Bagi Ahmad Nur Aziz (20), kuliah di Taiwan tidak berarti hidupnya cuma berkutat di ruang kelas. Mahasiswa asal Gamping, Sleman, itu harus membagi waktu antara belajar, mencari uang, dan mengerjakan pekerjaan yang bisa melebihi dari gaji ASN golongan bawah di Indonesia.
***
Aziz sekarang sedang kuliah di Cheng Shiu University, Kaohsiung, Taiwan, mengambil jurusan Mechanical Engineering atau Teknik Mesin. Di luar jam kuliah, ia bekerja paruh waktu di restoran sebagai waiter. Namun pekerjaannya tidak berhenti ketika pesanan makanan selesai diantar. Ia juga membersihkan dapur, menyikat toilet, membuang sampah, sampai membersihkan got.
Dari beberapa pekerjaan yang ia ambil, Aziz mengaku bisa memperoleh sekitar Rp7,5 juta per bulan, kadang lebih dari itu tergantung dengan pekerjaan yang tersedia setiap bulannya. Angka itu memang terlihat besar jika dibawa pulang ke Indonesia. Namun Aziz justru merasa orang-orang hanya melihat nominal tersebut tanpa mengetahui pekerjaan yang ia jalani.
Kuliah di Taiwan, kerja apa saja yang penting dibayar
Cheng Shiu University berdiri sejak 1965 dan berkembang sebagai universitas yang berorientasi pada pendidikan vokasi dan praktik. Kampus ini memiliki Department of Mechanical Engineering yang menyediakan program sarjana hingga doktoral.
Aziz kini memasuki semester ketiga. Tahun pertamanya ia gunakan untuk belajar bahasa Mandarin sebelum menjalani perkuliahan lebih jauh. Di sela kuliah, ia mencari pekerjaan yang bisa menambah pemasukan.
“Sekarang aku kerja di resto bagian waiters, tapi kadang bantu-bantu bersih-bersih dapur, nyikat WC, buang sampah, bersihin got,” kata Aziz kepada saya melalui WhatsApp, Rabu (30/9/2026).
Bagi mahasiswa asing di Taiwan, kerja sambilan memang memiliki aturan. Mahasiswa asing yang sudah terdaftar di universitas dapat mengajukan izin kerja kepada otoritas terkait. Jadi, kehidupan Aziz bukan sekadar cerita tentang mahasiswa Indonesia yang pergi ke luar negeri lalu mendadak punya banyak uang. Ia harus mengatur kuliah sekaligus pekerjaan agar keduanya tetap berjalan.
Rp7,5 Juta lebih dalam sebulan memang terlihat besar, tapi kerjanya tidak ringan
Aziz menyebut penghasilannya dari berbagai pekerjaan bisa mencapai lebih dari Rp7,5 juta per bulan. Namun angka tersebut tidak datang dari satu pekerjaan dengan jabatan keren. Ada pekerjaan sebagai waiter. Ada dapur yang harus dibersihkan. Ada toilet yang harus disikat. Ada sampah yang harus dibuang.
Pemerintah Taiwan menetapkan upah minimum 2026 sebesar Rp16,5 juta per bulan, atau sekitar Rp110 ribu per jam jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp560 per dolar Taiwan. Angka tersebut berlaku sejak Januari 2026.
Aziz mengatakan kebutuhan hidup mahasiswa juga tergantung gaya hidup. Ia cukup terbantu karena program kuliahnya menyediakan asrama sehingga ia tidak perlu membayar sewa kos atau apartemen. Meskipun, asramanya sendiri jauh dari gambaran tempat tinggal mahasiswa yang nyaman.
“Kalau biaya bulanan makan dan lain-lain bisa tergantung kitanya mau hemat banget atau enggak. Kalau average orang umum biasanya di angka Rp3,5 juta-an, ya walau asramanya juga jelek banget, tapi masih so-so lah kalau cuma buat tidur,” ujarnya.
Gaji dari nyikat wc yang bikin ASN iri
Ada satu hal yang paling membuat Aziz kesal selama berada di Taiwan. Bukan pekerjaan kasar. Bukan pula kehidupan sebagai mahasiswa asing. Ia justru kesal ketika orang-orang di Indonesia melihat dirinya hanya dari uang yang berhasil ia dapatkan.
“Banyak orang cuma memandang sebelah mata. Mereka lihat uangku, tapi mereka nggak lihat perjuanganku dapat uang segitu,” kata Aziz.
