Kembali ke Kota Solok, Sumatera Barat setelah merantau dari Jakarta dan Surabaya selama 8 tahun, membuat Mentari (25) sadar ada banyak momen sederhana yang kini dia syukuri saat kembali ke ranah Minang.
***
Tahun 2018 lalu, Mentari harus merantau dari Solok ke Surabaya untuk menempuh pendidikan tinggi. Di tahun itu pula proses pendewasaan diri dimulai. Terpisah jarak lebih dari 2 ribu kilometer jauhnya dari kampung halaman dan keluarga, menuntut Mentari untuk hidup mandiri dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang dia ambil.
Selama 4 tahun tinggal di Surabaya dan lulus sarjana pada tahun 2023, Mentari mengaku belajar banyak hal. Namun, ada satu pelajaran berharga yang membuatnya bersyukur sampai sekarang.
“Sekarang aku cenderung lebih berani untuk mencoba peluang-peluang baru yang hadir di hidupku,” kata Mentari saat dihubungi Mojok, Kamis (3/9/2026).
Pelajaran itu pula yang membuat Mentari berani untuk mengambil kerja di Jakarta.
Kerja remote di Jakarta tapi merasa hampa
Tak perlu waktu lama bagi Mentari untuk mendapat pekerjaan yang berpusat di Jakarta setelah lulus kuliah. Perempuan asal Minang itu mengaku kerja di sebuah startup yang berfokus pada dunia pendidikan. Kemampuan yang dibutuhkan adalah digital marketing, AI dan corporate training dengan sistem kerja remote.
Walaupun pernah tinggal di Surabaya sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, Mentari mengaku masih butuh waktu untuk beradaptasi. Khususnya dalam membentuk kebiasaan dan rutinitas kerja. Namun, karena pekerjaan yang remote, Mentari mengaku ada kerinduan yang mendalam untuk pulang ke ranah Minang.
Selama ini, dia merasa sudah terlalu lama merantau, tapi belum benar-benar mengeksplorasi kampung halamannya sendiri.
“Banyak pertimbangan tentunya, sampai aku memutuskan stay di Sumatra Barat karena kerjaku masih WFH dan pingin banget eksplor ranah Minang,” jelas Mentari.
“Dan ternyata, hidup di kampung halaman tidak semonoton itu, seperti yang aku takutkan sebelum memutuskan pulang,” lanjutnya.
Pulang ke ranah Minang, kembali ke jati diri
Setelah satu bulan tinggal di Solok, Mentari mengaku betah. Sesuai dengan tujuan awalnya, dia mulai menyibukkan diri untuk kerja remote sembari mengeksplorasi Sumatera Barat. Momen jalan-jalan itu juga sering dia abadikan lewat konten-kontennya di media sosial.
“Jadi Senin sampai Jumat aku kerja di rumah, kadang di coffee shop, terus Sabtu sampai Senin ke luar kota untuk eksplor ranah Minang,” ucapnya.
Mentari pun sadar ada banyak momen sederhana yang kini dia syukuri saat kembali ke ranah Minang. Misalnya, perihal menghargai waktu.
Di Jakarta, Mentari bisa menghabiskan waktu 4 jam untuk pulang-pergi dari kosan ke tempat kerja. Sementara di Sumatera Barat, waktu tersebut bisa dia gunakan untuk perjalanan dari Solok ke Bukittinggi menggunakan jasa Malindo sambil melihat pemandangan alam yang indah.
Kalau di Jakarta dia bisa menonton film di bioskop terdekat, bahkan bisa bertemu dengan pemeran utama secara langsung. Maka di ranah Minang, dia dapat menonton pertandingan bola dengan gratis disertai angin sepoi dari pohon-pohon indah yang menjulang.
Di hari liburnya, Mentari bisa mengunjungi tempat-tempat wisata di Sumatera Barat yang sebelumnya tak sempat dia datangi saat masa anak-anak maupun remajanya. Lulus SMA, dia pun langsung pergi merantau ke Surabaya lalu kerja di Jakarta.
“Aku jadi mempertanyakan, dulu kenapa sih pas masa SD nggak pernah diajak ke sini, seringnya cuma liat Jam Gadang dan Ramayana. Padahal, kalau aku ke Museum Bung Hatta yang ada di Bukittinggi misalnya, aku bakal banggain beliau dari dulu,” ucap Mentari.
Tak hanya itu, Mentari juga mensyukuri banyaknya warung makan enak di Sumatera Barat. Jika di perantauan dia sering makan soto, Mentari kini bisa menikmati makanan favoritnya, yakni sup khas ranah Minang.
Petuah dari ranah Minang yang dipegang para perantau
Beberapa momen sederhana di atas membuat Mentari sadar akan makna dari kiasan atau petuah orang Minang.
“Maknanya jadi sangat indah dan mengandung pesan yang sangat dalam bagi aku. Berbeda ketika mendengar petuah itu ketika belajar Budaya Alam Minangkabau di bangku SD/SMP,” ucap Mentari.
Salah satu petuah yang sangat berkesan baginya adalah mambangkik batang tarandam. Secara harfiah, petuah tersebut berarti membangkitkan atau mengangkat kembali batang (pohon) yang sudah lama terendam di dalam air.
Namun, jika dimaknai lebih dalam, petuah tersebut merupakan pengingat bagi manusia untuk menghidupkan kembali marwah atau kejayaan masa lalu, baik martabat keluarga maupun kampung halaman.
“Sebagai urang minang dengan logat kental di perantauan, pembawannyo pun ndak bisa lapeh dari Minang. Rugi bana rasonyo kalau ndak mengenal nagari surang,” ucap Mentari.
“Jadi mau sejauh dan selama apa pun hidup di rantau, kalau ketemu sama orang sesama Minang rasanya ingin bilang ‘yo jaleh bana urang awaknyo mah diak’ (ya jelas sekali dia orang Minang, Dek),” lanjutnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Standar Orang Have Menurut Gen Z: Pilih Jadi Staf Biasa demi Work-life Balance, Muak dengan Tuntutan Pekerjaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan