ADVERTISEMENT

Jalan Saya Penyandang Tuli Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Tanpa Biaya hingga Dukungan yang Memudahkan

Jalan penyandang tuli kuliah di Universitas Terbuka (UT) MOJOK.CO

Inklusivitas Universitas Terbuka (UT) memberi kesempatan bagi teman tuli untuk meniti jalan di pendidikan tinggi. Tidak hanya ruang, tapi juga memberi kemudahan dalam pembiayaan. 

***

Bagi Hikmatuzzulfa, melanjutkan kuliah bukan perkara mengejar gelar semata. Ada kebutuhan untuk belajar lebih banyak, terutama tentang bidang yang selama ini ia tekuni dalam pekerjaan.

Hikmatuzzulfa merupakan salah satu teman tuli yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan tinggi di Universitas Terbuka (UT). Perempuan asal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, itu kini tercatat sebagai mahasiswi semester 8 Jurusan Administrasi Negara di UT Bogor.

Ia memang sudah bekerja sebagai PPPK di Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK). Namun, pekerjaan tersebut justru membuatnya merasa perlu kembali belajar.

Pilihan untuk kuliah juga bukan perkara sederhana bagi Hikmatuzzulfa. Ia berasal dari keluarga sederhana dan kini telah berkeluarga dengan suami serta anak yang juga merupakan teman tuli. Suaminya bekerja sebagai buruh pabrik, sementara Hikmatuzzulfa harus membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan kuliah.

Namun, keinginan untuk melanjutkan pendidikan tetap ada. “Agar saya bisa belajar lebih banyak lagi tentang keilmuan di bidang saya bekerja, karena jurusan yang saya ambil sesuai dengan pekerjaan saya sekarang,” ujar Hikmatuzzulfa dalam jawaban tertulis yang diberikan kepada Mojok, Jumat (25/9/2026).

Hikmatuzzulfa, mahasiswa disabilitas teman tuli yang melanjutkan pendidikan tinggi dengan kuliah di Universitas Terbuka MOJOK.CO
Hikmatuzzulfa, mahasiswa disabilitas teman tuli yang melanjutkan pendidikan tinggi dengan kuliah di Universitas Terbuka. (Dok. Narasumber)

Ketika kuliah harus menyesuaikan dengan pekerjaan dan keterbatasan

Keputusan Hikmatuzzulfa memilih UT bermula dari rekomendasi atasannya di kantor. Ia kemudian mencari tahu lebih jauh tentang kampus tersebut.

Ada dua hal yang membuatnya mantap memilih kuliah di UT. Pertama, UT merupakan perguruan tinggi negeri. Kedua, sistem perkuliahannya memungkinkan Hikmatuzzulfa belajar dengan lebih fleksibel. Karena bagi seorang pekerja sekaligus teman tuli sepertinya, fleksibilitas semacam itu menjadi variabel krusial. 

“Karena sistem perkuliahannya online, jadi memudahkan saya untuk Inklusivitas yang saya miliki yaitu tuli dan bekerja,” kata Hikmatuzzulfa.

Kuliah daring juga membuat komunikasi selama proses pembelajaran terasa lebih memungkinkan baginya. Ia tidak harus selalu mengandalkan komunikasi tatap muka yang berpotensi menghadirkan kendala.

Kuliah di Universitas Terbuka (UT) memberi kemudahan Hikmatuzzulfa sebagai teman tuli sekaligus pekerja dan ibu rumah tangga MOJOK.CO
Kuliah di Universitas Terbuka (UT) memberi kemudahan Hikmatuzzulfa sebagai teman tuli sekaligus pekerja dan ibu rumah tangga. (Dok. Narasumber)

“Cukup memudahkan saya untuk menjalani proses perkuliahan yang lebih fleksibel. Saya bisa menjalin komunikasi dengan dosen dan teman-teman hanya dengan komunikasi secara tertulis dengan online,” sambungnya.

Pilihan tersebut sekaligus mengurangi salah satu kekhawatiran yang sempat muncul di benaknya. Dalam perkuliahan tatap muka, Hikmatuzzulfa perlu memikirkan bagaimana berkomunikasi dengan dosen maupun teman-teman yang mungkin belum terbiasa berkomunikasi dengan teman tuli.

Di UT, sebagian proses perkuliahan yang dilakukan secara daring membuat persoalan tersebut terasa lebih mudah dihadapi.

Sempat diragukan keluarga, lalu kuliah di Universitas Terbuka (UT) tanpa biaya

Meski akhirnya mendapat dukungan, keputusan Hikmatuzzulfa untuk kembali kuliah sempat membuat keluarganya khawatir.