Menurutnya, orang-orang di Indonesia sering menganggap hidupnya mudah hanya karena bekerja di Taiwan, bahkan banyak kawan-kawannya yang menjadi ASN di Indonesia iri kepadanya. Karena menurut data, gaji ASN di Indonesia masih tergantung dari pangkat dan golongan.
“I mean, mereka lihatnya kaya, ‘Wow, Aziz ini uangnya banyak banget ya, kerja di Taiwan uangnya berjuta-juta.’ Meanwhile aku di sini kaya banting tulang beneran,”
Ia bahkan menggambarkan pekerjaan yang ia lakukan dengan kalimat yang cukup telak.
“Seolah-olah aku menafkahi anak dan istri. Kerjaan apa aja aku sikat. Nyikat WC, buang sampah, bersihin got,” ujarnya tegas.
Ironinya, kerja keras tersebut justru sering membuat Aziz menjadi tempat orang lain meminjam uang. Tidak hanya satu-dua orang, bahkan Aziz sendiri sampai lupa kapan terakhir orang tersebut meminjam dan mengembalikannya, padahal status orang tersebut adalah ASN.
“Orang-orang banyak yang kuliah pulang kuliah pulang, terus tiba-tiba mereka pinjam uang ke aku seolah-olah uangku datang dari mimpi doang,” jawabnya kesal
Kalimat itu mungkin menjadi bagian paling pahit dari pengalaman Aziz sebagai mahasiswa Indonesia di Taiwan. Uangnya terlihat. Lelahnya tidak.
Mencari uang di Taiwan, mencari bahagia di Indonesia
Aziz tidak menganggap Taiwan buruk. Justru menurutnya Taiwan memberikan pengalaman berbeda tentang bagaimana sebuah negara mengatur kehidupan sehari-hari. Ia melihat aturan di Taiwan lebih ketat dibanding Indonesia.
“Di sini negaranya lebih tertata dan lebih ada aturannya. Di sini nggak bisa bebas atau seenaknya kaya di Indonesia,” katanya.
Namun ketika pertanyaannya berubah dari mencari uang menjadi mencari kesenangan, jawabannya berbeda.
“Kalau untuk cari uang, better go to Taiwan. Tapi kalau cuma mau happy, seneng-seneng, lebih enak di Indonesia karena bebas aja,” ujarnya.
Ia biasanya pulang ke Indonesia setahun sekali. Jika sedang mendapat rezeki lebih, ia bisa pulang setiap semester. Ada pula persoalan lain yang tidak bisa ia selesaikan hanya dengan uang: makanan halal dan kehidupan sebagai Muslim di negeri orang.
“Mencari makanan halal jujurly susah banget, maksudnya yang literally ada label halal-nya, toh karena hidup di kota yang dinamis dan memang kebanyakan non-muslim jadi ya harus pinter-pinter nyari makanannya sih,” ujar Aziz.
Dalam kondisi seperti itu, ia lebih banyak berhati-hati memilih makanan agar tidak mengandung babi. Namun ada satu hal yang paling ia rindukan dari Indonesia: suara azan.
“Bener-bener dengar azan cuma kalau Jumat. Selain itu nggak dengar sama sekali,” ujarnya menjelaskan kerinduan kepada suara azan masjid.
Uang bertambah, pengalaman juga bertambah
Aziz belum memastikan akan tinggal lama di Taiwan setelah menyelesaikan kuliah. Ia justru ingin mencoba negara lain untuk mendapatkan pengalaman baru.
“Kayaknya aku pengen sekolah ke negara lain deh. Bukan karena Taiwan nggak enak, tapi pengen nyoba experience baru aja,” katanya.
Pilihan itu menunjukkan bahwa bagi Aziz, Taiwan bukan sekadar tempat mencari uang. Ia sedang mengumpulkan pengalaman hidup sekaligus pendidikan.
Di satu sisi, Taiwan memberinya kesempatan kuliah, bekerja, dan mendapatkan pemasukan. Di sisi lain, ia harus menerima konsekuensi sebagai mahasiswa asing: pekerjaan kasar, aturan yang lebih ketat, biaya hidup, keterbatasan makanan halal, dan rasa sepi karena jauh dari rumah.
Karena itu, Rp7,5 juta per bulan sebenarnya hanya satu angka yang membuat ASN di Indonesia iri. Di baliknya ada mahasiswa 20 tahun yang setelah kuliah masih harus menjadi waiter, membersihkan dapur, menyikat WC, membuang sampah, dan membersihkan got. Mungkin itu sebabnya Aziz keberatan ketika orang Indonesia hanya bertanya, “Oleh nyilih duite ora?” Sebab sebelum uang itu sampai ke rekeningnya, ada toilet yang sudah lebih dulu ia sikat.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan