Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Dihina karena Hanya Anak Petani dari Pelosok Desa, Kini Berhasil Jadi Lulusan Terbaik S2 UIN Semarang berkat Doa Ayah

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
30 Maret 2026
A A
Nurul Fajriatussaadah, lulusan terbaik S2 di UIN Semarang

Ilustrasi - Nurul Fajriatussaadah, lulusan terbaik S2 di UIN Semarang (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Belajar seharusnya menjadi hak setiap orang. Akan tetapi, untuk bisa menimba ilmu kembali setelah lulus dari SMA, Nurul Fajriatussaadah harus menghadapi halang-rintang karena hanya berstatus sebagai anak petani dari pelosok desa. Jadilah, bisa kuliah hingga menjadi lulusan terbaik S2 di UIN Walisongo Semarang terasa seperti mimpi baginya.

Diragukan bisa kuliah karena berasal dari keluarga sederhana

Nurul, nama panggilannya, lahir sebagai anak perempuan pertama di sebuah desa pelosok dengan akses pendidikan terbatas.

Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan status ekonomi yang tidak tergolong berada. Bisa dikatakan, ekonomi keluarganya terbilang menengah ke bawah. Ayahnya adalah seorang petani dengan penghasilan tidak tetap, sedang sang ibu adalah seorang  guru ngaji.

Kondisi keluarganya di desa membuat Nurul menerima keraguan dan cemoohan dari orang-orang di sekelilingnya. Bukan satu dua kali, Nurul disebut tidak mungkin duduk di bangku kuliah.

Saking seringnya, ia dan kedua orang tuanya merasa hal tersebut mustahil.

“Banyak yang meragukan dan mencemooh ketidakmungkinan saya melanjutkan pendidikan,” kata Nurul, seperti dikutip dari laman UIN Walisongo, Senin (30/3/2026).

Namun, hinaan itu tidak lantas membuat Nurul menyerah. Ia berusaha mencari beasiswa yang dapat memfasilitasinya untuk melanjutkan kuliah. Hasilnya, semua tidak sia-sia.

Nurul tidak hanya bisa melanjutkan kuliahnya pada jenjang S1, melainkan juga meneruskannya hingga S2 di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang.

“Namun melalui beasiswa sejak S1 hingga S2, semua keraguan itu berubah menjadi tangisan haru,” kata dia.

Mati-matian bekerja sambil kuliah S2 di UIN

Meski begitu, perjuangan Nurul tidak berhenti sampai dirinya bisa melanjutkan kuliah. Ia masih harus berjuang mati-matian selama berkuliah S2 di Semarang untuk membiayai kebutuhan hidup mandiri tanpa membebani orang tua.

Nurul melakoni dua pekerjaan sekaligus secara part-time dan work from home (WFH).

Kedua pekerjaan tersebut diimbangi dengan jadwal perkuliahannya yang padat sehingga Nurul harus berusaha membaginya sebaik mungkin. Mulai dari pagi sampai sore pada hari kuliah, ia akan pergi ke kampus untuk belajar. Akhir pekannya digunakan untuk pekerjaan freelance, sedang sisa waktunya dimanfaatkan untuk pekerjaan lain dan pengerjaan tugas kuliah.

Dengan kata lain, rutinitas Nurul dipenuhi cara berjuang bertahan hidup selama S2.

“Hari kuliah saya belajar dari pagi sampai sore, lalu lanjut kerja. Akhir pekan saya ambil tugas freelance,” kata dia.

Iklan

Kendati seakan-akan tidak ada istirahat dalam agendanya, Nurul memastikan dia menyelesaikan semua tugas kuliahnya sebelum tenggat waktu. Sebagai bentuk keseriusan dalam menjalani kuliah S2, Nurul juga menyempatkan belajar di tengah kegiatannya.

“Prinsip saya, semua tugas harus selesai sebelum deadline,” kata Nurul.

“Saya tidak belajar setiap hari, tapi saat belajar, saya pastikan waktunya berkualitas,” katanya menambahkan.

Berhasil menjadi lulusan S2 terbaik berkat doa ayah

Berkat kerja kerasnya, Nurul tidak hanya berhasil lulus dengan gelar magister. Mahasiswi Program Studi S2 Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), ini juga dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Jenjang Magister pada wisuda periode Februari 2026 di UIN Walisongo Semarang pada Sabtu (7/2/2026) lalu.

Kuliah yang sebelumnya hanya menjadi mimpi Nurul, kini diwujudkan dalam pencapaian yang lebih baik, yakni sebagai wisudawan terbaik.

Padahal, dirinya sempat menganggap kesempatan kuliah sebagai sesuatu yang mustahil. Tidak ada yang menyangka bahwa perempuan dari desa akan mendapatkan beasiswa hingga menjadi lulusan terbaik. Karena itulah, gelar ini seakan-akan menjadi kado terindah bagi kedua orang tuanya di kampung halaman.

Saat mengirimkan foto mengenakan selempang bertuliskan “Wisudawan Terbaik” kepada orang tuanya, sang ayah memberikan reaksi begitu bangga terhadapnya.

Ayah, kata Nurul, adalah sosok yang paling optimistis terhadap kemampuannya sejak awal.

“Benar kan, doa saya dikabulkan,” ujar sang ayah kepada Nurul.

Tak dipungkiri, doa ayah-ibu sebagai kedua orang tuanya mengiringi langkah Nurul dalam menggapai kesuksesan. Karena itu, Nurul tetap rendah hati, gelar tersebut bukanlah penentu masa depan baginya.

Demikian pula Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna yang didapatkan Nurul. Nilai 3,92 menjadi dorongan bagi Nurul untuk dapat berkontribusi ke depannya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kisah “Mahasiswa Abadi” di UNY Nyaris Kena DO hingga Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos CPNS usai Wisuda dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Maret 2026 oleh

Tags: alumni UINbeasiswa kuliahbeasiswa kuliah s2kuliah di uinkuliah s2kuliah uinlulusan UINmahasiswa asal desaperjuangan kuliahuin semaranguin walisongo semarang
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI
Edumojok

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO
Pojokan

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO
Edumojok

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO
Edumojok

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.