Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
30 Maret 2026
A A
Gen Z rela sise hustle

Ilustrasi - Gen Z rela sise hustle (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Side hustle atau bekerja sampingan semakin marak, bahkan seakan-akan telah menjadi bagian dari gaya hidup pekerja saat ini. Tak terkecuali, gen Z yang mulai memasuki dunia kerja. 

Tekanan ekonomi, pasar kerja yang tidak stabil, sampai alasan paling personal seperti keinginan mengeksplorasi minat membuat gen Z melakoni lebih dari satu pekerjaan dalam satu waktu.

Aashna Doshi (23) adalah contohnya. Pekerja profesional di bidang IT ini tidak cukup dengan satu pekerjaan yang sudah dimilikinya di perusahaan bergengsi, Google di Amerika Serikat. Ia masih menekuni dua pekerjaan sekaligus, tanpa meninggalkan pekerjaan utamanya.

Side hustle membuat gen Z bisa lebih bebas

Selain pekerjaan utama di perusahaan teknologi ternama tersebut, Doshi juga menjadi konten kreator di media sosial. Ia merekam podcast dan konten lainnya, mengenai bekerja di bidang teknologi dan kehidupan di kota yang konon tidak pernah tidur, New York.

Tak jarang, Doshi melakukan ketiganya sekaligus dalam satu hari.

Akibatnya Doshi tidak bisa melepaskan dirinya dari monitor untuk memantau kondisi kesehatan mentalnya. Ia harus memastikan diri tidak kelelahan selagi menjalankan tiga pekerjaan, agar dapat menuntaskan ketiga pekerjaannya dalam satu waktu.

“Dengan cara ini aku nggak akan kelelahan dan bisa lebih konsisten dengan podcast dan pembuatan konten,” kata dia, dilansir dari The Guardian, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, kebiasaan melakukan side hustle ini secara tidak langsung membentuk sebuah kebiasaan yang membantu Doshi mengekspresikan diri sebagai pekerja di bidang teknologi. Ia tidak mengenal batasan dalam tampil di media sosial, ataupun berbagai platform yang diinginkannya.

Hanya karena dirinya adalah seorang pekerja teknologi, kata Doshi, bukan berarti sisi lain dirinya harus ditutupi.

“Dari side hustle aku bisa memberi wadah diriku untuk kreatif dan mengekspresikan diri tanpa batasan,” katanya. “Ini mungkin hal paling besar yang pernah kulakukan, dalam menampilkan diri sebagai individu yang berambisi, punya kemampuan dan passion, lawan dari Aashna si pengembang perangkat lunak di Google.”

Side hustle yang membantu Doshi untuk lebih dapat jujur kepada dirinya juga dimiliki lebih dari setengah mayoritas gen Z lainnya di AS. Penelitian Haris Poll mengatakan 57 persen gen Z memiliki side hustle.

Mereka ditemukan tidak hanya mencurahkan seluruh usahanya dalam satu karier, tetapi juga menjalankan dua pekerjaan sekaligus. Pekerjaan utama digunakan sebagai landasan finansial, sedang ambisi dan minat pekerjaan difasilitasi melalui pekerjaan lainnya, seperti yang dilakukan Doshi.

Bekerja sampingan memberi tujuan dan alasan bertahan hidup 

Sen Ho (25) yang bekerja di toko alat tulis juga mempunyai pekerjaan sampingan seperti Doshi. Sen Ho membuat ilustrasi digital di waktu luangnya.

Hal ini, kata Sen Ho, lahir dari kebiasaannya mengamati generasi di atasnya, orang tua, yang banyak mencurahkan waktu dan tenaga untuk pekerjaan. Karena itu, dia merasa perlu mengejar sesuatu yang membuatnya merasa puas, apabila tidak bisa dari pekerjaan utamanya.

Iklan

“Dari mengamati orang tua yang mencurahkan segalanya untuk pekerjaan, generasi kami menyadari perlunya mengejar sesuatu yang kami cintai dan merasa puas,” kata dia.

“Kalau aku tidak menjalankan side hustle, aku akan kehilangan arah dalam hidup. Inilah yang membuat aku terus bertahan,” tambahnya.

Selaras dengan Sen Ho yang merasa bahwa side hustle telah menjadi bagian hidupnya yang tidak bisa dilepaskan, bahkan alasannya untuk bertahan hidup, Survei Haris Poll menemukan bahwa generasi muda tidak lagi menganggap penting pekerjaan kantoran.

Bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore dinilai bukan lagi cara mencapai kesuksesan finansial, justru side hustle dan investasi adalah cara tersebut.

Generasi pekerja muda, di AS misal, juga memprioritaskan nilai-nilai yang berbeda dari sebelumnya. Mereka lebih mengutamakan fleksibilitas dan tujuan yang tidak mungkin dapat ditawarkan pekerjaan korporat konvensional.

Presiden bisnis perbankan Citizens Bank, Mark Valentino, mengatakan, gen Z berpikir perlu membangun portofolio karier. Dalam hal ini, pekerjaan yang dicatatkan tidak hanya satu, tetapi juga yang memberikan mereka kepuasan.

“Gen Z berpikir dalam portofolio karier bukan cuma satu jalur, tapi banyak hal berbeda yang memberi mereka kepuasan,” kata Mark.

“Mereka melihat orang tua yang berjuang dan menyimpulkan kalau mereka lebih memilih keeseimbangan. Mereka nggak percaya bisa mencapai kesuksesan finansial sama seperti generasi sebelumnya, jadi memfokuskan kembali tujuannya,” katanya menambahkan.

Baca halaman selanjutnya…

Side hustle memberi rasa aman, tapi jadi tidak punya kehidupan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 1 April 2026 oleh

Tags: alasan gen z side hustleetos kerja gen zGen Zgen z bekerjagen z borosgen z hobi belanjagen z side hustleinfo lokerkerja gen zlapangan kerjapekerjaan sampingan
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial
Urban

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO
Urban

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki MOJOK.CO

Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam

16 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
AMSI dan UAJY kerja sama untuk ciptakan media yang sehat. Penandatanganan diwakili Rektor UNY Sri Nurhartanto dan Ketua AMSI Pusat Wahyu Dyatmika. (Istimewa)

AMSI dan UAJY Kerja Sama untuk Ciptakan Ekosistem Media yang Sehat

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.