MOJOK.CO – Benar kata Pak Presiden, sebagai dosen lulusan S3, saya justru makin merasa goblok karena semakin banyak belajar.
Tempo hari jari saya iseng mengusap layar ponsel. Muncul sebuah berita utama yang menampilkan gambar Presiden Prabowo Subianto sedang berpidato. Beliau melemparkan kalimat yang langsung viral: “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, jadi goblok!”
Mendengar kalimat itu, saya tidak marah. Beneran, tidak ada rasa tersinggung sedikit pun.
Sebaliknya, saya justru refleks menyeruput teh saset yang sudah dingin, lalu tertawa gemas pada diri sendiri.
Dalam hati saya nyeletuk: “Walah, Pak Prabowo kok bisa tahu banget sih apa yang sedang saya rasakan?”
Sebagai seorang dosen geografi lulusan S3 yang H-Index Scopus-nya tiarap, saya merasa kalimat itu bukan sindiran politik. Bagi saya, itu adalah diagnosis medis yang sangat akurat untuk kondisi kejiwaan saya sehari-hari.
Nasib dosen kalahan: Rajin pangkal pandai ternyata malfungsi
Pak Prabowo benar. Saya ini bukti nyatanya. Saya adalah contoh hidup dari spesies manusia yang sudah sekolah bertahun-tahun sampai jenjang doktor, tapi hasil akhirnya cuma satu: makin hari makin merasa goblok.
Dulu, waktu masih SD, saya diiming-imingi pepatah yang terdengar sangat menjanjikan: rajin pangkal pandai.
Guru-guru saya menanamkan keyakinan bahwa semakin banyak buku yang saya baca, semakin tinggi pendidikan yang saya tempuh, maka otak bakal makin encer, canggih, dan serba tahu.
Dulu, saya membayangkan kelak bakal jadi orang pintar yang berdiri gagah di atas panggung membagikan solusi untuk seluruh permasalahan dunia.
Namun, dasar nasib dosen kalahan. Begitu selesai S3 dan terjun ke dunia akademis yang sesungguhnya, pepatah itu mendadak mengalami malfungsi berat.
Di dunia kampus yang penuh keruwetan teori ini, rumus hidupnya ternyata bergeser menjadi: rajin pangkal pandai, tapi pandai itu juga ternyata adalah pangkal kegoblokan yang hakiki.
Sebelum saya sekolah sampai S3, dunia ini rasanya sederhana sekali. Semuanya kelihatan hitam-putih, betul-salah, gampang-susah.
Saya merasa tahu banyak hal hanya karena sudah membaca satu artikel atau satu buku pelajaran. Saya merasa siap mendebat siapa saja di warung kopi.
Tapi musibah terjadi ketika saya sekolah makin tinggi dan bertemu dengan banyak orang alim dan berwawasan luas. Sekolah S3 justru mempersempit volume otak saya secara tragis.
Saya lulusan S3 universitas terbaik di Prancis, saya tetap merasa goblok
Sebagai lulusan S3 dari Prancis, ternyata ilmu yang benar-benar saya kuasai itu ya cuma seputaran masalah pesisir dan laut. Urusan pasang surut air laut, abrasi pantai, atau kerusakan hutan mangrove, bolehlah saya diajak diskusi.
Namun, kalau tiba-tiba ada orang bertanya, “Mas dosen, gimana caranya ningkatin nilai ekspor negara kita biar rupiah menguat?”
Jawabannya adalah: saya nggak tahu… Nol besar… Maaf, masih goblok.
Meskipun di ijazah saya tertulis gelar doktor, ilmu saya soal ekspor-impor itu sama saja dengan Bapak saya yang lulusan STM mesin: nol. Sekolah tinggi-tinggi ternyata tidak bikin saya tahu seluruh isi bumi, tapi justru bikin saya cuma paham satu cuil kecil tanah di pojokan bumi, sementara sisanya masih gelap gulita.
Makin lama belajar, saya makin terseret ke dalam lubang hitam bernama ketidaktahuan. Semakin banyak belajar, makin paham bahwa diri ini sebetulnya tidak tahu apa-apa.
Kalau padi merunduk karena berat berisi beras, saya merunduk karena pusing memikirkan betapa dungunya kepala ini di hadapan luasnya samudra pengetahuan.
Kalau sudah begini, saya suka menghibur diri pakai kutipan legendaris dari Sir Isaac Newton. Seorang pakar (menurut pandangan saya) yang merumuskan hukum gravitasi dan kalkulus itu konon di ujung usianya pernah membuat pengakuan yang bikin elus dada:
“Everything we’ve discovered: laws of motion, the structure of atoms, the behavior of light, makes up just that one drop. But beyond that drop stretches a vast, deep ocean: the unknown.”
