Bagi sebagian orang, K-pop mungkin cuma perkara lagu berbahasa Korea, laki-laki dengan rambut warna-warni, album yang harganya tidak murah, photocard, light stick, lalu antre berjam-jam demi menonton konser. Mahasiswa S2 UGM ini punya pengalaman yang berbeda.
***
Bagi Nindya Sekarwangi (26), hubungan dengan K-pop ternyata tidak sesederhana itu. Perempuan asal Bantul yang sedang menempuh pendidikan S2 Kajian Budaya dan Media di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini sudah mengenal K-pop sejak 2013. Awalnya cuma karena terpengaruh teman sekolah. Ia mendengarkan lagu-lagu K-pop sekadarnya, tanpa pernah berpikir bahwa bertahun-tahun kemudian kegemarannya tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan akademiknya.
Pandemi membuat hubungan Nindya dengan K-pop semakin dekat. Namun, ia baru benar-benar mendalaminya ketika memasuki 2025. Kuliah S2 UGM, menurut Nindya, tidak selalu berisi pengalaman akademis yang menyenangkan. Ada stres yang harus dihadapi. Ada pula kebutuhan untuk mencari hiburan.
Dari sesuatu yang awalnya hanya menjadi hiburan, Nindya kemudian menemukan pertanyaan yang lebih serius: mengapa K-pop dan budaya Korea Selatan bisa diterima begitu luas, termasuk di Indonesia? Pertanyaan itu yang kemudian membawanya lebih jauh.
Dari sekadar fans sampai mengoleksi photocard
Perjalanan Nindya sebagai penggemar K-pop sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penggemar lainnya. Ia mendengarkan lagu melalui layanan streaming, membeli album fisik, mengoleksi photocard, hingga menonton konser secara langsung di Indonesia.
Aktivitas tersebut membuatnya beberapa kali berhadapan dengan anggapan bahwa menjadi penggemar K-pop adalah bentuk kegemaran yang berlebihan. Komentar seperti “paling wasting time”, “buang-buang uang saja”, atau “nggak ada manfaatnya” sudah bukan sesuatu yang asing baginya.
Nindya tidak merasa harus menjelaskan kecintaannya kepada orang-orang yang sejak awal sudah memiliki pandangan negatif terhadap K-pop.
“Sulit menjelaskan kepada mereka yang memang nggak akan paham apa yang saya sukai,” katanya ketika sesi wawancara via pesan WhatsApp oleh Mojok pada Sabtu (05/09/2026).
Menurut Nindya, menjadi K-popers tidak sesederhana menyukai laki-laki Korea. Ada alasan personal yang membuat seseorang masuk ke dalam fandom.
“Menjadi K-popers itu nggak sekadar suka doang sama cowok-cowok Korea. Ada banyak alasan orang itu into K-pop, Ada musik yang membantu seseorang melewati masa tertentu. Ada komunitas yang membuat seseorang merasa memiliki ruang untuk berinteraksi. Ada pula aktivitas kolektif yang kemudian berkembang jauh melampaui urusan membeli merchandise dan menonton konser,” ujarnya.
Pandangan tersebut yang kemudian mendapatkan tempat ketika Nindya berkuliah di Kajian Budaya dan Media UGM. Ia mulai melihat K-pop bukan hanya sebagai sesuatu yang dikonsumsi, melainkan sebagai fenomena budaya yang dapat diteliti.
Ketika K-pop masuk ruang akademik
Ada momen ketika kegemaran personal Nindya bertemu dengan kebutuhan akademiknya. Di S2 UGM khususnya program studi Kajian Budaya dan Media, ia menemukan berbagai teori mengenai budaya populer dan budaya kontemporer. K-pop pun mulai terlihat berbeda di matanya.
“Seperti gayung bersambut. Selain jadi hiburan, ternyata K-pop dan K-culture itu ada teorinya dan memang bisa dikulik secara akademis,” kata Nindya.