Kekhawatiran keluarganya sangat beralasan. Hikmatuzzulfa bukan hanya seorang mahasiswa. Ia juga bekerja, telah berkeluarga, dan merupakan teman tuli. Keluarga sempat mempertanyakan apakah ia mampu mengikuti ritme perkuliahan dengan berbagai kesibukan dan kondisi tersebut.

Namun, kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi dukungan penuh setelah keluarga mengetahui bagaimana sistem pendidikan di UT. “Keluarga bahkan membantu saya bertahan menjalani proses perkuliahan sampai semester 8 ini,” ujarnya.

Ada satu hal lain yang membuat perjalanan kuliahnya terasa lebih ringan: biaya pendidikan. Hikmatuzzulfa menjadi salah satu penerima Beasiswa ADIK (Aspirasi Pendidikan), yakni bantuan biaya pendidikan dari pemerintah bagi siswa dari wilayah Papua, daerah khusus 3T, anak Pekerja Migran Indonesia, serta penyandang disabilitas.

Hikmatuzzulfa, mahasiswa disabilitas teman tuli yang melanjutkan pendidikan tinggi dengan kuliah di Universitas Terbuka MOJOK.CO
Hikmatuzzulfa, mahasiswa disabilitas teman tuli yang melanjutkan pendidikan tinggi dengan kuliah di Universitas Terbuka. (Dok. Narasumber)

“Saya menerima beasiswa penuh tiap semester, sangat membantu saya secara ekonomi,” tutur Hikmatuzzulfa.

Bagi Hikmatuzzulfa, bantuan tersebut bukan hanya soal biaya kuliah. Pasalnya, ada ongkos lain yang tetap harus dipikirkan setiap kali ia perlu datang ke kampus.

Rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, berjarak cukup jauh dari UT Bogor. Karena itu, ketika harus datang ke kampus untuk mengikuti ujian atau keperluan lainnya, biaya transportasi juga menjadi variabel yang harus dihitung. 

“Dengan mendapatkan beasiswa tersebut, sangat membantu meringankan beban saya secara finansial,” katanya.

Dosen dan staf Universitas Terbuka (UT) bantu saya hadapi kesulitan 

Kuliah daring memang memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi Hikmatuzzulfa. Tetapi bukan berarti seluruh proses perkuliahan otomatis berjalan mulus. Ada kalanya ia tetap mengalami kesulitan memahami materi maupun mengerjakan tugas karena kondisi dalam dirinya.

Di titik inilah dukungan dari lingkungan kampus menjadi penting. Hikmatuzzulfa menyebut, dosen dan staf di UT Kampus Bogor cukup responsif ketika ia mengalami kesulitan. Ia mendapat kemudahan dalam proses pembelajaran, terutama ketika ada tugas yang sulit  ia pahami. 

“Dalam pembelajaran saya cukup diberi kemudahan oleh para dosen apabila ada tugas yang memang saya kesulitan dalam mengerjakannya karena keterbatasan saya,” beber Hikmatuzzulfa.

Kini, perjalanan itu tinggal selangkah lagi menuju garis akhir. Hikmatuzzulfa telah sampai di semester 8. Setelah bertahun-tahun membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kuliah, ia sebentar lagi dapat menuntaskan pendidikan tingginya di UT.

Ia berharap ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak berhenti sebagai gelar di belakang nama. Pengetahuan tersebut ingin ia gunakan untuk menunjang pekerjaannya di Direktorat PKPLK sekaligus meningkatkan performanya sebagai seorang pekerja.

Lebih dari itu, ada harapan lain yang tidak kalah penting bagi Hikmatuzzulfa. Ia ingin pengalaman kuliahnya menjadi semacam penanda bahwa kondisi sebagai teman tuli tidak semestinya membuat seseorang berhenti mengejar pendidikan.

Ia ingin teman-teman tuli lainnya tidak ragu melanjutkan pendidikan tinggi, terutama ketika tersedia perguruan tinggi dengan sistem pembelajaran yang fleksibel dan inklusif seperti UT, yang juga menyediakan berbagai skema beasiswa untuk membantu mahasiswa mendapatkan akses pendidikan tinggi tanpa terbebani persoalan biaya. 

“Jangan jadikan keterbatasan kita menjadi penghalang untuk kita bisa bergerak maju. Karena setiap ada niat, doa dan usaha keras pasti selalu ada jalan kemudahan dalam menjalankan setiap hal baik yang ingin kita lakukan,” tutupnya.***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kuliah UT bikin Tak Khawatir Soal Kerja, Tak Cuma Dapat Ijazah tapi Modal Daya Tawar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 30 September 2026 oleh .
Artikel Advertorial

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.