Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Bimbel UTBK SNBT adalah “Penipuan”: Rela Bayar Mahal demi Rasa Aman dan Jaminan Semu, padahal Tak Pasti Lolos dan Kuliah di PTN

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
3 Maret 2026
A A
Bimbel untuk lolos UTBK SNBT agar diterima di PTN

Ilustrasi - Bimbel untuk lolos UTBK SNBT agar diterima di PTN (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Fase paling menakutkan setelah lulus SMA adalah memastikan mendapat satu kursi di bangku perkuliahan. Jika bisa, perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, mengamankan kuota ini tidak akan mudah, khususnya ketika mengingat harus bersaing melawan seluruh Indonesia melalui UTBK SNBT, sehingga sebagian berpikir untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel) agar “aman”. Padahal, bimbel tidak menjamin apa-apa.

***

Circa 2019, saya menjadi salah satu pelajar SMA yang merasakan ketakutan itu. Ingin masuk PTN, tapi tahu sulit. Coba legowo dengan berkuliah di swasta saja, sadar biaya kuliahnya yang mahal.

Namun di sisi lain, kalau mengikuti bimbel untuk menjaminnya, saya juga tahu biaya yang dikeluarkan untuk bimbel tidak  murah. Jadilah saat itu, seakan-akan saya ditempatkan di persimpangan keputusan yang membuat dilema. Apa pun keputusannya seolah-olah berujung pada diterima atau tidaknya saya di PTN.

Meski sebenarnya, tidak juga. Saya tetap berhasil lolos PTN tanpa bimbel.

Bimbingan belajar, solusi “praktis” masuk PTN

Merasa getir seakan tidak diterima di PTN adalah akhir segalanya merupakan ketakutan yang sering terjadi pada sebagian pelajar begitu mereka akan lulus dari SMA. Membayangkan, tidak seperti teman-teman yang memakai almamater PTN. Juga, harus berusaha mengejar ketertinggalan, padahal sudah merasa tertinggal, pastilah mengerikan.

Makanya, bimbel di Indonesia menjamur.

Sedikitnya pada 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah usaha/perusahaan pendidikan di Indonesia mencapai 619.947 usaha. Jumlah ini setara dengan 2,32 persen dari jumlah usaha/perusahaan di Indonesia.

Meskipun tidak seluruhnya adalah bimbel persiapan untuk masuk kuliah, mengetahui bahwa pendidikan “ekstra” dijadikan sebagai sesuatu yang menguntungkan, serta ditingkatkan sudah menggambarkan adanya kebutuhan akan kelas tambahan di luar jam sekolah.

Sebuah publikasi dari Bank Indonesia pada 2010 juga menyebutkan sekitar 950 ribu anak tercatat sebagai peserta bimbel di Indonesia. 

Semakin tahun, bimbel untuk seleksi UTBK semakin diminati

Animo siswa SMA terhadap bimbel yang dapat membantu dalam mempersiapkan seleksi PTN ini seakan tidak ada habisnya.

Salah satu bimbel di Surabaya kini dapat menembus lebih dari 300 siswa di berbagai cabangnya. Alasannya, para siswa dinilai butuh pendampingan intensif dalam mempersiapkan seleksi.

Namun pendampingan “intensif” tersebut tentu tidak gratis, tidak juga murah. Biaya paket persiapan masuk PTN tersebut dihargai sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta untuk durasi 10 bulan. Artinya, biaya bimbel merogoh Rp400 ribu per bulan.

Biaya yang tidak sedikit, tetapi masih rela dibayarkan untuk mendapat jaminan akan lolos ke bangku perkuliahan dalam seleksi UTBK SNBT. 

Iklan

Hal yang menguntungkan bagi pengusaha bimbel di satu sisi, seperti yang diakui Direktur Utama Genza Education Surabaya. “Respons orang tua sangat tinggi. Di beberapa center, target peserta selama setahun sudah tercapai hanya dalam beberapa bulan,” kata Syamsul Maarif, seperti dilansir dari Antara

Sementara itu, saya lebih memilih membayar kurang dari Rp400 ribu untuk belajar mandiri

Dari semua penawaran mengenai jaminan yang dijanjikan bimbel, saya memilih menjadi salah satu dari sebagian yang tidak tergiur.

Rasa-rasanya, ketimbang membayarkan berjuta-juta (yang uangnya bisa digunakan untuk berjaga-jaga barangkali harus mendaftar Ujian Mandiri) saya lebih memilih untuk belajar mandiri selama proses persiapan UTBK untuk SBMPTN—sebutan sebelumnya untuk UTBK SNBT.

Saat itu, saya ingat Tes Potensi Skolastik (TPS) menjadi momok tersendiri, khususnya untuk ujian pengetahuan kuantitatif. Maklum, saya bodoh sekali soal hitung-hitungan.