Dari situ rasa penasarannya berkembang. Ia mulai mempertanyakan mengapa K-culture dapat diterima di berbagai negara. Di Indonesia, misalnya, pengaruhnya tidak hanya terlihat melalui K-pop. Ada drama Korea, K-beauty, makanan, gaya berpakaian, hingga berbagai bentuk budaya Korea Selatan lainnya.
Yang membuat Nindya tertarik justru bukan hanya produk budayanya, melainkan orang-orang yang mengonsumsinya. Ia mulai mempelajari fandom. Bagaimana orang bisa menjadi penggemar sebuah grup yang terbentuk dan menyebar hingga mengapa seseorang bersedia menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang untuk sesuatu yang secara sepintas dianggap tidak penting.
Dalam proses itu, Nindya menemukan banyak cerita personal. Ada orang yang menjadi penggemar karena musik. Ada yang menemukan komunitas. Ada pula yang merasa terbantu melewati masa sulit karena secara tidak sengaja menemukan lagu atau grup tertentu.
Salah satu temannya bahkan pernah bercerita bahwa dirinya merasa “terselamatkan” oleh sebuah grup K-pop setelah tidak sengaja mendengarkan lagu mereka. Bagi Nindya, pengalaman semacam itu menunjukkan bahwa hubungan antara penggemar dan budaya populer tidak selalu bisa diukur dengan nominal album atau harga tiket konser.
Fandom K-pop tidak selalu soal hura-hura
Rasa penasaran tersebut kemudian bertemu dengan keresahan Nindya terhadap stigma yang selama ini melekat pada fandom K-pop. Ia melihat penggemar K-pop kerap dipandang sebagai sekumpulan orang yang tidak produktif. Padahal, ketika mulai melakukan penelitian, Nindya menemukan sisi lain dari fandom yang menurutnya justru jarang dibicarakan: aktivisme.
Dalam penelitiannya, ia menemukan arsip mengenai keterlibatan fandom K-pop dalam isu sosial dan politik di Indonesia. Salah satunya berkaitan dengan aksi demonstrasi penolakan terhadap revisi UU KPK pada 2019. Ia menemukan dokumentasi yang memperlihatkan keterlibatan penggemar K-pop dalam aksi tersebut.
Contoh lain muncul ketika isu kenaikan PPN menjadi perhatian publik pada 2025. Nindya menemukan adanya peserta aksi yang membawa lightstick, benda yang selama ini identik dengan konser dan fandom K-pop. Bagi Nindya, benda yang biasanya digunakan untuk menyemarakkan konser ternyata bisa berubah menjadi simbol identitas ketika dibawa ke ruang demonstrasi.
Tidak berhenti di isu politik, ia juga menemukan fandom K-pop yang melakukan penggalangan dana untuk membantu pendidikan di Yogyakarta. Temuan-temuan tersebut kemudian menjadi bagian dari keresahan akademiknya.
Kalau fandom selama ini dianggap tidak produktif, mengapa sebagian dari mereka justru terlibat dalam isu sosial? Kalau K-pop hanya dianggap sebagai hiburan, mengapa fandom bisa membentuk solidaritas dan melakukan aksi kolektif? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin ia bawa lebih jauh.
“Fandom luar biasa” dibawa ke Korea Selatan

Kesempatan itu datang dari seorang teman S2 UGM yang kebetulan satu program studi dengannya. Nindya kemudian diajak mencoba mengirimkan abstrak. Siapa tahu lolos.
Pada Mei, ia mulai mempersiapkan diri. Awal Juli, abstraknya dikirim. Menjelang akhir Juli, pengumuman datang: mini risetnya lolos dan ia mendapat kesempatan mempresentasikannya secara langsung di Korea Selatan pada Agustus dengan tajuk “2026 Global K-Culture International Conference” di Chungbuk National University, South Korea.
