Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Juni 2026
A A
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO

Ilustrasi - Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sepintas, memiliki bisnis atau membuka usaha di desa kabupaten memang tampak slow living. Aspek itu memancing beberapa orang yang lama merantau untuk pulang ke desa saja karena sudah lelah di perantauan. 

Namun, saat tengah benar-benar mempelajari bagaimana sistem bisnis alias usaha di desa kabupaten berjalan, malah jadi tahu fakta: betapa kejamnya persaingan di dalamnya. Jauh sekali dari narasi slow living. 

Iklan

Perang harga ternyata tidak seberapa kejam

Banyak libur panjang di bulan Mei 2026 lalu membuat Alda punya waktu libur cukup lama di rumah: di Jombang, Jawa Timur. Momen libur dari rutinitas sebagai pekerja swasta di Surabaya itu ia gunakan untuk mengunjungi seorang teman baiknya yang belum lama ini mengabari tengah mencoba merintis usaha di desa, berupa kuliner serba pedas: seblak prasmanan, cuanki, dan ceker mercon.

“Memang apa yang membedakan warungmu dengan warung lain?” Tanya perempuan Jombang itu terhadap temannya. Karena sebenarnya di dusun tetangga sudah ada orang yang buka warung kuliner pedas serupa. 

Bedanya, jawab teman Alda, hanya pada variasi menunya. Warung sebelah hanya menyediakan satu menu saja: seblak. Sementara teman Alda menyediakan pilihan lain seperti cuanki dan ceker mercon. 

Saat Alda perhatikan, warung temannya memang cenderung lebih ramai ketimbang warung yang sudah ada lebih dulu. Awalnya ia mengira lebih ke persoalan harga, karena perang harga menjadi sesuatu yang jamak didapati dalam bisnis. Ternyata bukan. 

“Kalau soal rasa, ya sama lah,” tutur Alda. Setelah bertamu ke warung teman baiknya tersebut, barulah Alda tahu bagaimana persaingan bisnis di desa itu bekerja. 

Kejamnya persaingan bisnis di desa kabupaten: enteng sekali jatuhkan usaha orang lain

Kepada Alda, si teman bercerita dengan setengah berbisik bahwa warung sebelah sebenarnya tidak memperhatikan kebersihan alias kemproh. Selain itu, pelayanannya juga lama. ‘

Alda hanya mendengar tanpa merespons. Sebab, ia merasa tidak relate dengan cerita dari si teman. “Ya dulunya kan cewek-cewek sini makannya di warung sebelah. Aku termasuk kalau lagi pulang. Tapi ya kelihatannya nggak ada yang masalah,” tutur Alda. 

Perasaan Alda makin janggal ketika mendapati si teman kerap berpindah-pindah dari satu meja ke meja lain—berhenti mengajak berbincang pelanggan (rata-rata anak desa sendiri). 

Awalnya hanya minta testimoni rasa. Namun, tidak lama kemudian, cerita serupa juga diulang oleh si teman kepada pengunjung yang datang: intinya, mending makan di sini saja, menu variatif, bersih, dan pelayanan tidak selama warung sebelah. 

“Aku akhirnya kan cerita sama ibu dan adik cewekku soal itu. Ya memang begitulah persaingan bisnis di desa, kalau perlu orang bisa sangat kejam buat menjatuhkan bisnis orang lain demi keuntungan bisnis sendiri,” ungkap Alda. 

Ibu Alda menambahkan, risiko berat dalam bisnis atau membuka usaha apapun di desa mereka memang begitu. Seringkali memang bukan perkara perang harga (soal siapa paling murah), tapi justru saling menjatuhkan. 

“Warung-warung kelontong juga sama. Kata ibu, gampang kalau mau bikin warung sendiri ramai terus warung lain sepi. Tinggal cari aib pemilik warung lain, terutama aib pribadi yang sebenarnya nggak ada hubungannya sama warung,” beber Alda. 

