MOJOK.CO – Hewan-hewan di Kebun Binatang Surabaya (KBS) itu tak pernah tahu bahwa tubuhnya kering kerontang bukan karena tak ada yang bisa dimakan. Mereka jadi korban social murder penguasa.
Hewan-hewan di Kebun Binatang Surabaya tidak pernah tahu mengapa tubuh mereka menjadi kurus. Mereka tentu tidak memahami laporan pertanggungjawaban, pengeluaran fiktif, ataupun permainan angka yang disusun orang-orang di ruang berpendingin udara.
Mereka hanya tahu satu hal: makanan yang seharusnya tiba di kandang tidak pernah datang dalam jumlah semestinya.
Berbagai jenis hewan itu hanya bisa pasrah lalu mati. Dari karnivora, herbivora, hingga yang berstatus predator puncak di alam liar, semuanya terlihat sangat mengenaskan. Kematiannya bukan karena dimangsa satwa lain yang secara rantai makanan berada di atas mereka.
Saya katakan, mereka mati karena dibunuh!
Dan, yang paling bajingan dari semuanya, mereka dibunuh demi sesuatu yang sangat nista dan culas: foya-foya pejabat.
Social murder di KBS Surabaya: Tega kurangi pakan demi kepentingan pribadi
Mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya periode 2016–2024, Choirul Anwar, ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan pada 21 Juli 2026. Ia diduga terlibat dalam korupsi pengelolaan keuangan KBS. Salah satunya pengurangan anggaran pakan hewan di KBS.
Berdasarkan penghitungan sementara Kejaksaan Tinggi Jawa Timur bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Jawa Timur, perkara tersebut diduga menimbulkan kerugian negara sebesar Rp10,2 miliar.
Penyidik menemukan dugaan pengeluaran kas yang tidak sah, pembiayaan kegiatan fiktif, penggunaan dana yang tidak sesuai peruntukan, serta pengeluaran untuk kepentingan pribadi. Laporan pertanggungjawaban diduga disusun seolah-olah uang telah digunakan untuk membiayai operasional Kebun Binatang Surabaya.
Sekitar Rp7,4 miliar dari kerugian tersebut diduga mengalir untuk kepentingan pribadi Choirul Anwar. Sementara itu, penyidik masih mendalami aliran dana lainnya dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Menurut Kejati Jawa Timur, anggaran yang semestinya digunakan untuk pakan dan perawatan satwa tidak disalurkan sebagaimana mestinya.
Akibat pemotongan jatah makan dan penyelewengan dana operasional selama bertahun-tahun, satwa-satwa di KBS menjadi korban langsung. Mereka dilaporkan mengalami kekurangan gizi akut, menjadi sangat kurus, rentan terhadap penyakit.
Beberapa di antaranya dilaporkan mati akibat minimnya nutrisi serta perawatan. Selain itu, dana yang dikorupsi membuat banyak fasilitas kebun binatang menjadi kotor, rusak, dan tidak terawat dengan baik.
Mereka tidak ditembak, tetapi kebutuhan hidupnya dirampas
Ini jelas masalah struktural. Friedrich Engels memperkenalkan istilah social murder atau pembunuhan sosial dalam The Condition of the Working Class in England pada 1845.
Engels berargumen bahwa ketika sebuah sistem sosial secara sadar merampas kebutuhan dasar kelompok rentan, dan menempatkan mereka dalam kondisi di mana mereka mustahil bisa bertahan hidup.
Itu sama sekali bukan “nasib buruk”, tapi pembunuhan terencana oleh struktur masyarakat yang menindas.
Artinya, korupsi dana operasional yang membunuh hewan-hewan di kebun binatang itu adalah social murder dalam bentuknya yang paling telanjang.
Konsep social murder tersebut digunakan untuk menjelaskan kematian prematur yang tidak selalu disebabkan oleh peluru, pisau, atau kekerasan langsung. Masyarakat atau sistem dapat disebut melakukan pembunuhan sosial ketika dengan sadar menempatkan kelompok rentan dalam kondisi yang membuat mereka kehilangan kesehatan dan mati sebelum waktunya.
Tidak terlihat seorang pembunuh berdiri sambil memegang senjata. Kematian tampak seperti peristiwa alamiah. Padahal, kebutuhan dasar korban telah dirampas sedikit demi sedikit oleh mereka yang memiliki kuasa.