Judul mini riset tersebut adalah Extraordinary Fandom: Negotiating Social Legitimacy Through K-pop Fan Activism in Indonesia atau “Fandom Luar Biasa: Menegosiasikan Legitimasi Sosial melalui Aktivisme Penggemar K-pop di Indonesia.”
Saya kemudian bertanya kepada Nindya, apa yang pertama kali muncul di kepalanya ketika mengetahui abstraknya lolos?
“Dream come true,” ujar mahasiswa S2 UGM tersebut.
Bukan hanya karena bisa terbang ke Korea Selatan, tetapi karena yang dibawanya ke sana adalah sesuatu yang selama ini dianggap remeh oleh sebagian orang: fandom K-pop Indonesia.
“Kayak, kok aku bisa terbang ke Korea Selatan dan mempresentasikan budaya yang aku pelajari?” ujarnya.
Dalam konferensi tersebut, audiensnya tidak hanya berasal dari Korea Selatan. Ada peserta dari berbagai negara. Nindya mengatakan respons yang diterimanya cukup baik. Para peserta menikmati presentasinya dan tertarik dengan apa yang ia teliti.
Salah satu tanggapan yang paling diingatnya datang dari peserta asal India. Orang tersebut mengaku kagum dengan penggemar K-pop di Indonesia yang menurutnya memiliki keterlibatan dalam isu politik dan sosial. Ia bahkan membandingkannya dengan kondisi di India yang, menurut pengalamannya, tidak menunjukkan gerakan sosial-politik dari fandom K-pop secara semasif Indonesia. Bagi Nindya, tanggapan tersebut memperlihatkan bahwa fenomena fandom tidak bisa dilepaskan begitu saja dari konteks sosial tempat fandom itu tumbuh.
Bertemu idol setelah membicarakan fandom
Ada satu bonus yang membuat perjalanan akademik Nindya ke Korea Selatan terasa semakin lengkap. Ia menonton konser Seventeen. Kalau selama ini harus memikirkan tiket konser K-pop di Indonesia, perjalanan ke Korea membuat pengalaman tersebut terasa berbeda. Menurut Nindya, menonton konser di negara asal grup justru lebih mudah karena tidak perlu berhadapan dengan persoalan calo seperti yang pernah dialami temannya.
Korea Selatan akhirnya menjadi tempat Nindya melakukan dua hal yang selama ini seperti berada di dua dunia berbeda: membicarakan K-pop secara akademis sekaligus menikmatinya sebagai penggemar.
Di satu sisi, ia berdiri sebagai mahasiswa yang membahas fandom melalui penelitian. Di sisi lain, ia tetap menjadi penggemar yang membeli tiket dan datang ke konser. Dua posisi itu ternyata tidak harus bertentangan. Justru dari pengalaman sebagai penggemar, Nindya memiliki kedekatan dengan objek yang ditelitinya. Ia memahami bagaimana fandom bekerja bukan hanya dari teori, tetapi juga dari pengalaman berada di dalamnya.
Namun, pengalaman tersebut juga membuatnya semakin yakin bahwa stigma terhadap K-popers terlalu sederhana. Menjadi penggemar tidak otomatis membuat seseorang tidak produktif. Membeli album tidak otomatis berarti seseorang tidak peduli dengan persoalan sosial. Menonton konser juga tidak serta-merta menghapus kepedulian terhadap politik. Bagi Nindya, manusia memang bisa melakukan banyak hal sekaligus.
Sebelum percakapan kami berakhir, saya kembali bertanya apakah ia punya pesan untuk orang-orang yang masih menganggap K-pop cuma soal hura-hura. Nindya tertawa sebelum menjawab.
“Coba aja dulu nyemplung di K-pop biar kamu tahu bagaimana kompleksitas fandom itu sendiri. Karena ternyata K-pop bisa dikaji secara akademik,” tutupnya.
Menurutnya, K-pop tidak hanya tentang membeli merchandise dan menonton konser. Ada relasi sosial, budaya, identitas, sampai aktivitas politik yang bisa diteliti lebih jauh.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan