Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

Hayari Putri oleh Hayari Putri
24 Juni 2026
A A
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Ilustrasi Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebuah refleksi personal tentang dilema perempuan dewasa yang memiliki kecemasan dalam menggunakan uang lebihnya untuk dana darurat atau skincare.

Usia 30 adalah usia yang dulu di benak saya terlihat sangat meyakinkan dari kejauhan. Ketika kecil, saya membayangkan sosok perempuan pada usia 30 sebagai manusia yang hidupnya sudah selesai dirakit. Mereka pasti tahu mau ke mana. 

Iklan

Punya tabungan yang banyak, pekerjaan mapan, rumah yang rapi dan punya rencana hidup lima tahunan yang tersusun lebih teratur daripada folder di laptop.

Lalu, saya sampai pada usia itu. Ternyata kenyataannya tidak seanggun dalam bayangan saya. Beberapa waktu lalu saya menghabiskan hampir setengah jam hanya untuk membandingkan dua serum wajah dengan selisih harga sekitar Rp40 ribu. 

Saya perlahan membaca kandungan dalam produknya, melihat review penggunanya, memperbesar foto before dan after orang asing di internet, lalu tiba-tiba bertanya pada diri sendiri:

“Kalau saya beli yang lebih mahal, kira-kira bisa terlihat seperti orang yang hidupnya baik-baik saja nggak, ya?”

Setelah dipikir-pikir, itu pertanyaan yang cukup menyedihkan. Sebab jauh di dalam hati, saya tahu yang sedang saya cari bukan serum. 

Saya sedang mencari rasa aman. Masalahnya, rasa aman tidak dijual di marketplace. Kalaupun ada, mungkin stoknya selalu habis.

Ketika kamu uang lebih di usia dewasa, untuk skincare, liburan, atau dana darurat

Semakin bertambah usia, saya mulai sadar bahwa persoalan hidup bagi orang dewasa bukan lagi soal punya uang atau tidak punya uang. Persoalannya jauh lebih rumit.

Kalau ada uang lebih, sebaiknya dipakai untuk apa?

Skincare, investasi, liburan, kursus, nonton konser favorit? Atau untuk darurat?

Atau disimpan saja karena harga kebutuhan pokok belakangan naik lebih konsisten daripada semangat hidup?

Sebagai perempuan yang memasuki usia 30-an, saya merasa hidup berubah menjadi perlombaan yang aneh. Kami dituntut memiliki terlalu banyak hal secara bersamaan.

Harus cantik, sukses, punya tabungan, dan punya investasi. Harus sehat secara jasmani dan rohani, harus sering healing, tapi juga harus produktif dan glow up. 

Iklan

Harus punya pengalaman hidup yang menarik. Kalau bisa, semuanya selesai sebelum usia 35. Kalau tidak tercapai, media sosial selalu siap menyediakan orang lain untuk dijadikan pembanding.

Ketika feed Instagram berubah menjadi klinik kecantikan berjalan

Beberapa tahun lalu teman-teman mengunggah foto tugas kuliah, foto nongkrong, atau foto kopi yang entah kenapa selalu diambil dari sudut yang sama. Sekarang semuanya berubah.

Mereka membahas retinol, niacinamide, collagen booster, laser wajah, botox, dan anti-aging treatment. Istilah-istilah yang dulu terdengar seperti nama mata kuliah kedokteran sekarang muncul setiap hari di Instagram.

Awalnya saya merasa semua itu berlebihan. Sampai suatu pagi saya membuka kamera depan tanpa filter. 

Mendadak saya menjadi lebih terbuka terhadap kemajuan teknologi. Usia memang punya cara yang kreatif untuk mengubah prinsip hidup seseorang. 

Masalahnya bukan pada skincare. Saya tetap percaya merawat diri itu penting. Persoalannya adalah industri kecantikan selalu berhasil menciptakan masalah baru yang sebelumnya tidak pernah kita sadari.

Kalau bukan pori-pori, garis senyum. Kalau bukan garis senyum, warna kulit. Kalau bukan warna kulit, tekstur wajah. 

Kalau bukan tekstur wajah, bentuk rahang. Selalu ada proyek renovasi baru. Padahal semakin saya pikirkan, tujuan merawat diri seharusnya bukan menjadi sempurna. Cukup merasa nyaman saat bercermin tanpa langsung mencari kekurangan diri.

Ketika makan enak lebih masuk akal daripada nasihat finansial

Saya pernah mencoba hidup sangat hemat. Tidak jajan. Tidak nongkrong di kafe. Tidak membeli apa pun selain kebutuhan pokok. Hasilnya memang lumayan, tabungan bertambah.

Namun, hidup terasa seperti sedang menjalani hukuman sosial yang dijatuhkan oleh motivator finansial. Akhirnya saya menyerah. 

Sebab ternyata semangkuk udon hangat favorit saya setelah minggu yang melelahkan jauh lebih menenangkan daripada video motivasi berdurasi satu menit tentang kebebasan finansial.

Saya pernah memesan dessert premium yang harganya membuat saya menatap struk cukup lama setelah pelayan pergi. Ada jeda hening antara saya dan tagihan.

Hubungan kami tidak baik-baik saja saat itu. Meski demikian, saya tidak benar-benar menyesal. Karena semakin dewasa, saya mulai percaya bahwa tidak semua uang harus menghasilkan keuntungan. 

Sebagian uang memang perlu menghasilkan alasan untuk tetap bertahan sampai hari Senin berikutnya.