Apa yang terjadi di Kebun Binatang Surabaya dapat dibaca menggunakan kerangka tersebut. Satwa-satwa itu mungkin tidak dibunuh dengan senapan. Akan tetapi, ketika dana pakan dan perawatan mereka diduga dialihkan untuk kepentingan pribadi, kondisi yang membuat mereka sakit dan terancam mati telah diciptakan secara sadar.
Di dalam kandang, seekor harimau boleh saja berstatus predator puncak. Namun, ia tidak berdaya menghadapi manusia yang memegang kendali atas anggaran makanannya.
Harimau bisa mengalahkan hampir semua binatang di habitatnya, tetapi tidak bisa melawan angka fiktif dalam laporan pertanggungjawaban.
Gambaran social murder oleh penguasa
Lalu, bagaimana dengan manusia? Sama saja. Toh, kita pada dasarnya juga hewan, dalam definisi Aristotelian. Bahasa Arab-nya, hayawan al-natiq.
Tapi ironisnya, sebagai hewan yang katanya berakal budi, kita justru pasrah dikibuli sistem korup. Ketika bantuan sosial dikorupsi, akses layanan kesehatan dan pendidikan dipersulit, upah buruh ditekan sedemikian rupa, negara sebenarnya sedang menciptakan kandang bagi warganya sendiri.
Penguasa memotong jatah hidup warganya demi foya-foya kelas elite.
Sayangnya, saat terjadi tragedi kemanusiaan, narasi yang dibangun tampak selalu menyalahkan korban.
Saya teringat karakter Joy Lobo dalam film 3 Idiots. Mahasiswa teknik yang cerdas, hampir lulus, namun harus berakhir tragis dengan cara gantung diri di kamar asramanya karena proyek akhirnya ditolak mentah-mentah oleh sang Direktur, Profesor “Virus” Sahastrabuddhe.
Sialnya, polisi dan pihak kampus dengan enteng menyimpulkan bahwa itu adalah kasus bunuh diri akibat mental yang lemah.
Tak terima rekan seasramanya dipandang remeh, Ranchodas Chanchad (Rancho) berbisik kepada Profesor Virus di pemakaman Joy Lobo. Dengan wajah dingin, Rancho menjelaskan tentang tekanan sistemik yang tidak masuk akal, tenggat waktu yang mencekik, dan ancaman masa depan yang sengaja dihancurkan oleh sang profesor.
Rancho lalu melontarkan kalimat telak: “Ini bukan bunuh diri, tapi pembunuhan, Sir!”
Masyarakat dipaksa menganggap kemiskinan sebagai kemalangan
Apa yang diucapkan Rancho di film itu dan apa yang terjadi pada satwa di kebun binatang Surabaya memang beda zonasi. Tapi keduanya memiliki elan vital dengan bagaimana sistem hari ini memproduksi kemiskinan dan kematian kelas bawah.
Dalam banyak hal, masyarakat kita masih kerap menganggap kemiskinan sebagai kemalangan nasib semata. Atau lebih parah, menuduh warga miskin sebagai orang-orang yang malas bekerja, kurang gigih, dan kurang berdoa.
Karena itu, kasus dugaan korupsi di Kebun Binatang Surabaya tidak cukup dipandang sebagai perkara kerugian negara sebesar Rp10,2 miliar. Ini adalah kisah tentang manusia yang memperoleh kuasa untuk merawat kehidupan, tetapi menggunakan kuasa tersebut untuk memperkaya diri.
Hewan-hewan itu tidak bisa menuntut keadilan. Mereka tidak dapat menjadi saksi di pengadilan dan tidak mampu menceritakan berapa lama rasa lapar menggerogoti tubuh mereka.
Di titik ini, masihkah kita menganggap bahwa kematian warga miskin, atau adanya kemiskinan itu sendiri sebagai takdir dan menuduh orangnya sebagai mereka yang jauh dari Tuhan?
Kapitalisme negara tidak sereligius itu kawan!!
Penulis: Anwar Kurniawan
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Indonesia Jadi Negara “Penyiksa” Hewan Tertinggi Dunia: Hukum Lemah, Kekerasan Jadi Hiburan














