MOJOK.CO – Ketika toilet masjid sebagai fasilitas bersuci justru berpotensi menjadi sumber kontaminasi, muncul pertanyaan sederhana: apakah ruang tersebut benar-benar mendukung tujuan bersuci?
Saya masih ingat bagaimana Oma begitu kesulitan setiap kami berhenti di masjid saat perjalanan antarkota. Waktu itu saya masih berusia lima tahun dan belum mengerti mengapa ia selalu tampak ragu sebelum masuk ke toilet perempuan.
Yang saya tahu, Oma harus membantu saya buang air sambil berusaha menghindari genangan di lantai. Lima belas tahun kemudian, saya baru memahami ketidaknyamanan yang ia rasakan. Toilet yang kami gunakan memang tidak pernah benar-benar dirancang untuk kebutuhan perempuan.
Yang lebih menyedihkan, kondisi itu dianggap biasa. Kita terlalu lama berdamai dengan fasilitas yang seharusnya tidak layak diterima. Saya pun bertanya-tanya, jika kelak memiliki anak perempuan, apakah ia masih akan mengalami keresahan yang sama?
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla pernah menyebut Indonesia memiliki lebih dari 800.000 masjid dan musala. Artinya, masjid merupakan jaringan fasilitas publik terbesar yang mudah diakses masyarakat.
Sayangnya, sebagian besar toilet masjid masih menggunakan konsep toilet basah: ruang wudu, bilas, dan buang air berada dalam satu area sehingga lantai hampir selalu tergenang.
Risiko besar bagi perempuan di balik toilet masjid
Di iklim tropis dengan kelembapan tinggi seperti Indonesia, air yang menggenang bukan sekadar masalah estetika belaka. Riset mikrobiologi lingkungan membuktikan bahwa genangan di toilet publik mengandung bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan spora jamur patogen dalam konsentrasi yang melampaui batas aman (Ali dkk., 2025).
Siapa pun yang menggunakan toilet masjid menanggung risiko kesehatan akibat sanitasi yang buruk. Risiko ini berlaku bagi semua pengguna, tetapi perempuan menanggung dampak yang lebih besar.
Saat buang air, perempuan harus membuka sebagian pakaian dan membutuhkan area yang benar-benar kering dan bersih. Hal ini akan menjadi sulit jika tidak tersedia pijakan kering, tempat sampah tertutup, serta fungsi drainase dan kualitas air yang buruk.
Pada bilik basah, pakaian yang terbuka akan langsung terkontaminasi bakteri dan membuka jalur infeksi, sebab tidak ada pilihan lain yang tersedia.
Ditambah lagi, Secara anatomi, perempuan menanggung risiko biologis yang jauh lebih tinggi daripada laki-laki. Panjang uretra perempuan hanya sekitar empat sentimeter dan posisinya berdekatan dengan anus, sehingga lebih rentan terkena infeksi saluran kemih.
Ancaman yang lebih membahayakan adalah sifatnya yang kerap tidak bergejala dan baru disadari saat sudah memburuk. Pada perempuan dengan imunitas yang melemah, seperti saat kelelahan atau menstruasi, kemampuan bakteri untuk berkolonisasi dapat meningkat signifikan. Satu paparan sudah cukup membuka jalur infeksi yang menghabiskan biaya kesehatan jauh melampaui harga selembar karpet karet.
Masjid adalah tempat yang mewajibkan thaharah atau bersuci sebagai syarat sah ibadah. Karena itu, ketika fasilitas bersuci justru berpotensi menjadi sumber kontaminasi, muncul pertanyaan sederhana: apakah toilet masjid tersebut benar-benar mendukung tujuan bersuci?
Sayangnya, pembahasan soal sanitasi selama ini sering terjebak pada dua ekstrem: menyalahkan pengguna karena dianggap kurang menjaga kebersihan atau menunggu renovasi besar yang mahal.
Padahal, persoalannya terletak pada desain fasilitas yang memaksa orang berkompromi dengan kebersihan. Memperbaiki lingkungan jauh lebih realistis daripada berharap jutaan orang mengubah kebiasaannya sendiri.
Baca halaman selanjutnya