Membaca kutipan Newton itu, hati saya jadi agak adem. Bayangkan, pakar sekelas Newton saja menganggap seluruh ilmu yang berhasil diungkap manusia cuma seukuran setetes air di tengah samudra ketidaktahuan.
Lah, kalau Newton saja merasa cuma memegang setetes air, lalu dosen geografi kalahan seperti saya ini pegang apa? Jangan-jangan saya cuma memegang embun di daun kelor?
Itu pun sudah keburu menguap karena saya bangunnya sering kesiangan…
Di depan mahasiswa, rasa goblok itu makin sempurna
Belum lagi kalau saya berdiri di dalam ruang kelas di hadapan para mahasiswa era digital sekarang. Rasa goblok itu makin sempurna.
Di hadapan mahasiswa, saya sering merasa seperti manusia purba yang nyasar ke era ruang angkasa.
Soal algoritma media sosial yang berganti tiap minggu, penggunaan software-software analisis terbaru, hingga pemanfaatan AI tercanggih untuk olah data, mahasiswa saya jauh lebih paham dan lincah ketimbang dosennya ini.
Saya yang pegang ijazah S3 dari salah satu universitas terbaik di Prancis ini sering harus menggaruk kepala sambil bertanya malu-malu, “Mas, itu tombol software-nya tadi diklik sebelah mana, ya?”
Tragedi menjadi orang “goblok” ini juga kadang bikin saya dicap berbelit-belit dan tidak punya pendirian.
Ketika menjawab suatu pertanyaan, otak saya dipaksa untuk menyampaikan sebuah persoalan dari berbagai macam teori dan sudut pandang. Kami diajar untuk melihat masalah dari perspektif ekologi, sosial, ekonomi, hingga historis.
Bagi kami, tidak ada fenomena di dunia ini yang berdiri sendiri dalam ruang hampa.
Maksud hati ingin menyampaikan gambaran utuh dari berbagai sudut pandang teori, tapi di mata orang luar, penjelasan yang memutar dari lima sudut pandang ini terkadang malah terdengar ruwet.
Maksudnya mau mencoba bijaksana dari berbagai teori, tapi yang tertangkap kadang malah: “Iki dosen ngomong apa sih, muter-muter ra cetho, blok!”
Risiko profesi, makin menyelami makin sadar betapa dangkalnya kita
Inilah letak kelucuan dari ujaran Pak Prabowo. Ketika dia menyebut “saking pintarnya jadi goblok”, saya menyadari bahwa para politisi memang paling gemas melihat orang yang kerjaannya menimbang masalah dari belasan teori seperti saya.
Di panggung politik, orang butuh kepastian hitam-putih. Butuh jawaban “ya” atau “tidak”. Sementara orang yang belajar ilmu tinggi-tinggi terkadang masih suka terjebak dalam labirin “tergantung teori mana yang kita pakai”.
Di mata praktisi aksi, kerumitan berpikir dari berbagai perspektif ini bisa jadi terlihat tolol luar biasa.
Tapi ya mau bagaimana lagi? Kegoblokan jenis ini adalah risiko profesi. Makin kita mencoba memahami dunia dari berbagai teori, makin kita sadar betapa dangkalnya pemahaman kita.
Orang yang terus merasa goblok adalah orang yang sadar batas pengetahuannya. Yang bahaya itu kan sebaliknya: orang yang baru tahu satu sudut pandang, tapi merasa sudah menggenggam seluruh samudra ilmu, lalu berteriak paling keras merasa paling benar.
Sebagai dosen biasa yang hidupnya pas-pasan, saya sudah sampai pada tahap menerima takdir. Saya menerima bahwa hidup saya memang ditakdirkan untuk berputar dalam siklus: belajar, merasa paham sebentar, membaca buku dan teori baru, lalu kembali merasa goblok.
Kalau Pak Prabowo menganggap orang-orang yang sok pakar itu saking pintarnya jadi goblok, saya cuma mau angkat tangan paling depan sambil bilang: “Saya ikut daftar rombongan itu, Pak!”
Besok pagi, saya akan tetap masuk ke ruang kelas seperti biasa. Saya akan kembali berdiri di depan mahasiswa yang lebih jago software dan buat video JJ ketimbang saya, berdiskusi tentang ilmu geografi dengan mereka, sambil terus mengingatkan diri sendiri bahwa saya ini sebetulnya tidak tahu apa-apa.
Nanti, kalau ada tetangga atau mahasiswa yang menyindir saya, “Ah, Mas Dosen ini sok pinter, saking pintarnya malah dongo!”
Saya bakalan tersenyum lebar dan membalas dengan santai: “Memang. Makanya, sampai tua gini saya masih harus rajin baca dan belajar terus. Supaya nggak goblok dan merasa tahu segalanya…”
Penulis: Bachtiar W Mutaqin
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit