Krisis kesehatan mental remaja di Indonesia sangat nyata. Jangan pernah malu untuk meminta bantuan profesional dalam mengatasinya.
***
Di balik gemerlap dunia hiburan, artis Ariel Tatum ternyata pernah menyimpan luka batin yang sangat kelam. Jauh sebelum ia dikenal publik sebagai sosok aktris berbakat, masa remajanya justru diwarnai awan mendung yang pekat.
Bayangkan saja, di usia yang baru menginjak 13 tahun, perempuan kelahiran 1996 ini sudah dua kali mencoba mengakhiri hidupnya.
Momen mengerikan tersebut nyatanya menjadi titik balik bagi Ariel. Ia jadi merasa kalau ada yang salah dengan dirinya, dan ia butuh pertolongan profesional.
Beruntung, Ariel tidak berjuang sendirian menghadai gangguan kesehatan mental ini. Ia memiliki keluarga yang sangat hangat dan mendukungnya untuk berkonsultasi ke psikolog.
Lima kali berganti psikolog
Namun, jalan menuju kesembuhan tak pernah instan. Ibarat mencari kepingan puzzle yang hilang, Ariel harus bergonta-ganti hingga lima psikolog dan tiga psikiater demi menemukan tenaga medis yang benar-benar pas.
Titik terang itu baru muncul saat usianya 16 atau 17 tahun. Lewat serangkaian pemeriksaan, ia akhirnya mendapat kepastian diagnosis medis. Ia didiagnosis mengidap Borderline Personality Disorder (BPD) atau gangguan kesehatan mental berupa “kepribadian ambang”.
Kondisi BPD membuat citra diri Ariel menjadi kabur. Emosinya sering naik turun tak terkendali, bahkan membuatnya sangat kesulitan dalam membangun hubungan asmara.
Meski awalnya sempat melewati masa penolakan, Ariel perlahan memilih berdamai dengan kondisi kesehatan mental itu. Diagnosis itu justru menjadi kompas baginya. Ia menjadi tahu cara melakukan tindakan pencegahan dan mengendalikan diri saat badai emosi itu datang menyerang lagi.
1 dari 50 remaja mengalami masalah kesehatan mental
Kisah kelam yang berhasil dilewati Ariel Tatum ini nyatanya bukan sekadar cerita tunggal dari dunia selebritas. Di luar sana, kisah serupa sedang menjadi krisis nyata yang mencengkeram erat anak-anak muda kita di Indonesia.
Alarm bahaya ini berbunyi makin keras menyusul temuan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, pada tahun 2025 lalu. Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menyasar sekitar 7.000 siswa di 72 Sekolah Rakyat, terungkap sebuah kenyataan yang menyayat hati terkait kondisi kesehatan mental mereka.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 1 dari 50 anak, atau sekitar 2 persen remaja di rentang usia 15 hingga 24 tahun, terperosok ke dalam jurang depresi. Kecanduan gawai dan paparan media sosial yang tiada henti disinyalir menjadi pemicu utama meroketnya rasa cemas mereka.
Namun, ada data yang jauh lebih mengerikan. Hasil CKG membeberkan bahwa 1 dari 10 murid usia 13 hingga 17 tahun pernah melakukan percobaan bunuh diri lebih dari satu kali, hanya dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Angka ini jelas bukan main-main. Ia adalah alarm darurat.
Masa remaja fase rawan, tapi jangan buru-buru melabeli
Lantas, mengapa masa remaja begitu rentan terhadap guncangan kesehatan mental? Pakar psikologi sekaligus Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa masa remaja memang merupakan fase hidup yang rawan.
Di masa ini, anak-anak tidak cuma tumbuh secara fisik, tapi emosi, pikiran, dan kehidupan sosialnya juga sedang terbentuk. Mereka sibuk mencari jati diri, ditambah lagi harus menghadapi tekanan belajar, urusan pertemanan, masalah keluarga, hingga kerasnya dunia maya.
Meski begitu, Rahmat mengingatkan kita agar tidak buru-buru melabeli semua emosi remaja sebagai penyakit jiwa. Menurutnya, anak muda yang gampang galau atau emosinya naik-turun itu sebenarnya proses alamiah.
“Mengalami krisis pada tahap pertumbuhan itu hal yang wajar. Keberhasilan melewati dan menghadapi krisis pertumbuhan itulah yang menjadi tangga menuju kedewasaan dan kematangan,” ujar Rahmat, Jumat (31/7/2026).
Masalah baru muncul ketika krisis dan tekanan itu dibiarkan menumpuk tanpa jalan keluar.
“Tetapi kalau ini berlanjut menjadi kesedihan tanpa habis, depresi, nah itu sudah menjadi masalah kesehatan jiwa,” tegasnya menjelaskan batas antara stres wajar dan gangguan kesehatan mental.
Kunci menghadapi kesehatan mental adalah dukungan keluarga
Kunci untuk mencegah masalah ini agar tidak berujung petaka sebenarnya ada di dalam rumah, persis seperti yang dialami oleh Ariel Tatum. Sayangnya, masih banyak orang tua yang bingung cara membedakan mana sikap wajar anak pubertas dan mana sinyal awal gangguan mental.
Menurut Rahmat, orang tua tidak boleh sekadar mengabaikan. Mereka harus menciptakan rasa aman.
Caranya tidak selalu dengan mencecar anak lewat banyak pertanyaan, tapi dengan menunjukkan bahwa orang tua siap mendengarkan tanpa menghakimi.
“Membiarkan berbeda dengan memberi kesempatan, atau memberi ruang. Orang tua yang tepat adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengalami, tetapi juga menunjukkan bahwa kapan pun diperlukan, siap mendukung dan tidak menghakimi,” kata Rahmat, menyarankan.
Jika anak mendadak kehilangan minat pada hobinya, terus-terusan mengurung diri di kamar berhari-hari, atau perilakunya berubah drastis, itu adalah sinyal darurat. Komunikasi hangat harus segera dibangun.
Jika terasa buntu, mencari bantuan profesional adalah langkah paling rasional.
Tak perlu malu meminta bantuan
Di sisi lain, upaya skrining atau cek kesehatan di sekolah seperti program CKG memang patut diapresiasi. Namun, Rahmat mengingatkan bahwa sekadar memeriksa saja belum cukup. Harus ada tindak lanjut.
“Hanya mengenali sakitnya tanpa menyediakan cara mengobatinya itu seperti memberi harapan palsu saja,” sorotnya.
Kisah yang dialami Ariel Tatum dan temuan dari Menkes Budi Gunadi, bagi Rahmat, mengajarkan satu hal: kesehatan mental sama berharganya dengan kesehatan fisik. Mengalami masalah jiwa bukanlah aib yang harus disembunyikan.
“Sikap yang baik adalah menerima bahwa saya memang sedang mengalami masalah kesehatan mental dan tidak perlu malu untuk meminta bantuan,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Buku Menyelamatkan Hidup Gen Z di Tengah Krisis Isu Kesehatan Mental dan “Bokek Finansial” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













