Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
13 Agustus 2026
A A
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

ilustrasi - Budaya senioritas dan bullying di kampus (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Niat Gilang (26) saat didapuk menjadi ketua panitia malam keakraban (Makrab) di jurusannya saat masih kuliah dulu, sebenarnya sangat mulia. Ia dan teman-teman panitia sengaja menyusun rundown yang jauh dari kesan perploncoan. 

Isinya, kalau kata Gilang, hanya games seru, diskusi santai, dan agenda hiburan yang dirancang agar mahasiswa baru merasa nyaman.

Iklan

“Kami kan dulu pernah maba juga, jadi paham gimana nggak enaknya diplonco,” kata lelaki yang kini bekerja sebagai guru ini, Senin (11/8/2026).

Namun, semua jadwal rapi yang sudah disusun berminggu-minggu itu hancur berantakan tepat di hari H. Penyebabnya adalah kedatangan rombongan “tamu tak diundang”.

Tamu ini adalah para alumni gaek dan kakak tingkat semester akhir yang merasa berstatus sebagai sesepuh organisasi. Menurut Gilang, kehadiran mereka tak hanya bikin suasana jadi tegang, tapi juga merepotkan urusan dapur.

Makrab isinya cuma senior yang minta diistimewakan, makan saja pilih-pilih

Gilang ingat betul, saat itu panitia dan peserta sudah sepakat makan katering seadanya sesuai bujet yang pas-pasan. Namun, rombongan senior ini datang dan minta diistimewakan. 

Mereka menuntut dibelikan makanan beda menu, dibikinkan kopi, sampai minta dibelikan rokok. Kalau panitia menolak, siap-siap saja dicap “nggak tahu cara menghargai senior”.

“Guilt trip-nya selalu begitu. Kalau menolak, selalu ngomong, ‘Kok berani-beraninya sih sama senior?’” ujar alumnus PTN Jogja ini.

Puncak kekesalan Gilang terjadi pada sesi malam puncak. Waktu yang seharusnya dipakai untuk sesi curhat intim antara maba dan panitia malah dibajak secara sepihak. Tiba-tiba, beberapa alumni mengambil alih mikrofon. 

Mereka nimbrung tak jelas, menceramahi maba ngalor-ngidul soal kerasnya senioritas di zaman mereka dulu.

“Maba yang tadinya udah mulai nyaman ngobrol santai, mendadak tegang lagi karena diceramahi orang yang bahkan belum pernah mereka temui di kelas. Suasana yang udah kita bangun susah payah hancur gitu aja cuma demi memuaskan ego mereka,” kenang Gilang.

Apa yang dialami Gilang itu sebenarnya pernah saya rasakan sendiri. Saat masih kuliah dulu, saya juga pernah terjebak menjadi panitia makrab di sebuah unit kegiatan mahasiswa. 

Saya masih ingat betul betapa menjengkelkannya melayani para “sesepuh” yang beberapa di antaranya memang menuntut buat diistimewakan.

Kating ndakik-ndakik, tapi hipokrit

Kalau para panitia saja suaranya sudah dipenuhi rasa muak, jangan tanya apa yang dirasakan oleh mahasiswa baru.

Iklan

Kacaunya budaya makrab ini terekam jelas dalam ingatan Riki (25). Di tahun pertamanya kuliah dulu, ia punya semangat berorganisasi yang kelewat tinggi. 

Kepolosannya itu membawanya mendaftar di tiga organisasi dan UKM berbeda di jurusan dan fakultas. Konsekuensinya, dalam kurun waktu satu tahun saja, Riki harus mengikuti empat makrab yang berbeda.

Meski acara itu diadakan oleh organisasi yang beda-beda, Riki menemukan sebuah pola copy-paste yang menggelikan. Kalau kata dia, kesamaannya bukan cuma pada agenda jurit malam yang klise.

Siksaan utamanya justru ada pada kating-kating hipokrit dan forum diskusi yang dipaksakan.

Di empat makrab tersebut, Raka selalu dihadapkan pada senior yang tiba-tiba menjelma menjadi “filsuf dadakan”. Para maba dipaksa duduk melingkar sampai jam tiga pagi, menahan kantuk demi mendengarkan kating fafifu ndakik-ndakik soal peran mahasiswa, ideologi, dan sebagainya.

“Padahal, kalau didengarkan baik-baik, isi omongan para senior itu aslinya kosong. Muter-muter nggak jelas, cuma onani intelektual aja,” kata Riki.

Belum lagi kelakuan panitia yang sok menjadi komisi disiplin. Maba telat kumpul dua menit ke forum langsung dibentak habis-habisan, bahkan dipermalukan.

“Lucu aja ngingetnya. Kating yang sok bijak di forum, dan galak banget jadi komdis pas makrab, aslinya di kampus sering titip absen. Kelihatan banget hipokritnya.”

Bukan malah akrab, sekadar nyapa saja ogah

Bagi Riki, jargon bahwa makrab akan merekatkan hubungan angkatan adalah omong kosong terbesar di dunia kampus. Solidaritas sesama mahasiswa baru memang terbentuk, tapi bukan karena mereka menikmati acaranya. 

Menurutnya, mereka menjadi solid karena punya musuh bersama yang sangat menyebalkan, yakni para kating dan alumni hipokrit yang gila hormat.

Bukti paling nyata dari gagalnya budaya ini terlihat saat acara selesai dan semua kembali ke kampus. Alih-alih akrab, suasana di kampus malah jadi sangat canggung.

Riki dan teman-teman seangkatannya biasanya akan sengaja menghindari tempat-tempat yang biasa dipakai nongkrong oleh senior, saking malasnya ketemu. Boro-boro mau mau akrab, menyapa saja ogah.

“Kalau dipikir lagi makrab dulu itu cuma budaya gagah-gagahan para senior aja,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2026 oleh

Tags: Acara makrab kuliahBudaya makrab kuliahmakrabmakrab kuliahMalam keakrabanPanitia makrab kuliahPengalaman makrab kuliahpilihan redaksiSenioritas makrab kuliah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO
Sekolahan

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO
Catatan

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Urban

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO
Kabar

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Susahnya mahasiswa di kampus tanpa working space 24 jam: kerjakan tugas kuliah di kos burnout, ke coffee shop tidak punya uang MOJOK.CO

Susahnya Mahasiswa di Kampus Tanpa Working Space 24 Jam: Nugas di Kos Burnout, Ke Coffee Shop Tak Punya Uang

12 Agustus 2026
Tinggal di kos dekat kampus niat cari kemudahan di awal menjadi mahasiswa baru (maba), malah jadi pemicu konflik sosial yang merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Kos Dekat Kampus Memang Beri Kemudahan, Tapi Jadi Pemicu Rangkaian Konflik Sosial yang Merepotkan Diri Sendiri

10 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan?

11 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.