ADVERTISEMENT

Sarjana Ekonomi Cuma Jadi Kuli, Tapi Nikmati Hidup dan Bikin Teman Pekerja Kantoran Iri

Sarjana Ekonomi jadi kuli MOJOK.CO

Meski berstatus sebagai Sarjana Ekonomi, tidak lantas membuat Nurin (26) malu dengan profesinya sebagai seorang kuli, karena toh kehidupannya baik-baik saja. 

***

Mayoritas teman sejurusan Nurin yang kuliah di Jurusan Ekonomi sebuah PTN di Jawa Tengah punya pikiran sama: setelah lulus kuliah mengincar kerja kantoran atau menjadi ASN di bidang ekonomi—menjadi seorang Ekonom. 

“Meski punya latar belakang ilmu ekonomi, nggak ada yang berani coba-coba bikin bisnis sendiri. Memang memulai bisnis itu kan penuh risiko. Apalagi kalau belum punya backup finansial,” ujar Nurin, Selasa (15/9/2026). 

Kuliah Jurusan Ekonomi dan bayangan karier yang panjang

Resolusi teman-teman Nurin tentu tidak sepenuhnya salah. Pasalnya, setiap perguruan tinggi memang memberi gambaran bahwa lulusan kuliah Jurusan Ekonomi disiapkan memiliki karier panjang di bidang ekonomi. 

Di Program Studi S1 Ilmu Ekonomi, misalnya, Universitas Indonesia (UI) secara eksplisit menyebut adanya kebutuhan terhadap lulusan yang mampu menjadi analis ekonomi untuk kajian makro-ekonomi maupun mikro-ekonomi. Pilihan karier yang dicantumkan juga cukup beragam: analis ekonomi di perusahaan atau lembaga penelitian, bankir, pegawai pemerintahan, tenaga advokasi LSM, hingga akademisi. 

Gambaran serupa muncul di Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Lulusan dibekali kemampuan menganalisis persoalan dan kebijakan ekonomi menggunakan statistika dan ekonometrika. 

Prospek karier yang dicantumkan UGM meliputi perbankan dan sektor finansial, pemerintahan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), BUMN, lembaga penelitian, konsultan, media, pemerintahan daerah, hingga lembaga internasional seperti World Bank, IMF, dan Asian Development Bank.

Universitas Airlangga (UNAIR) juga menempatkan lulusan Jurusan Ilmu Ekonomi dalam beberapa profil profesional: analis, komunikator, pengambil keputusan, praktisi, dan wirausahawan. Untuk jalur praktisi, kompetensinya diarahkan antara lain pada perbankan, keuangan, dan industri. 

Dengan prospek selebar itu, wajar jika mahasiswa Ekonomi kemudian membayangkan dirinya kelak bekerja di balik meja: membaca laporan keuangan, menganalisis data, menyusun kebijakan, bekerja di bank, menjadi pegawai pemerintah, atau duduk di perusahaan sebagai tenaga profesional.

Kendati begitu, Nurin justru mengambil arah berbeda. Ia tidak mengejar kerja kantoran, tapi tidak pula langsung merintis bisnis. Ia pulang ke kampung halamannya di Rembang justru untuk ubet: bekerja tanpa gengsi sosial, pokoknya yang penting dapat pemasukan.

Karena sudah akrab dengan dunia perkulian sedari remaja, maka sektor itulah yang kemudian ia ambil. Bekerja dari satu proyek ke proyek lain.  “Kalau aku rasanya nggak cocok kerja korporat. Nggak bisa aku terikat aturan ketat. Aku pengin kerja yang fleksibel-fleksibel saja,” ujarnya. 

Tak peduli omongan tetangga karena dari kuli bis menikmati hidup

Jangan tanya bagaimana reaksi tetangga atau saudara saat tahu kalau Nurin menjadi Sarjana Ekonomi yang berprofesi sebagai kuli. Telinganya sudah kebal dengan bisik-bisik “sarjana gagal”. 

“Sekolah tinggi-tinggi kok malah balik kerja kayak bapakmu, jadi kuli. Bukannya cari pekerjaan yang lebih baik,” demikianlah di antara kalimat pedas yang pernah Nurin dengar. 

Hanya saja Nurin tidak sakit hati. Toh orang tuanya juga tidak mempermasalahkan. Apalagi selama ini Nurin kuliah tanpa membebani biaya orang tua: dapat beasiswa. 

“Tahu nggak, dulu tiap liburan semester itu pasti kupakai buat nguli loh. Jadi ngumpulin uang biar pas balik kuliah nggak cuma mengandalkan uang beasiswa. Karena kan cairnya sering telat,” kata Nurin. 

Selain itu, berkat menjadi kuli lah ia bisa mengumpulkan modal, yang kemudian ia gunakan untuk usaha sembako kecil-kecilan di kampung halaman. Sehingga, alih-alih merasa bernasib tragis, ia justru mengaku menikmati hidup. 

