Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

Anwar Kurniawan oleh Anwar Kurniawan
27 Mei 2026
A A
Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO

Ilustrasi Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO– Tujuan awal dari meme Mas Bahlil Ganteng mungkin untuk menelanjangi ego Kanda Bahlil, eh malah jadi lucu dan menggemaskan.

“M B G, Mas Bahlil Ganteng…” adalah puncak komedi satire terhadap elite politik yang belakangan ini sukses mengoyak kewarasan warga republik TikTok, Instagram Reels, dan Youtube Shorts.

Lebih dari itu, himpunan meme Bahlil Lahadalia agaknya telah sampai pada titik paling kronis. Tapi ini menurut saya yang nyaris saban hari mendapat DM yang sangat meme-Bahlil-kan.

Pertanyaannya, “buah apa yang paling manis? Buahlil!!”

Jika kamu membaca pertanyaan itu sambil nyanyi, walau dalam hati, maka kamu telah sah menjadi salah satu konsumen aktif dari sesuatu yang bahkan kamu sendiri tak pernah memilihnya, menghendakinya, apalagi membutuhkannya.

“My little bolu ketan…”

Dah, hop!

Gara-gara Kanda Bahlil, warganet kalah telak melawan algoritma

Sebagai masyarakat sipil, kita harus mengakui kenyataan bahwa warganet Indonesia baru saja kalah telak melawan klenik algoritma. Niat hati ingin melakukan perlawanan lewat jalur shitposting, eh malah berujung memberikan kampanye branding gratisan paling sukses abad ini untuk sang menteri cum politisi.

Sebelum lagu yang disinyalir buatan akal imitasi (AI) itu viral, media sosial kita telah lebih dulu dihujani konten atau tren “Ups kanda suka, dinda punya gaya.” Di TikTok, konten “Kanda-Dinda” ini sempat menjadi tren.

Sejauh yang saya amati di media sosial, tragedi kultural fenomena Kanda Bahlil ini bermula dari wawancara di Youtube, waktu sang Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Golkar ini dengan luwesnya menggunakan sapaan “Kanda-Dinda”.

Warganet, dengan kelincahan jemarinya yang terlanjur muak dengan elitisme berbondong-bondong membanjiri kolom komentar. Mereka menganggit puja-puji hiperbolis dan absurd.

Komentar apapun tentang Bahlil akhirnya memberikan nuansa hiburan. Sosok Bahlil pun tampak lebih energik daripada pencapaian kebijakan yang dia hasilkan di kursi eksekutif.

Apa yang dilakukan warganet secara sporadis itu adalah sebentuk praktik oppositional reading.

Mesin membuat Kanda Bahlil lucu dan menggemaskan

Dalam disiplin cultural studies, ini berarti publik secara sadar menolak pesan dominan dari seorang figur penguasa, memelintirnya menjadi lelucon satire untuk menelanjangi ego pejabat tersebut. Singkatnya, itu adalah sebentuk perlawanan kultural.

Iklan

Namun, Stuart Hall, penggagas konsep oppositional reading, mungkin akan emosional melihat kelanjutan ceritanya. Komentar-komentar satire itu kini dipungut oleh kreator, dilempar ke dalam kuali generator musik AI, dan disulap menjadi irama yang, brengseknya, kelewat catchy.

Saat lagu itu masuk ke pusaran algoritma dan dipakai ratusan ribu kali untuk joget dan lip-sync, maknanya berputar 180 derajat. Generasi baru yang mengonsumsi sound tersebut barangkali tak lagi membacanya sebagai satire.

Mereka kini tampaknya melakukan dominant reading: menerima lagu itu secara harfiah sebagai sesuatu yang imut, lucu, dan menggemaskan. Ruang kritis dibajak oleh mesin. Niatnya nge-troll, hasilnya justru glorifikasi.

