Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Maret 2026
A A
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada mulanya, tawaran kerja Work from Home (WHF) atau Work from Anywhere (WFA) tampak menggiurkan. Bagaimana tidak. Tidak ada kewajiban ke kantor. Bisa kerja dari/di mana saja. Fleksibilitas seperti itu tentu menjadi dambaan banyak orang—bisa slow living. 

Namun, tidak semua kantor dengan sistem WFH dan WFA benar-benar sesuai sesuai yang diharapkan. Ada juga yang rasanya malah seperti jebakan. Begitu yang dirasakan Nano (27) setelah bertahun-tahun kerja di sebuah kantor content creator di yang beralamat kantor di Jakarta Barat. 

Iklan

Kerja WFH – WFA, awalnya tampak enak karena fleksibel

Nano bekerja di kantor dengan produk utama content writing tersebut sejak 2021 melalui lowongan kerja yang dikirim seorang teman yang sudah lebih dulu bekerja di sana. 

Bungah nian hati Nano karena begitu mudah diterima. Mengingat, di tahun-tahun tersebut—di tengah badai pandemi Covid-19—mencari kerja memang sedang susah-susahnya. 

Terlebih, kerja di kantor tersebut tidak ada kewajiban ngantor sama sekali. Malah memang harus work from home atau work from anywhere. 

“Nggak apa-apa modal WiFi di rumah. Dan menurutku, di tengah pandemi, kerja WFH atau WFA justru lebih ideal. Pikirku saat itu,” tutur Nano, Kamis (26/3/2026). Dengan sistem kerja seperti itu, Nanon justru punya fleksibilitas tinggi. Malah terkesan nyantai di rumah.

Nano mengisi posisi sebagai editor untuk konten-konten artikel SEO yang masuk. Gajinya Rp2 juta. Memang segitulah standar gaji di kantor tersebut untuk posisinya. Nanti seiring waktu konon akan naik. 

Meski kerja WFH – WFA, tapi presensi, jam kerja, dan beban kerja ketat

Meski dalam skema work from home dan work from anywhere, kantor yang beralamat di Jakarta Barat itu memberlakukan sistem kerja ketat. Presensi dibuka dari jam 6-8 pagi. Jam kerja berlangsung dalam 8 jam perhari. Ada beban kerja yang sudah dipatok untuk karyawan penuhi. Dan ada pembagian shift pagi dan malam. 

Sekali lagi, awalnya itu tidak menjadi persoalan bagi Nano. Pemuda asal Purwokerto, Jawa Tengah, itu menikmati tahun pertamanya sebagai pekerja WFH – WFA. 

Kalau dapat shift pagi, ia punya waktu lebih leluasa di sore-malam hari untuk main-main. Kalau dapat shift malam, ya prei dulu mainnya. Habis kerja langsung maraton nonton film hingga Subuh. Pokoknya terasa sangat slow living. 

Setelah bertahun-tahun, sadar kalau itu jebakan

Nano kerja dengan sistem work from home atau work from anywhere di kantor beralamat Jakarta Barat itu hingga pertengahan 2024. Setelah  bertahun-tahun itu, ia akhirnya merasa kalau kerja WFH – WFA yang awalnya tampak enak itu justru menjebak. 

Di tahun pertama memang terasa biasa saja. Namun, di tahun-tahun setelahnya, banyak situasi tidak menyenangkan bagi Nano. 

“Misalnya, karena work from home atau work from anywhere, itu jadi alasan nggak ada THR untuk karyawan. Gaji pun hanya naik sedikit. Aku sampai 2024 cuma terima gaji Rp2,3 juta total. Nggak ada BPJS Ketenagakerjaan,” kata Nano. 

Alasannya, lanjut Nano, ya karena sistem kerja work from home atau work from anywhere (alias dari rumah masing-masing). Tidak ada beban uang bensin untuk pergi-pulang kantor atau sewa kos.

Iklan

Masalahnya, beban kerja pun ikut ditambah. Misalnya, dalam kasus Nano, selain mengedit tulisan, ia juga harus menggarap artikel sendiri karena beban kerja yang ditambah. Sama sekali tidak slow living. 

Alhasil, untuk memenuhi beban kerja tersebut, Nano sering kali harus overtime. Secara tertulis jam kerjanya memang 8 jam. Tapi secara praktik, ia bisa bekerja lebih dari itu. Alasan dari penambahan beban kerja tersebut lagi-lagi sama: toh karyawan bisa mengerjakan di rumah masing-masing. Sehingga harusnya tidak ada persoalan. 