Bagaimana tidak. Ia punya dua kanal pemasukan. Satu, dari usaha yang ia rintis. Dua, dari proyek bangunan. Kalau sedang tidak ada proyek, ia bisa fokus di warung. Sedangkan kalau ada proyek, ia bisa memasrahkan warung ke saudara. 

“Nggak ada aturan formal yang mengikatku. Aku bisa kerja fleksibel. Buka warung tiap hari dari pagi sampai malam. Tapi kalau pengin libur berapa hari gitu ya libur. Kalau lagi nguli, nguli itu kan ya pagi sampai sore. Sore sudah bisa pulang buat santai di rumah,” ujarnya. 

Sarjana Ekonomi jadi kuli, teman kuliah malah iri

Anehnya, beberapa teman  Nurin—sesama Sarjana Ekonomi—justru mengaku iri dengan kehidupan Nurin. Pasalnya, mereka mengaku selalu overthinking soal kerja: pas awal susah cari, sekali dapat kerja harus terikat kontrak yang artinya siap didepak sewaktu-waktu. Sementara Nurin tampak merdeka menentukan hidupnya sendiri. 

Lebih dari itu, teman-teman Nurin memang hanya mengandalkan ijazah dan gelar Sarjana Ekonomi semata. Tidak ada skill hidup lain yang bisa menjadi parasut kala mereka terdepak dari pekerjaan. 

“Anehnya, karena mereka tahu dinamika bisnis, malah pada takut buat memulai bisnis,” ujar Nurin. 

“Nah, skill hidup yang mereka maksud, kalau aku kan dianggap mereka serba-bisa dalam konteks kerja fisik ya. Aku elektronik dikit-dikit bisa lah, nguli atau nukang juga bisa. Jadi dianggapnya kalau nggak kerja kantoran, pasti bisa ubet lah,” bebernya. 

Prinsip hidup “Ora obah, ora mamah”

Skill-skill hidup itu diwarisi Nurin dari sang bapak. Sejak kecil Bapak Nurin selalu menanamkan prinsip hidup “Ora obah, ora mamah” (Kalau tidak bergerak, tidak ubet, ya tidak akan bisa makan). Sehingga sang Bapak membekali Nurin dengan skill-skill hidup tersebut. 

Beberapa orang menganggapnya sebagai skill pekerja kasar yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak kuliahan. Akan tetapi, bagi Nurin, justru skill-skill hidup itulah yang kini menyelamatkannya di tengah pusaran isu sarjana sulit kerja

“Kalau melihat persoalannya (sarjana sulit cari kerja) kan kompleks. Antara ketersediaan lapangan kerja formal dan minimnya skill sarjana. Aku sadar aku nggak cocok di sektor formal,” Tutur Nurin.

“Tapi aku juga nggak mau membatasi skill hanya pada konteks skill kesarjanaan (seperti skill digital dan sejenisnya). Aku punya skill dalam pertukangan dan perkulian, itulah yang saat ini kupakai,” imbuhnya 

Hanya bisa dilakukan oleh orang yang merasa sudah “selesai dengan dunia”

Tapi Nurin menyadari, cara hidupnya tersebut bisa saja tidak relevan dengan kondisi zaman saat ini. Tidak hanya itu, kerja menjadi kuli saat ini juga tidak memiliki jaminan hari tua.

“Karena kan nggak pasti juga, kadang ada (proyek), kadang kosong. Pas tua nanti, kalau fisik sudah nggak kuat, juga nggak mungkin jadi kuli terus,” ungkap Sarjana Ekonomi tersebut. 

“Tapi aku merasa selesai dengan dunia. Maksudku adalah, aku itu tipikal orang yang spiritual, yakin sepenuhnya dengan jatah rezeki dari Tuhan. Aku juga nggak punya aspirasi kaya. Yang penting hidup cukup. Prinsipnya kan yang penting aku nggak bermalas-malasan. Tapi ubet, gerak, mangkanya kalau aku, apapaun yang bisa kukerjakan ya kukerjakan meskipun itu dianggap “rendah” orang lain,” sambungnya panjang lebar. 

Dan percaya atau tidak (tegas Nurin), selama ini toh hidupnya baik-baik saja, cukup-cukup saja. Bahwa sesekali ada goncangan, ia menganggapnya sebagai hal yang wajar. Namanya juga hidup. Tapi satu yang pasti: ia tidak pernah menyesali statusnya sebagai seorang Sarjana Ekonomi yang berprofesi sebagai kuli. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Alumnus UNAIR Tinggalkan Kerja di Bank BUMN, Pilih Jadi Peternak Ayam Petelur Beromzet Rp250 Juta Perbulan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 24 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.