Iklan

Setelah itu, aib pribadi itu bisa disebar ke warga lain, lantas membuat warga lain kehilangan simpati dan sampai memberi sanksi sosial dengan tidak melarisi warung orang tersebut. Padahal, aib pribadi itu sama sekali tidak berkaitan dengan mutu barang yang dijual di warung orang itu. 

Situasi itu membuat Alda malah semakin tidak kepikiran untuk pulang ke desa dan merintis bisnis offline di sana. Kalau bisnis di online shop, masih dipertimbangkan sebagai opsi kalau suatu hari ia sudah jengah merantau di Surabaya dan pengin mencari slow living di desa. 

Dilema saling tiru hingga gangguan mistis 

Cerita yang dipaparkan Alda di atas membenarkan temuan Vikri (26) sebelumnya dalam wawancara berjudul, “Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga“.

Saling tiru. Begitulah persaingan bisnis yang harus dihadapi di desa. Jika ada orang bikin warung seblak dan laris, warga desa lain akan membuka usaha serupa. 

Jika ada orang terbukti cuan dari jualan es teh jumbo, maka yang lain lekas-lekas meniru membuka es teh jumbo. Kalau perlu, warung es teh jumbonya berdekatan sekalian dengan pendahulunya biar makin kentara persaingannya, dan seterusnya. Masalahnya, saling tiru itu memberi implikasi berlapis. 

“Saling tiru mungkin jadi realitas yang harus dihadapi dalam bisnis. Tapi kalau di desa, peluangnya bisa menyempit karena pasarnya terbatas. Jika sekali pelanggan pindah ke orang lain yang buka bisnis serupa, maka tamat lah sudah usaha yang lain meskipun ia lebih dulu,” beber pemuda asal Jawa Tengah itu. 

Sayangnya, dalam konteks desa Vikri, agak susah jika ingin mengandalkan kreativitas dan inovasi. Misalnya membuka bisnis kuliner ala kota yang belum ada padanannya di desa, belum tentu laris meskipun benar-benar baru. Pasalnya, selain pasar di desa yang terbatas, belum tentu “barang baru” tersebut memenuhi selera mereka yang desa. Akhirnya gulung tikar pula. 

“Persaingan rebutan pelanggan di desa atau dalam konteks kabupaten bisa melibatkan energi mistis juga loh, masih kental yang begitu-begitu,” tutur Vikri. 

Ini terutama jika menyasar bisnis-bisnis “besar” seperti warung kuliner, warung kelontong, warung sayuran, dan sejenisnya yang jelas-jelas menarik pelanggan banyak. 

Kata Vikri, sepengalaman ia bersinggungan dengan beberapa orang di desa dan di kabupaten asalnya, ada saja yang mengaku usaha mereka sepi karena dikirimi gangguan oleh pedagang lain. Entah tanah kuburan, pocongan, bunga kuburan, atau bentuk buhul lain dengan tujuan membuat warung yang dikirimi tampak tutup atau bahkan tampak buruk. Pokoknya bagaimana caranya membuat orang berpaling dari warung tersebut, sehingga menjadi sepi pembeli. 

Kejamnya persaingan bisnis di desa kabupaten: siapa gemar terima utang, maka dapat pelanggan loyal

Vikri awalnya berpikir, jika ia resign dari pekerjaannya di kota, membuka usaha kelontong menjadi pilihan yang tengah ia siapkan untuk slow living di desa. Namun, setelah tahu fakta di atas dan melalui wanti-wanti dari ibunya, ia justru mengurungkan niat. 

Persaingan bisnis di desa kabupaten memang agak nggatheli kalau kata Vikri. Salah satu yang membuatnya tidak habis pikir adalah fakta yang diungkapkan oleh sang ibu—sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari sering bersinggungan dengan belanja di desa. 

“Perang harga itu nggak seberapa, ternyata. Yang kejam itu, kalau soal utang-piutang atau kasbon,” kata Vikri. 

Dalam persaingan bisnis di desa kabupaten asal Vikri di Jawa Tengah, cara biar mendapat pelanggan loyal adalah dengan: berlapang hati memberi utang dan tidak buru-buru menagihnya. 

