Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Juli 2026
A A
donasi ekonomi.MOJOK.CO

Ilustrasi donasi, rakyat bantu rakyat. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di atas kertas, kondisi ekonomi masyarakat Indonesia belakangan ini sedang tidak baik-baik saja. Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menghantui, daya beli kelas menengah kian merosot, dan harga kebutuhan pokok terus bergejolak.

Kalau mengikuti logika ekonomi yang paling sederhana, saat dompet makin tipis maka orang akan cenderung menahan pengeluarannya.

Iklan

Namun, realitas di lapangan jutru menampilkan sebuah anomali, yang bagi saya “indah” sekaligus menampar. Semakin ekonomi terhimpit, masyarakat Indonesia justru semakin rajin bersedekah.

Data dari World Giving Report (WGR) 2026 merekam fenomena ini. Dilaporkan, rata-rata donasi masyarakat Indonesia mencapai 1,55 persen dari total pendapatan, menempatkan negara ini sebagai yang paling dermawan di kawasan Asia Tenggara.

Kelas menengah yang saat ini sedang menjadi “korban” utama tekanan ekonomi. Ironisnya, justru mereka menjadi tulang punggung utama aktivitas filantropi tersebut.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro, menyebut situasi ini sebagai sebuah paradoks. Mengapa orang yang sedang kesusahan justru makin gemar membantu orang lain?

Logika Ekonomi yang dikalahkan solidaritas dan keimanan

Menurut Prof. Mudrajad, fenomena ini membuktikan bahwa perilaku masyarakat Indonesia tidak selalu bisa dijelaskan lewat hitung-hitungan kalkulator ekonomi.

Melansir laman resmi UGM, ada dua motor penggerak utama yang menabrak logika tersebut: agama dan modal sosial.

Dari sisi agama, ada keyakinan yang tertanam kuat bahwa berbagi (lewat infak, zakat, atau sedekah) tidak akan pernah membuat seseorang jatuh miskin. Ajaran-ajaran spiritual ini secara otomatis memupuk empati.

Di sisi lain, modal sosial berupa budaya “gotong royong” telah menjadi DNA bangsa ini. Ketika ketidakpastian ekonomi meningkat dan ancaman krisis berada di depan mata, ikatan kohesi sosial masyarakat justru makin menguat.

Konsep “rakyat bantu rakyat” ini difasilitasi dengan sangat mulus oleh kemajuan teknologi digital. Jutaan keping donasi mikro–mungkin hanya sepuluh atau dua puluh ribu rupiah–kini bisa disalurkan dalam hitungan detik.

Akumulasi recehan inilah yang kemudian meledak menjadi angka triliunan rupiah di berbagai platform penggalangan dana.

Alarm bahaya bagi negara?

Solidaritas akar rumput ini memang patut dirayakan. Namun, Prof. Mudrajad memberikan sebuah peringatan keras: tingginya angka donasi ini sama sekali tidak boleh dilihat sebagai indikator bahwa kondisi ekonomi baik-baik saja.

Sebaliknya, donasi yang melimpah ini adalah indikator murni ketahanan sosial, bukan ketahanan ekonomi.

Iklan

Meningkatnya arus bantuan masyarakat justru menandakan satu kenyataan pahit, yakni kebutuhan bantuan sosial di tingkat bawah memang sedang membeludak. Ada lubang besar dalam jaring pengaman sosial kita yang terpaksa ditambal oleh patungan warga.

Di sinilah letak bahayanya. Tren “rakyat bantu rakyat” tidak boleh dijadikan romantisme semu yang membuat pemerintah terlena, lepas tangan, atau mengabaikan melambatnya laju ekonomi. Ketika masyarakat saling menopang karena negara dan pasar menghadapi keterbatasan, pemerintah tidak boleh sekadar bertepuk tangan dari pinggir lapangan.

Prof. Mudrajad membeberkan fakta bahwa daya beli yang melemah saat ini adalah sesuatu yang faktual. Kue pembangunan ekonomi yang dibanggakan selama ini nyatanya tidak terdistribusi secara merata.

Teori lama dari Barat soal trickle-down effect, bahwa kekayaan dari pertumbuhan ekonomi akan menetes ke bawah, ternyata gagal total.

“Di Indonesia justru trickle-up, muncrat ke atas semua. Yang menikmati itu 20 persen golongan terkaya, dan 80 persen sisanya adalah golongan menengah ke bawah yang justru menanggung beban,” tegas sang ekonom, dikutip Selasa (14/7/2026).

Selain itu, negara sedang dihadapkan pada ancaman jobless growth. Pertumbuhan ekonomi secara makro mungkin terlihat tinggi, tetapi sayangnya, tidak diikuti oleh pembukaan lapangan kerja yang sepadan. Akibatnya, banyak pekerja formal yang terkena PHK terpaksa banting setir ke sektor informal tanpa jaminan masa depan.

Jangan hanya beri ikan, sediakan kolamnya

Pada akhirnya, kedermawanan masyarakat memiliki batasnya. Kelas menengah yang terus-terusan diperas oleh inflasi dan ketidakpastian kerja tidak akan selamanya bisa menjadi donatur bagi mereka yang lebih miskin.

Menghadapi situasi ini, Prof. Mudrajad menyarankan agar arah filantropi memang harus mulai diubah. Bantuan tidak bisa lagi sekadar bersifat karitatif atau konsumtif (habis pakai), tetapi harus transformatif. Seperti kata pepatah klasik, “jangan hanya memberikan ikannya, tetapi ajarkan cara membuat kapalnya.”

Menurut Prof. Mudrajad, dana donasi yang terkumpul dari masyarakat harus diarahkan untuk pelatihan keterampilan, pembiayaan usaha, hingga penguatan BUMDes.

Namun, mengajari masyarakat memancing saja tidak akan berguna jika negaranya tidak menyediakan “kolam” yang sehat.

Tanggung jawab terbesar tetap bersandar di pundak pemerintah. Solidaritas warga mengumpulkan donasi tidak bisa menggantikan tugas utama negara untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok, menjaga nilai tukar, dan yang paling krusial tentunya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan lapangan pekerjaan yang berkualitas.

Bagi Prof. Mudrajad, kedermawanan rakyat Indonesia di tengah masa sulit adalah sebuah kebanggaan. Namun, membiarkan rakyat terus-terusan mengurus dirinya sendiri karena negara absen menyejahterakan mereka, jelas merupakan sebuah ironi yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Sumber: ugm.ac.id

BACA JUGA: Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 Juli 2026 oleh

Tags: donasiEkonomikondisi ekonomi indonesiakrisis ekonomiPengangguranPHKpilihan redaksiUGM
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO
Sekolahan

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026
Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.