi adalah tiket untuk mempermudah mendapatkan akses pekerjaan layak. 

Namun, jangankan pekerjaan layak, mendapat pekerjaan dulu saja kini susahnya bukan main. Data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026 mencatat terdapat sekitar 14,31% atau 1.033.132 orang dengan latar belakang lulusan D-4, S-1, S-2, dan S-3 masih belum mendapat pekerjaan. 

Lulusan perguruan tinggi selama ini hanya dibekali teori 

Fenomena jutaan lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran tidak lepas dari kondisi dunia kerja yang terus berubah. Antara lain, perkembangan teknologi yang semakin cepat, tuntutan keterampilan baru, serta efisiensi di sejumlah sektor industri. 

Karena itu, Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Tadjuddin Noer Effendi, menilai bahwa meningkatnya jumlah pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi tidak semata karena lapangan pekerjaan yang terbatas. Menurut Tajuddin, persoalan mismatch (ketidaksesuaian) antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja turut menjadi penyebab sulitnya sarjana memasuki pasar kerja.

Belum lagi, dunia pendidikan selama ini dinilai cenderung memberikan bekal teori. Sementara dunia kerja membutuhkan tenaga yang memiliki keterampilan praktis. 

“Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan bawa keterampilan,” jelasnya dalam hasil wawancara tertulisnya di UGM, Selasa (18/8/2026). 

Perusahaan butuh mereka yang melek teknologi, bukan hanya modal ijazah

Sayangnya, semakin ke sini perusahaan tidak hanya melihat ijazah yang ditawarkan oleh si sarjana. Tetapi keterampilan apa yang si sarjana tawarkan dan dirasa relevan dengan kebutuhan perusahaan. Terutama di konteks teknologi. 

Pasalnya, saat ini dunia industri berkembang dengan pemanfaatan teknologi, termasuk munculnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, serta robotika. 

Perkembangan tersebut, bagi Tajuddin, membuat kebutuhan industri terhadap tenaga kerja tidak lagi hanya didasarkan pada latar belakang pendidikan. Tetapi juga pada kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi. Sementara itu, keterampilan tersebut dinilai belum sepenuhnya diperoleh mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. 

“Ijazah yang dimiliki belum cukup menjadi dasar bagi perusahaan untuk menerima lulusan apabila tidak disertai keterampilan,” tutur Tajuddin.

Iklan

“Jadi kalau sarjana hanya bawa ijazah mencari kerja itu kelihatannya sekarang sulit,” sambungnya.

Tekanan di industri padat karya sebagai penyerap tenaga kerja dan meningkatnya PHK

Selain persoalan kompetensi lulusan, struktur ekonomi Indonesia juga menjadi sorotan Tajuddin. Sebab, struktur ekonomi Indonesia dinilai belum cukup mampu dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas, terkhusus pada sektor industri. 

Selama ini industri padat karya menjadi salah satu penyerap tenaga kerja besar di Indonesia. Akan tetapi, industri ini justru menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat. 

“Kondisi ini mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja (PHK),” kata Tajuddin. 

Program magang pemerintah dan URI belum bisa atasi pengangguran dari lulusan perguruan tinggi

Pemerintah Indonesia pada akhirnya memang membuat beberapa upaya untuk mengatasi persoalan pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi. Di antaranya melalui program magang pemerintah hingga rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI). 

Dalam penilaian Tajuddin, program magang pemerintah sebenarnya merupakan langkah yang cukup baik untuk membantu lulusan memperoleh pengalaman dan keterampilan kerja. Namun, daya tampung program tersebut dinilai masih terlalu kecil dibandingkan jumlah pengangguran terdidik. 

Karena itu, ia mendorong pemerintah memperluas pusat pelatihan kerja modern yang berorientasi pada kebutuhan industri. “Seharusnya perlu pendirian pusat pelatihan yang dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan khususnya pada sarjana yang belum terserap pasar kerja,” beber Tajuddin. 

Sementara dalam konteks Universitas Republik Indonesia (URI), kata Tajuddin: apabila tujuan utamanya adalah mengatasi persoalan pengangguran terdidik, maka mendirikan perguruan tinggi baru membutuhkan waktu panjang sebelum dapat menghasilkan lulusan dengan kualitas yang dibutuhkan industri. 

“Bangsa ini sedang menghadapi pengangguran terdidik, itu tidak dapat diatasi dengan mendirikan perguruan tinggi,” tekannya.

Vokasi jadi solusi?

Sebagai solusi, Tajuddin menyarankan agar pemerintah dan perguruan tinggi memperkuat pusat pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Hal ini menurutnya dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi pengangguran terdidik.  

Program tersebut, lanjutnya, perlu menyasar lulusan perguruan tinggi seperti para sarjana yang belum terserap dunia kerja agar memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan industri.

“Kalau itu dapat terealisasi dengan baik, kemungkinan besar dalam dua atau lima tahun dapat menciptakan mungkin satu sampai dua juta penyerap pengangguran terdidik,” tegas Tajuddin. 

Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)

BACA JUGA: Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2026 oleh

Tags: benefit magang pemerintahlulusan perguruan tinggi pengangguranmagang hubmagang pemerintahmaganghubsarjana pengangguranuniversitas republik indonesiauri
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan?

11 Agustus 2026
Gaji magang di Jakarta bisa beli iPhone gak kayak kerja di Jogja

Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita

28 April 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

1 Januari 2026
Kuliah di universitas terbaik di Vietnam dan lulus sebagai sarjana cumlaude (IPK 4), tapi tetap susah kerja dan merasa jadi investasi gagal orang tua MOJOK.CO

Kuliah di Universitas Terbaik Vietnam: Biaya 1 Semester Setara Kerja 1 Tahun, Jadi Sarjana Susah Kerja dan Investasi Gagal Orang Tua

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Kelebihan Daikin sebagai AC terbaik untuk hunian modern dengan listrik terbatas MOJOK.CO

Daikin Multi-S, Pilihan AC Terbaik untuk Rumah Hemat Energi

15 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.