Kata ibu Vikri, banyak orang di desanya suka ngutang alias kasbon saat berbelanja. Masalahnya, selain bayarnya lama, kalau ditagih mereka malah berbalik sengak, menuding si pedagang pelit, tidak rukun sama warga, dan lain-lain, lalu pindah ke warung lain. 

“Oleh karena itu, ada pedagang yang—entah terpaksa atau tidak—menggunakan sentimen itu sebagai solusi dapat pelanggan loyal. Nggak apa-apa udah, ngutang-ngutang. Toh selambat-lambatnya pasti dibayar juga. Yang penting, jadi pelanggan tetap aja,” kata Vikri. 

Di pihak pedagang yang berdagang secara profesional, situasi itu memicu dilema: sepi pembeli, tapi tidak mudah pula jika pakai sistem semacam itu. 

“Kalau dibiasakan kayak gitu, ya ajur, Pak. Itu orang yang gemar ngutangi, lama-lama bangkrut juga. Kecuali kalau warungnya memang bukan jadi penghasilan utama,” beber Vikri. 

Beban fiskal demi mendapat pelanggan loyal: hadiah di hari raya

Persaingan mencari pelanggan loyal juga terlihat dari budaya bagi-bagi THR saat menjelang Idulfitri: siapa pedagang paling royal dalam memberi bingkisan ke pelanggan? 

Begini, di desa Vikri, ada tradisi: menjelang Idulfitri, pemilik warung akan memberi semacam hadiah ke pelanggan loyalnya. Entah berupa sembako atau benda-benda bermanfaat lain (seperti panci, wajan, ember, dan lain-lain). 

“Aku nggak tahu awalnya bagaimana ada budaya seperti itu. Tapi yang jelas, itu jadi beban fiskal tersendiri bagi pedagang. Serius. Untung nggak seberapa, tapi harus boncos tiap hari raya,” kata Vikri. 

Sialnya, pemberian hadiah hari raya itu menjadi salah satu penentu pula: apakah orang-orang akan tetap bertahan sebagai pelanggan atau pindah ke pedagang lain. Kalau hadiahnya sekadarnya atau bahkan tidak ada hadiah sama sekali, maka si pedagang siap-siap saja ditinggalkan. 

Apakah hal-hal tersebut ada juga di daerahmu? Bisa jadi tidak. Tapi di desa Alda dan Vikri di daerah kabupaten, begitulah realitasnya. Nyata terjadi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Juni 2026 oleh

Tags: bisnis di desabisnis kulinerbisnis kuliner di desacara dapat pelanggan loyalide bisniside bisnis di desaide usahaide usaha di desameniru bisnis orang lainperang hargapersaingan bisnispersaingan bisnis di desapilihan redaksislow livingstrategi bisnis agar bersaingusaha di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO
Esai

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO
Esai

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita siswa di Timor Tengah Selatan, NTT yang mencari air bersih saja susah. MOJOK.CO

Cerita Siswa di NTT yang Sering Ditegur Guru karena Terlambat Sekolah, padahal Harus Cari Air Bersih Selama 2 Jam untuk Mandi

18 Juni 2026
Perjuangan Lily usai lulus dari manajemen dakwah. MOJOK.CO

Kisah Anak Tukang Tambal Ban yang Setahun Nganggur usai Wisuda, Kini Bisa Kerja di Sekolah Internasional setelah Ratusan Penolakan

17 Juni 2026
Suntikan dana investasi dari investor Tiongkok untuk pengembangan industri kendaraan listrik (EV) di Kendal Jawa Tengah (Jateng) MOJOK.CO

Saat Tiongkok Suntik Rp15 T untuk Industri Kendaraan Listrik di Kendal Jateng: Serap 10.000 Tenaga Kerja, Lokal Jadi Prioritas Utama

15 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Wisata Plunyon Kalikuning Yogyakarta. MOJOK.CO

Ekspektasi Menikmati “Lantai Dua Jogja” di Plunyon Kalikuning Rusak karena Ulah Jamet dan Beberapa Spot yang Tak Terawat

15 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.