Ketiadaan working space 24 jam di area kampus ternyata menjadi keresahan tersendiri bagi mahasiswa. Sebab, tanpa ruang tersebut, mahasiswa yang butuh tempat nugas memadai tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan akhirnya harus berhadapan dengan hambatan.
***
Saat dikejar deadline, tak sedikit mahasiswa yang mengalami burnout. Beberapa mahasiswa memilih untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah di luar kos. Namun, area kampus yang tidak menyediakan working space 24 jam jadi dilema tersendiri.
Sebenarnya banyak mahasiswa yang menjadikan coffee shop atau ruang-ruang sejenis sebagai alternatif. Akan tetapi, coffee shop jelas bukan jawaban bagi kalangan mahasiswa pas-pasan.
Kerjakan tugas kuliah di kos jadi burnout, ke coffee shop tak punya duit
Amirul, seorang mahasiswa di salah satu PTN di Magelang menganggap hectic dan burnout memang sudah jadi makanan para mahasiswa tiap akhir semester.
“Waktu paling sibuk sebenarnya setelah UTS, karena hampir semua matkul (mata kuliah) punya projek atau tugas. dan itu berat semua,” ujarnya kepada Mojok, Selasa (11/08/2026).
Selama ini, Amirul lebih sering mengerjakan tugas-tugas kuliah dari kamar kosnya. Ia bisa menghabiskan waktu dari matahari masih terlihat hingga langit semakin gelap (lewat tengah malam).
Kalau sudah begitu, tidak jarang Amirul mengalami burnout. Bagaimana tidak, sepanjang waktu—dalam masa mengerjakan tugas kuliah itu—ia harus menghadap layar laptop, buku catatan, buku referensi, dan pandangan terjauhnya pun hanya mentok pada tembok kos.
Sebagai mahasiswa pas-pasan, Amirul tidak bisa serta-merta seperti mahasiswa kebanyakan: bosan di kos, tinggal geser saja mengerjakan tugas kuliah di coffee shop.
“Tempat-tempat (coffee shop) yang ada sangat pricey dan tidak affordable,” keluh Amirul.
Sayangnya, kampus Amirul tidak memiliki working space 24 jam yang bisa diakses secara gratis kapanpun oleh mahasiswa. Alhasil, kamar kos—dengan segala kejenuhan di dalamnya—menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.
Kampus tanpa working space 24 jam menghambat produktivitas mahasiswa?
Bagi mahasiswa seperti Amirul yang masa produktif berpikirnya ada di atas jam 10 malam, mencari tempat nugas 24 jam—selain coffee shop—tentu menjadi hambatan tersendiri.
Ketika kelelahan dan kejenuhan mulai menyerang saat Amirul tengah berpikir keras untuk merampungkan tugas kuliahnya dari kamar kos, pada akhirnya ia pun tidak bisa menuntaskannya secara maksimal.
“Bisa dibilang selesai nggak selesai bodo amat, yang penting aku istirahat dulu dan nggak peduli nilai,” katanya.
Amirul sebenarnya punya mekanisme tersendiri sebagai upaya mengantisipasi burnout. Akan tetapi, dalam urusan tugas kuliah yang harus diselesaikan dengan maksimal, ia merasa kampus juga perlu memberi fasilitas working space 24 jam sebagai pendukung aktivitas pembelajaran.
Toh Amirul—dan banyak mahasiswa lain—sudah membayar uang kuliah. Maka apa salahnya jika menuntut fasilitas pendukung aktivitas pembelajaran mahasiswa?
Kenapa working space 24 jam di kampus belum terwujud?
Dosen FISIPOL Universitas Tidar (Untidar) Magelang, Bonifasius Endo, menyebut memang masih banyak kampus yang belum memiliki fasilitas working space 24 jam untuk mahasiswa, sehingga memudahkan mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Menurut Endo (sapaan akrabnya), working space 24 jam di kampus bisa dimulai dari perpustakaan kampus. Bahkan, menurutnya, perpustakaan umum pun seharusnya juga bisa mulai menyediakannya.
“Kampus seharusnya mampu menyediakan tempat-tempat semacam itu, dan mahasiswa seperti Amirul pada akhirnya tidak perlu lagi kebingungan mencari pilihan tempat nugas memadai,” ujarnya.
Keberadaan working space di lingkungan kampus memang telah menjelma menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa, seiring dengan geliat diskusi mahasiswa di ruang-ruang publik.
Perkembangan pola belajar mahasiswa yang semakin dinamis, fleksibel, dan tidak terbatas pada jam perkuliahan formal menuntut perpustakaan untuk menyesuaikan kebijakan layanannya, termasuk kebijakan waktu operasional. Sehingga, lebih dari sekadar tempat nugas, working space juga dibutuhkan untuk menjadi ruang diskusi alternatif.
Hanya memang harapan setiap kampus memiliki working space, apalagi 24 jam, tidak semudah itu terwujud. Pihak kampus pun memiliki dilemanya sendiri.
Dilansir dari studi literatur Zaki Koswara, Prijana, dan Nurmaya Prahatmaja berjudul “Analisis Kebijakan Jam Operasional Perpustakaan Dalam Memenuhi Kebutuhan Layanan Mahasiswa di Perpustakaan Universitas Padjajaran”, pemenuhan layanan working space di kampus, apalagi yang 24 jam, masih terhambat dengan persoalan kebijakan waktu operasional kampus, ketersediaan sumber daya manusia, maupun kebijakan organisasi yang lain.
Selain itu, menurut Zaki Koswara dkk, pola aktivitas mahasiswa sebagai pengguna utama belum jadi dasar pertimbangan untuk membuka layanan working space 24 jam di area kampus.
Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.
Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Saat Uang Ngopi Mahasiswa Jogja di Coffee Shop Lebih dari Biaya Makan dan Sewa Kos atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














