ADVERTISEMENT

Nasib Juru Langsir KAI: Dituntut Good Looking dan Proporsional meski Tanpa Tunjangan Penampilan

Petugas langsir KAI. MOJOK.CO

Tuntutan good looking saat bekerja ternyata tak cuma berlaku bagi petugas KAI garda depan. Petugas langsir pun memikul beban serupa, meski harus merogoh kocek pribadi untuk perawatan diri.

***

Fisik sering kali menjadi penentu, bagaimana kesan pertama seseorang terhadap kita. Bahkan, wajah yang rupawan alias “good looking” bisa menjadi gerbang seseorang diterima kerja. Tak pelak, produk skincare kini telah menjadi kebutuhan pokok, baik laki-laki maupun perempuan.

Walaupun, Kementerian Ketenagakerjaan sudah resmi melarang persyaratan good looking dan batas usia dalam rekrutmen perusahaan, ada jabatan tertentu yang memang tidak bisa dikecualikan. Salah satunya, petugas KAI.

Berdasarkan Peraturan KAI tentang Etika Pelayanan, petugas dituntut untuk berpenampilan menarik. Bahkan, pada Bab II Etika Penampilan telah dijelaskan secara rinci mengenai standar penampilan rambut, wajah, tangan, badan, hingga kaki.

Sebagai contoh, penampilan wajah harus terlihat bersih, segar, dan tidak berminyak. Namun, petugas laki-laki tidak boleh menggunakan riasan wajah, mata, dan bibir. Mereka juga tidak boleh memelihara kumis hingga janggut.

Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 2, KAI meyakini aturan-aturan tersebut dapat meningkatkan citra layanan perusahaan, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan rasa kebanggaan petugas dalam memberikan pelayanan, 

Masalahnya, tidak semua petugas KAI diberi anggaran khusus untuk itu. Hasan (24) misalnya. Sebagai operasional petugas langsir, ia memang tidak bekerja sebagai frontliner tapi masih dituntut untuk berpenampilan “good looking”. 

Alhasil, Hasan harus menyisihkan tabungan pribadi dari gajinya untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

Syarat good looking sebagai petugas langsir KAI

Sejak awal mengikuti rekrutmen petugas KAI, Hasan sebenarnya tak kaget dengan syarat-syarat fisik yang diberikan, seperti tinggi badan minimal 155 cm dengan berat badan ideal. 

Namun, setelah menggeluti pekerjaannya secara langsung, Hasan sadar bahwa ia juga harus “good looking”. Dalam artian, good looking terhadap kebersihan dan kerapian pakaian, serta pembawaan diri. 

“Pakaian harus pas, bersih, serta terawat. Di sisi lain, kami juga harus bersikap percaya diri, sopan, serta punya kepribadian yang menyenangkan saat berinteraksi dengan orang lain,” jelas Hasan kepada Mojok, Kamis (17/9/2026).

Guna memfasilitasi karyawannya untuk menjaga kebersihan wajah, kosmetik, perawatan tubuh (grooming), hingga kerapian seragam, KAI juga sudah memberikan gaji atau tunjangan tambahan. Namun, tunjangan penampilan ini hanya diberikan kepada petugas frontliner KAI, sehingga Hasan tidak termasuk.

Tuntutan tubuh yang proporsional lebih utama

Meski begitu, Hasan tidak pernah merasa iri. Toh, tugas yang dia lakukan tidak sering berhadapan langsung dengan pelanggan, yakni memandu pergerakan lokomotif, gerbang, atau rangkaian kereta api untuk berpindah jalur rel, merangkai, atau memisahkannya di area stasiun.

Namun, laki-laki asal Surabaya itu mengaku harus tetap melakukan perawatan diri, sebab pihak KAI akan selalu memantau kesehatan fisik petugasnya selama satu tahun sekali.

“Karena nggak ada tunjangan penampilan juga, aku lebih menyisihkan gajiku untuk perawatan basic seperti sabun muka, dan parfum,” kata Hasan.

“Untungnya aku nggak pernah dapat teguran karena gemuk dan lain-lain, dokter cuma kasih saran agar aku rutin olahraga,” lanjutnya.

Oleh karena itu, ia kerap melakukan gym atau olahraga sore untuk menjaga tubuhnya tetap fit dan ideal. Maklum, postur proporsional menjadi penting bagi Hasan dalam melaksanakan tugasnya sebagai juru langsir di lapangan. 

“Walaupun kerjaku selalu on time: 8 jam, tapi tetap capek karena kerjanya shift,” kata Hasan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sulitnya Menjadi Penjaga Jalan Lintasan Kereta Api, Harus Tahan dengan Kelakuan Pengendara Menerobos Palang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 September 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.