Karena itu juga, saya menghubungi salah satu teman yang pernah melaju ke Olimpiade Sains Nasional untuk mata pelajaran Matematika. Kurang lebih begini permohonan yang saya ajukan.

“Tolong ajarin Matematika dong.”

Lalu, setiap hari, saya akan mengusiknya dengan mengirimkan foto soal latihan yang tidak bisa saya jawab, atau foto soal dan kunci jawaban yang tidak bisa dipahami. Tapi, tidak apa-apa, saya yakin dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Toh, pertemanan itu transaksional dan harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.

***

Begitulah yang terjadi selama tiga bulan sebelum UTBK SNBT. Saya mempersiapkan semuanya sendiri, mulai dari latihan soal sampai menemukan jawaban. Kadang-kadang menghubungi teman, kadang-kadang mencoba menemukan jawaban melalui penelusuran Google, dipersingkat melalui Brainly. Sebab, saat itu belum ada akal-akalan imitasi (AI).

Satu-satunya yang membantu saya secara konsisten adalah salah satu platform bimbel yang sayangnya telah tutup sejak 2024. Seingat saya, platform ini adalah bimbel paling murah dari sejenisnya, hampir-hampir hanya bersedekah.

Zenius namanya. Video belajarnya hanya hitam putih papan tulis. Tidak terlalu ada animasi, pemaparannya singkat tanpa basa-basi, durasi paling lama tiga menit, tapi itulah yang membantu saya melalui persiapan seleksi SNBT.

Penawaran menarik yang dibungkus dengan harga kurang lebih Rp400 per tahun, malah kurang dari itu seingat saya. 

Namun bagaimanapun, saya rasa bukan cuma Zenius yang punya andil. Namun, konsistensi belajar hari itu selama tiga bulan dengan pantangan berupa, “Saya nggak boleh keluar, main, jalan-jalan, kalau belum lolos UTBK.”

Pantangan itu berlangsung selama tiga bulan dengan rutinitas yang isinya: bangun, mandi, makan, belajar, makan, belajar, dan ulangi.

Bimbel memberikan rasa “aman”, tapi belajar mandiri untuk lolos UTBK SNBT tidak mustahil

Bukan hanya saya yang belajar mandiri dan berhasil lolos ke PTN, salah satu yang terbaik di Indonesia pula. Ning (23) juga berhasil diterima Universitas Gadjah Mada berkat usahanya belajar sendiri.

“Pas zaman SMA dulu, pulang sekolah teman-teman sekelas langsung mencelat ke bimbelnya masing-masing. Aku langsung pulang karena bimbelku ya langganan Zenius yang waktu itu setahun Rp400 ribu,” katanya, Selasa (3/3/2026).

Ning mengaku, ia lebih memilih untuk belajar mandiri dan tidak mengikuti bimbel yang merogoh kocek lebih mahal saat itu. Cara belajarnya sama, berjuang sendirian mati-matian. 

Akan tetapi, perjuangan sendiri yang membuat Ning bertanya-tanya, “Kadang kepo, gimana rasanya belajar di bimbel? Apa yang ‘dijamin’ dari sana sampai pada rela bayar mahal?” tanyanya menggambarkan.

Meskipun usahanya telah membuahkan hasil, Ning membayangkan bahwa “jaminan” bimbel itu serupa rangkulan untuk berjuang sama-sama.

“Bimbel memberi sensasi jaminan bahwa mereka nggak sendiri di dunia yang makin kompetitif sendiri-sendiri ini,” katanya.

Ibaratnya, Ning melihat fenomena bimbel ini sebagai dorongan bahwa memang siswa SMA itu akan masuk ke ruang ujiannya sendiri. Lalu, mengikuti tesnya seorang diri. Namun setidaknya, segala persiapannya didampingi. Itulah harga yang harus dibayar mahal.

Bagi Ning, saya, dan mereka yang memilih untuk tidak bimbel, nyatanya masih ada kesempatan untuk menjadi “aman” tanpa harus ketakutan. Pada akhirnya, semua dijalani sendirian dan ditentukan oleh usaha masing-masing peserta.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: DeLiputanrita Kakak yang Jadi Tulang Punggung Keluarga: Adik Lolos SNBP Malah Overthinking, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Menderita atau liputan Mojok lainnya di rubrik 

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2026 oleh

Tags: bimbelbimbel utbkcara belajar utbkcara lolos utbkKuliah di PTNkuliah di Surabayakuliah di UGMlolos PTNlolos snbtLolos UTBK
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten
Edumojok

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO
Edumojok

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua
Edumojok

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja MOJOK.CO
Edumojok

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026
Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

14 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Jurusan Antropologi Unair kerap diremehkan. MOJOK.CO

Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas

9 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.