Ketika liburan tidak lagi terlihat seperti kemewahan

Dulu saya menganggap liburan adalah hadiah. Sekarang saya menganggapnya sebagai biaya perawatan kewarasan. Usia 30-an kadang terasa seperti naik sepeda di tanjakan panjang. Kita terus mengayuh, tetapi tidak pernah benar-benar merasa sampai ke tujuan.

Target karier, tagihan, masa depan, dan pertanyaan soal pernikahan yang entah mengapa tidak pernah pensiun dari peredaran. Semuanya datang bersamaan.

Saya masih ingat beberapa perjalanan yang saya lakukan sendirian. Saya masih ingat jalan-jalan asing yang saya telusuri tanpa tujuan. Saya masih ingat sudut kafe cantik dengan jendela yang terang ketika saya duduk sendiri sambil menulis dengan tenang. 

Saya masih ingat pantai hidden gem yang saya temukan setelah bersepeda hampir seharian. Saya bahkan masih ingat rasa makanan yang rasanya begitu enak sampai sulit dilupakan.

Sebaliknya, saya sudah lupa sebagian besar barang yang saya beli lima tahun lalu. Kenangan memang jauh lebih awet daripada barang. Tidak perlu garansi untuk pembuktian.

Ketika investasi terbaik justru bukan skincare dan tidak Instagramable

Dari semua pengeluaran, ada satu jenis pengeluaran yang hasilnya paling lambat terlihat. Bukan skincare, atau sejenisnya, tapi belajar, membaca, menulis, mengikuti pelatihan, dan mengembangkan kemampuan diri. Tidak ada foto before-after yang bisa dipamerkan.

Tidak ada orang yang memuji karena berhasil menyelesaikan satu buku atau meningkatkan satu keterampilan baru. Namun anehnya, hal-hal membosankan itu justru memberikan dampak paling panjang.

Tulisan-tulisan yang pernah kukirim, artikel-artikel yang berhasil terbit dan kemampuan yang terus diasah sedikit demi sedikit. Semuanya membuka pintu yang dulu bahkan tidak terlihat.

Saya mulai percaya bahwa wajah mungkin membuka percakapan pertama. Namun, isi kepala sering menentukan apakah percakapan itu layak dilanjutkan kemana arahnya.

Jadi, uang kita sebaiknya dipakai untuk apa?

Dulu saya selalu mencari jawaban tunggal. Sekarang saya tidak lagi percaya jawaban seperti itu ada. 

Ada bulan ketika saya lebih membutuhkan liburan. Ada bulan ketika saya lebih membutuhkan buku. Ada bulan ketika saya lebih membutuhkan skincare. Ada bulan ketika saya memilih menyimpan uang karena ketenangan ternyata bisa dibeli dalam bentuk dana darurat.

Semakin bertambah usia, saya mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan tentang membuat keputusan finansial yang sempurna. Menjadi dewasa adalah menerima bahwa sebagian uang akan dipakai dengan bijak, sebagian lagi akan dipakai untuk mengobati rasa lelah. 

Sebagian menjadi investasi, sebagian lainnya jadi pengalaman. Ada yang menjadi kenangan, juga menjadi pelajaran. Dan semuanya adalah bagian dari hidup.

Sebab pada akhirnya, investasi terbaik bukanlah yang memberikan imbal hasil terbesar. Investasi terbaik adalah yang membuat kita berhenti merasa tertinggal. 

Karena kalau setiap keputusan selalu lahir dari rasa kurang, sebanyak apa pun uang yang kita miliki tidak akan pernah terasa cukup. Kita hanya akan terus membeli diri kita dengan versi baru dari kecemasan yang sama, dengan kemasan yang sedikit lebih mahal.

Mungkin investasi terbaik bukan pada wajah yang terlihat lebih muda, bukan pada koper yang membawa kita ke tempat baru, dan bukan pula pada angka yang terus bertambah di rekening. Melainkan pada kehidupan yang membuat kita berhenti merasa tertinggal dan merasa cukup sebagai bagian dari hidup.

Penulis: Hayari Putri
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Retinol VS Bakuchiol, Bahan Skincare Populer yang Benci tapi Rindu dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co.

 

Terakhir diperbarui pada 24 Juni 2026 oleh

Tags: dewasakecantikanorang dewasaperempuanskincare
Hayari Putri

Hayari Putri

Hayari Putri adalah seorang Public Relations Strategist, penulis, dan pemerhati komunikasi dengan latar belakang di bidang Public Relations. Ia menulis tentang fenomena sosial, komunikasi, karier, budaya populer, serta refleksi personal.

Artikel Terkait

Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan
Urban

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
pekerja perempuan.MOJOK.CO
Kabar

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO
Esai

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rembang semakin tidak layak dicintai MOJOK.CO

Semakin Tak Punya Alasan untuk Tinggal dan Mencintai Kabupaten Rembang: Tak Beranjak ke Mana-mana, Kolotnya Dipelihara

17 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

“A Decade of Leisures”, Perayaan 10 Tahun Land of Leisures dengan Tujuan Memperkuat Ekosistem Kreatif Lokal

19 Juni 2026
Perjuangan Lily usai lulus dari manajemen dakwah. MOJOK.CO

Kisah Anak Tukang Tambal Ban yang Setahun Nganggur usai Wisuda, Kini Bisa Kerja di Sekolah Internasional setelah Ratusan Penolakan

17 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026
Pengamen di kampung Jombang bisa datang 4-5 kali dalam sehari MOJOK.CO

Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman

22 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.