Mutiara Putri Azzahra tidak pernah menyangka bisa kuliah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), mengingat kondisi ekonomi keluarganya.
Belajar mandiri saat teman-temannya ikut bimbel
Alumnus SMA Plus Al-Ghifari Bandung itu awalnya tidak berencana lanjut pendidikan ke perguruan tinggi karena memahami kondisi ekonomi keluarganya.
Saptono, ayah Mutiara, sehari-hari keliling menjual tahu bersama sang istri. Jika dihitung-hitung dengan logika, upahnya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Namun, Saptono menepis itu walaupun harus mengkis-mengkis bekerja.
“Niat awal saya ingin bekerja karena melihat kondisi ekonomi keluarga sepertinya belum memungkinkan untuk kuliah,” ujar Mutiara.
Begitu pula Saptono yang awalnya ragu bisa membiayai anaknya kuliah. Dia bukannya tidak senang. Hanya khawatir soal biaya. Bahkan, ketika melihat anak-anak lain bisa ikut bimbingan belajar sedangkan putrinya tidak, hati Saptono seolah ciut.

Saban malam, saat keluarganya sudah tertidur lelap, Saptono kerap memperhatikan Mutiara yang masih melek melihat Youtube. Dari sana, Mutiara mulai mencatat materi-materi dan berusaha mencari penjelasan dari soal yang kurang dia mengerti.
Melihat potensi dan kemauan belajar yang besar dari putrinya, Saptono pun merasa getir. Maka, dengan sisa-sisa gajinya yang tak seberapa, Saptono tetap berupaya membelikan Mutiara buku panduan untuk belajar mandiri.
“Itikad dan kemauan Mutiara sangat kuat. Akhirnya, saya membelikannya buku panduan,” ujar Saptono dikutip dari laman resmi ITB, Kamis (23/7/2026).
Doa terpanjang sebelum pengumuman lolos ke ITB
Selain ikhtiar, Saptono juga mengingatkan putri bungsunya itu agar tak lupa berdoa. Maka, menjelang pengumuman seleksi di masa-masa Ramadan, dia mengajak putrinya untuk terus memohon dan memanfaatkan malam-malam terakhir itu dengan sebaik-baiknya.
“Saya mengatakan kepada anak saya, ‘manfaatkan malam lailatulqadar dan mintalah petunjuk kepada Allah karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya’,” katanya.

Jerih payah Mutiara dan keluarganya pun membuahkan hasil. Kesempatan mulai terbuka ketika Mutiara dinyatakan sebagai siswa yang memenuhi syarat untuk mengikuti SNBP.
Gurunya mendorong Mutiara agar mencoba mendaftar ke perguruan tinggi dan tidak melewatkan kesempatan tersebut. Mutiara pun berdiskusi dengan sang ayah mengenai bidang pendidikan yang sesuai dengan minatnya.
Sejak sekolah, Mutiara menyukai ilmu pengetahuan alam, terutama biologi dan kimia. Saptono pun merekomendasikan ITB karena yang sejalan dengan ketertarikan putrinya.
“Saya mencoba mendaftar ke ITB dan alhamdulillah diterima,” katanya.
Kabar kelulusan tersebut menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga. Mutiara tidak menyangka dapat diterima di FMIPA ITB lewat jalur SNBP. Sebab ketika mendaftar, dia hanya berusaha memberikan yang terbaik sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Begitu pula dengan Saptono yang tidak mampu mengungkapkan kebahagiaannya.
“Saya hanya dapat mengucapkan syukur, lalu sujud syukur. Sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin, ketika Allah menentukan, ternyata dapat terjadi,” ujarnya.
Kebahagiaan tersebut sempat disertai kekhawatiran mengenai biaya pendidikan. Namun, Saptono memilih untuk terus berusaha dan meyakini bahwa akan ada jalan bagi pendidikan putrinya.
Menerima beasiswa untuk kuliah di ITB

Agaknya Saptono memang tak perlu khawatir, sebab Mutiara memang dikenal sebagai anak yang rajin. Di sela-sela kesibukannya belajar, Mutiara Mutiara aktif dalam organisasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sekolah.
Sepulang sekolah, dia juga mengajar mengaji secara privat kepada anak-anak di TK. Di samping itu, Mutiara juga mencari-cari informasi soal beasiswa hingga diterima sebagai mahasiswa KIP Kuliah. Bagi Mutiara, dukungan tersebut sangat berarti karena membuatnya dapat lebih fokus belajar tanpa terus memikirkan biaya kuliah.
Tak hanya soal bantuan pendidikan, Mutiara merasakan dukungan yang besar dari kedua orang tuanya. Meski berada dalam keterbatasan, Saptono dan Suci terus memberikan nasihat, semangat, doa, serta berusaha memenuhi kebutuhan pendidikannya.
Dukungan juga datang dari keluarga besar, guru, teman-teman, dan tetangga yang senantiasa menyemangatinya selama belajar dan mempersiapkan diri memasuki perguruan tinggi.
Target lulus di ITB tepat waktu
Mutiara pun sadar kesempatan berkuliah di ITB tidak terlepas dari pengorbanan kedua orang tuanya. Ia menyampaikan terima kasih kepada keduanya yang terus mendukungnya.
“Terima kasih kepada Ayah dan Ibu yang sudah mendukung saya. Meskipun kami berada dalam keterbatasan secara ekonomi, Ayah dan Ibu terus berjuang,” katanya.
Selama berkuliah di ITB, Mutiara bertekad belajar dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan pendidikannya tepat waktu.
“Insyaallah, saya ingin lulus tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Kelak, Ayah dan Ibu tidak perlu lagi memikirkan biaya. Saya ingin membantu dan menanggung kebutuhan keluarga,” tuturnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