“Karena kalau di rumah sendiri, asumsinya tetap bisa sambil makan dengan leluasa, jajan leluasa, dan sesekali disambi rebahan sambil nonton tv juga nggak masalah,” jelas Nano. 

Iri ke mereka yang bahkan bisa kerja WFC tanpa mikir duit

Tak pelak jika lama-lama Nano merasa kerja work from home atau work from anywhere dengan kantor yang beralamat di Jakarta Barat itu lebih terasa seperti jebakan. Gaji mentok. Sementara kebutuhan hidup dirasa semakin bertambah. 

“Ada masanya aku iri, karena ternyata ada banyak orang di luar sana yang bisa kerja WFH atau WFA tapi dengan gaji sangat layak. Kalau kantor di Jakarta sementara karyawan ada di daerah, gajinya tetap standar Jakarta,” kata Nano. Itulah gambaran slow living sesungguhnya—bagi Nano. 

Apalagi, Nano melihat ada karyawan yang kerja WFH atau WFA yang tidak hanya terkungkung di rumah. Tapi bisa juga work from cafe (WFC).

Semakin ke sini, Nano tentu mikir-mikir untuk WFC. Bahkan ia tidak pernah WFC. Sebab, ia pasti tidak sampai hati memangkas uang gaji yang mentok itu untuk WFC. Sementara ia masih harus membagi untuk membantu kebutuhan rumah orang tua seperti belanja bahan pokok, bayar listrik, dan bayar WiFi. Belum kebutuhan lain seperti bayar pajak tahunan motor. 

Skill dan karier mentok

Selain itu, Nano merasa skill dan keriernya juga mentok. 

Sebab, kerja WFH atau WFA membuat Nano hanya terkungkung di rumah. Tidak berinteraksi dengan orang lain. Tidak bisa merasakan ekosistem dunia kerja yang “sebenarnya”. 

Alhasil, tidak ada trigger bagi Nano untuk menggali potensi lebih dalam. Atau merambah potensi lain. “Skill-ku akhirnya mentok gitu-gitu aja. Dan itu bahaya sekali,” ucap Nano. 

Selama bertahun-tahun kerja di rumah (karena merasa terjebak di kantor yang salah), membuat Nano akhirnya merasa takut menjadi manusia yang gagap dan tidak relevan misalnya suatu saat kerja di ekosistem kerja yang sesungguhnya. 

“Kegagapan itu memang benar-benar kurasakan. Aku keluar 2024, terus kerja yang ngantor beneran. Gagap dengan habit kerja kantoran. Terutama soal komunikasi dan kolaborasi dalam tim,” kata Nano. 

“Tapi benar-benar kerasa bedanya. Di kantor, dengan iklim yang kompetitif, aku terpancing untuk memperkaya potensi diri. Lama-lama kerasa kalau skill-ku nambah, selain gaji an karier yang nggak mentok nggak ke mana-mana seperti sebelumnya,” pungkasnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2026 oleh

Tags: gaji wfhJakarta Baratkerja wfakerja wfhloker wfhslow livingwfaWFCWFHwfh gaji jakartawork from anywherework from cafework from home
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO

Lahirkan Pembalap Kelas Dunia, Tapi Jogja Tak Punya Sirkuit Balap Permanen

15 Juni 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) imbau masyarakat sambut baik petugas sensus ekonomi dari BPS MOJOK.CO

Imbauan ke Warga Jateng kalau Ada Petugas Sensus Ekonomi Datang, Penting untuk Program Ekonomi Masyarakat

15 Juni 2026
Cerita siswa di Timor Tengah Selatan, NTT yang mencari air bersih saja susah. MOJOK.CO

Cerita Siswa di NTT yang Sering Ditegur Guru karena Terlambat Sekolah, padahal Harus Cari Air Bersih Selama 2 Jam untuk Mandi

18 Juni 2026
Ableisme parodikan difabel di medsos. MOJOK.CO

Ableisme: Saat Konten “Plenger” di Medsos Mengantarkan Tawa Penonton tapi Dibayar dengan Trauma dan Depresi Teman Difabel

18 Juni 2026
Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila MOJOK.CO

Kebodohan atau Keberanian: Inilah yang Saya Siapkan ketika Memutuskan Resign Menjelang Usia 30 dan Hidup Sebagai WNI Kelas Menengah Supaya Tidak Berakhir Menderita dan Gila

18 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.