Celakanya, lagu My Little Bolu Ketan bukan satu-satunya glitch dalam matriks kewarasan politik kita saat ini. Jika dilihat lebih jeli, reproduksi citra sang menteri menjadi komoditas cringe itu telah beroperasi secara sistematis dan masif.

Masih ingat meme “matikan kompor” awal tahun 2026 ini?

Alih-alih menciptakan kepatuhan, petuah Kanda Bahlil kepada warga pengguna gas tabung (subsidi) LPG justru berujung pada reduksi wacana: dari transisi energi menjadi guyonan slapstick di ruang media.

Agak lawas, medio 2025, linimasa media sosial kita sempat dipenuhi rentetan parodi “Kajian Agama Bersama Ust. Bahlil” yang memosisikan dirinya seolah-olah figur pop-religius yang jenaka.

Kritik rasional lumpuh oleh hegemoni politik cringe

Ironisnya, di balik gelak tawa warganet, ada manuver depolitisasi yang cukup mengerikan.

Misalnya, di dunia nyata Kanda Bahlil bisa saja berpidato dengan ngeri-ngeri sedap soal “Raja Jawa” yang, katanya, tak boleh dianggap remeh. Saat itu, orasinya bahkan menjadi metafora feodal paling telanjang yang sukses bikin bulu kuduk para aktivis demokrasi merinding.

Di dunia nyata pula, Kanda Bahlil bisa meraih gelar doktor dari kampus kuning dalam waktu yang, saking kilatnya, membuat para pejuang disertasi berdarah-darah merasa seperti remah-remah rengginang. Publikasi ilmiah dikorbankan demi lulus cepat, etik akademik dipertanyakan habis-habisan oleh publik hingga guru besar.

Tapi, media sosial membentangkan citra Kanda Bahlil yang sama sekali berbeda. Semua horor neo-feodalisme dan keajaiban akademik itu menguap begitu saja. Publik di platform digital segan mendebat etika publikasi atau bahaya oligarki. Kita kini asyik bikin konten “aku tim harta, takhta, kakanda.” Kritik rasional lumpuh total oleh hegemoni politik cringe.

Baca halaman selanjutnya

Gara-gara, “Ups kanda suka”, kita lupa siapa Bahlil Lahadalia

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2026 oleh

Tags: bahlilBahlil LahadaliaKanda BahlilMas Bahlil GantengMBGmemepilihan redaksi
Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan, atlet ketik di bidang media and cultural studies; tertarik sama isu dan konten receh, apalagi dolar; dosen di kampus paling kalcer se-Solo Raya, ISI Surakarta.

Artikel Terkait

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO
Esai

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
papua.MOJOK.CO
Jagat

Masyarakat Adat di Tengah Krisis Iklim: Hak-Hak Dijegal Birokrat, Hutan Dibabat demi Konglomerat

15 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO
Fragmen

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suntikan dana investasi dari investor Tiongkok untuk pengembangan industri kendaraan listrik (EV) di Kendal Jawa Tengah (Jateng) MOJOK.CO

Saat Tiongkok Suntik Rp15 T untuk Industri Kendaraan Listrik di Kendal Jateng: Serap 10.000 Tenaga Kerja, Lokal Jadi Prioritas Utama

15 Juni 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
5 tips dapat tiket murah untuk liburan keluarga di Pantai Pandawa Bali MOJOK.CO

5 Tips Dapat Tiket Murah untuk Liburan Keluarga di Pantai Pandawa Bali

11 Juni 2026
Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Cara Jawa Tengah (Jateng) menjaga inflasi dan ketersediaan pangan MOJOK.CO

Cara Jawa Tengah Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan agar Harga Terkendali dan Keterjangkauan Pangan bagi Masyarakat Terjamin

10 Juni 2026
Tingkatkan literasi dengan baca buku. MOJOK.CO

Cerita Sebuah Keluarga Membangun Kebiasaan Membaca Saat Orang Lain Berubah Menjadi “Phubbing”

11 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.