Kisah ironis seorang dosen bergelar S2 di desa yang sering dijadikan rujukan masalah semua warga, tapi kredibilitasnya justru hancur lebur di hadapan dukun.
***
Setiap kali pulang kampung ke desa, saya selalu merasa canggung dengan perubahan cara tetangga menyapa. Panggilan nama mendadak berganti menjadi “Mas” dengan nada yang kental akan penghormatan.
Di lingkungan desa, ijazah pendidikan tinggi rupanya berfungsi menjadi dokumen buatnaik kasta sosial. Orang yang pernah mengecap bangku kuliah, apa pun jurusannya, langsung diposisikan sebagai kelompok terhormat.
Imbasnya, muncul satu ekspektasi yang sering kali merepotkan. Orang kuliahan selalu dianggap tahu segalanya.
Namun, keresahan saya itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengalaman Rohim (31). Pria asal Gunungkidul ini memegang gelar S2 dan bekerja sebagai dosen di salah satu kampus swasta di Yogyakarta.
Bagi warga desanya, kombinasi gelar master dan profesi dosen otomatis mengubah Rohim menjadi “orang pintar” yang wajib punya solusi untuk semua masalah warga.
Beban lulusan S2 menjadi rujukan segala masalah warga desa
Realitas menjadi sosok yang “dituakan” secara keilmuan di desa sering memunculkan rentetan situasi absurd. Rohim bercerita bahwa warga kerap menjadikannya rujukan utama untuk urusan yang sama sekali tidak bersinggungan dengan disiplin ilmunya.
Pendidikannya dihormati, tapi keahliannya disalahpahami.
“Sebagai lulusan ilmu komunikasi, kadang sering merasa aneh kalau semua-mua masalah yang nggak ada hubungannya sama pendidikanku ikut ditanyakan. Tapi ya aku nikmati saja,” kata Rohim, Senin (7/9/2026).
Misalnya, pernah suatu malam, seorang tetangga mengetuk pintunya dengan wajah panik. Anak balitanya demam tinggi, muntah-muntah, dan diare parah.
Secara logika, di desa tersebut terdapat mantri dan bidan yang jelas memiliki kapasitas medis. Namun, karena Rohim dilabeli sebagai “orang paling pintar di desa”, tetangga itu justru nekat meminta saran pengobatan kepadanya.
“Ya aku tahu apa soal penyakit selain nanya AI?” ujarnya, menceritakan situasi lucu tersebut sambil tertawa.
Ujung-ujungnya, Rohim hanya bisa memberikan saran yang paling masuk akal bagi warga awam. Ia menyuruh sang tetangga segera bawa anak tersebut ke puskesmas terdekat sebelum dehidrasi.
Diminta membantu membereskan masalah komunikasi pasangan suami istri
Kelucuan berlanjut pada cara warga menerjemahkan gelar akademiknya secara sangat harafiah. Rohim, memang lulusan S2 program studi Ilmu Komunikasi. Ia juga menjadi dosen Ilmu Kominikasi.
Barangkali di mata warga awam, label “ahli komunikasi” punya makna yang sangat dangkal. Sedangkal ia dianggap ahli dalam menyelesaikan segala bentuk miskomunikasi, tak terkecuali pertengkaran rumah tangga.
Alhasil, Rohim bercerita, ketika ada pasangan suami istri di desa yang bertengkar hebat hingga nyaris bercerai, keluarga mereka mendatanginya. Warga menganggap sang dosen pasti memegang solusi ampuh untuk memperbaiki komunikasi suami istri yang sedang macet total.
“Ya aku tahu apa soal hubungan suami istri. Apalagi itu kan masalah privat. Jujur saja aku nggak berani kasih saran soal ini.”
Mau tak mau, aa harus menjelaskan perlahan bahwa ilmu komunikasi yang ia pelajari di kampus bukan ditujukan untuk mediasi perceraian.
Tapi harus kalah sama klenik
Dihormati dan dianggap punya solusi pada kondisi normal ternyata tidak menjamin “kredibilitas” Rohim selalu berada di atas angin. Ada kalanya, logika akademik tak berdaya menghadapi klenik.
Puncak ironi kehidupannya sebagai lulusan S2 di desa terjadi saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu.
Di masa krisis dan kepanikan tersebut, segala gelar mentereng dan penjelasan logis Rohim mendadak kehilangan harga. Ketika korban jiwa mulai berjatuhan, warga desa lebih percaya bahwa virus tersebut adalah fenomena mistis.
“Jadinya itu, banyak warga lebih percaya pada desas-desus horor yang menyebar cepat dari mulut ke mulut soal virus ini. Katanya ini, katanya itu, alih-alih percaya tenaga medis,” ujarnya.
Kasus kematian beruntun di desanya lebih dipercaya sebagai akibat dari hantu keranda terbang yang mengetuk pintu warga di malam hari. Ada pula yang menyebarkan kesaksian soal kemunculan cahaya merah misterius yang jatuh tepat di atap rumah orang yang akan meninggal dunia keesokan harinya.
Sebagai orang terpelajar, Rohim merasa punya tanggung jawab moral untuk meluruskan misinformasi tersebut. Ia menjelaskan perlahan cara kerja virus dan pentingnya mencuci tangan serta memakai masker.
“Tapi Sayangnya, semua penjelasanku itu mental begitu aja. Warga lebih percaya klenik.”
Lulusan S2 di desa juga kalah pamor dari dukun
“Kegagalan” edukasi Rohim semakin terlihat jelas ketika warga mulai mengambil langkah antisipasi versi mereka sendiri. Alih-alih mematuhi anjuran organisasi kesehatan dunia, saat itu warga di desanya justru lebih patuh pada instruksi dukun dan tokoh spiritual desa.
“Jadi kayak ada anggapan kalau bagi mereka, penyakit yang datangnya tiba-tiba dan tak terlihat itu hanya bisa dilawan dengan kekuatan mistis dari dukun,” ujar lulusan S2 ini.
Banyak warga yang akhirnya sibuk mencari perlindungan alternatif. Mereka membentengi diri dan keluarga menggunakan buhul, semacam jimat penolak bala yang dibungkus kain kecil.
Jimat-jimat ini digantung di atas pintu utama rumah, diikatkan pada pergelangan tangan, hingga diletakkan di bawah bantal. Dalam pandangan mereka, jimat racikan dukun jauh lebih ampuh menangkal cahaya merah dan keranda terbang ketimbang sekadar selembar masker medis.
Anehnya, meski mati-matian menolak sains dan berlindung di balik jimat, warga desa ini pada akhirnya bersedia mengikuti program vaksinasi massal. Namun, alasan mereka mau disuntik sungguh jauh dari kesadaran kesehatan.
Kata Rohim, mereka rela mengantre berjam-jam untuk divaksin semata-mata karena takut BLT dari pemerintah tertahan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mahasiswa S2 UGM Dicap Buang-buang Waktu karena Suka K-Pop, Malah Bisa ke Luar Negeri berkat Hobi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan