Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
1 Mei 2026
A A
Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar S2 Kesehatan Masyarakat dan S1 Kedokteran sebelum usia 25 tahun

Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran (dok. UGM)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perjuangan untuk lulus kuliah dan mendapatkan satu gelar saja sudah dianggap sulit oleh sebagian orang. Namun, tidak untuk mahasiswa UGM yang tak lama setelah mendapatkan gelar S1 Kedokteran, langsung mengantongi titel S2 Kesehatan Masyarakat (Kesmas), pada usianya yang belum menyentuh angka 25 tahun.

Jadi lulusan termuda S2 UGM sebelum usia 25 tahun

Cerita ini datang dari Muhammad Rizky Perwira Zain. Pemuda yang akrab disapa Kiki ini berhasil menyelesaikan Program Magister (S2) Kesehatan Masyarakat pada usia yang terbilang sangat muda, yakni 22 tahun 2 bulan 8 hari.

Padahal, rata-rata usia lulusan Program S2 UGM pada periode ini mencapai 29 tahun 6 bulan 15 hari.

Di balik titelnya sebagai lulusan termuda, Kiki bercerita, ia mengikuti program Block Elective sejak masih berkuliah di Kedokteran UGM. Program ini memberinya kesempatan untuk menentukan arah pengembangan akademik, termasuk memilih jalur percepatan (fast track) yang memungkinkan dia mengambil kuliah S2 sejak akhir semester kuliah S1.

Mahasiswa yang berasal dari fakultas yang digadang-gadang sebagai fakultas elite ini, yakni Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, kemudian menekadkan untuk mengambil program tersebut. Sebab, ia menilai bahwa program ini memungkinkan dirinya menggabungkan pendidikan S1 Kedokteran dan S2 Kesehatan Masyarakat pada waktu bersamaan.

Melalui keputusan inilah, Kiki mendapatkan kesempatan menjadi lulusan termuda UGM pada Wisuda Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar pada Rabu (22/4/2026) lalu di Grha Sabha Pramana UGM, Jogja.

Mengorbankan pendidikan koas, lalu dihadapkan pada skripsi dan kuliah S2 dalam satu waktu

Keputusan ini mengharuskan Kiki untuk mengorbankan pendidikan profesi dokter (koas) selama satu tahun. ia mengatakan, harus menunda koas untuk menempuh S2.

Berbekal diskusi panjang dengan keluarga, Kiki membulatkan keputusan. Pemuda asal Jawa Timur ini menunda koas, kemudian memilih untuk menjalani S1 Kedokteran bersamaan dengan S2 Kesehatan Masyarakat melalui jalur percepatan.

“Ini keputusan yang agak besar karena saya harus menunda waktu koas satu tahun untuk menjalani S2 dulu,” katanya, dikutip dari laman UGM, Jumat (1/5/2026).

Kiki menerima ijazah kelulusan S2 di UGM (dok. UGM)
Kiki menerima ijazah kelulusan S2 di UGM (dok. UGM)

Namun, keputusan itu tidak serta-merta mempermudah jalan Kiki dalam melangsungkan dua perkuliahan dalam satu waktu. Ia masih harus menghadapi berbagai macam tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan beban akademik yang berlapis.

Pada saat yang bersamaan, ia dituntut menyelesaikan skripsi S1 Kedokteran sekaligus mengikuti perkuliahan S2 Kesehatan Masyarakat yang berlangsung padat hampir setiap hari.

Situasi ini membuat ritme belajarnya jauh lebih intens dibandingkan mahasiswa lainnya. Meskipun, Kiki tidak lantas memperlamban pencapaian kuliahnya, ia juga tetap aktif dalam kegiatan organisasi—menambahkan beban waktu dan energi dalam kegiatan perkuliahannya.

“Di semester itu saya harus menyelesaikan skripsi dan menjalani semester satu pada program magister yang cukup padat,” kata dia.

Sempat burn out, tetapi berhasil mengantongi dua gelar sebelum usia 25 tahun

Selain itu, Kiki bercerita, ia juga menghadapi tantangan sekaligus tuntutan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang didominasi oleh mahasiswa senior. Bagaimana tidak, Kiki masih menjalani akhir semester perkuliahan sarjana, tetapi juga sudah harus menempatkan diri dalam lingkungan mahasiswa tingkat lanjut.

Iklan

Perbedaan dengan mahasiswa senior ini menuntut Kiki untuk mampu menempatkan diri, menjaga etika komunikasi, serta membangun kepercayaan lebih tinggi. Khususnya, dalam pengerjaan kerja kelompok dengan mahasiswa lainnya.

Begitu berhasil beradaptasi, dirinya kembali dihadapkan dengan keharusan turun ke lapangan sekaligus menyusun rancangan awal tesis pada semester kedua. Kondisi ini membuat Kiki sempat mengalami burnout akibat kelelahan.

Namun mengingatkan diri kepada tekadnya, Kiki mencoba menguatkan dirinya untuk berusaha menjalani, serta memenuhi tuntutan perkuliahannya.

“Sempat mengalami burnout karena banyak kegiatan yang dihadapi, tapi ya enggak apa-apa, dijalani saja,” ujarnya.

Berkat kegigihan ini, Kiki berhasil mendapatkan gelar S1 Kedokteran dan S2 Kesehatan Masyarakat di UGM dalam satu waktu. Meskipun, ia mengatakan, pencapaian lulus pada usia muda bukan tujuan utamanya. Ia bilang, usia kelulusan tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan.

Menurut dia, hal yang jauh lebih penting adalah memberikan manfaat nyata dengan ilmu yang didapatkan untuk orang lain. Ia menekankan, esensi kuliah bukan untuk lulus paling cepat, melainkan menghasilkan dampak.

Maka, capaiannya lulus pada usia 22 tahun ini bukanlah sesuatu yang besar bagi Kiki.

“Karena pada akhirnya, bukan soal siapa paling cepat lulus, tapi bagaimana ilmu yang kita dapat bisa bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2026 oleh

Tags: alumni UGMalumnus UGMFakultas Kedokteran UGMjurusan kedokteranjurusan kesehatan masyarakatkuliah di UGMkuliah s2kuliah S2 UGMS1 KedokteranUGM
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co
Sosial

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO
Sekolahan

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO
Sekolahan

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis
Sekolahan

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

29 April 2026
Gaji magang di Jakarta bisa beli iPhone gak kayak kerja di Jogja

Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita

28 April 2026
pekerja perempuan.MOJOK.CO

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.