Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 April 2026
A A
Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di kota hard skill yang seseorang miliki bisa menjadi daya tawar untuk mencari kerja. Namun, tidak semua keterampilan praktis tersebut bisa berguna saat memutuskan pulang ke desa. Alhasil, rasanya tidak ada opsi untuk slow living karena tidak tahu mesti melakukan apa nanti jika hidup di desa. 

***

Beruntunglah orang-orang dengan hard skill yang bisa dibawa pulang untuk slow living di desa. Mojok banyak mendapat cerita, misalnya, bagaimana orang dengan keterampilan digital marketing bia menjalankan bisnis pemasaran digital melalui rumahnya di desa. 

Ia tampak tidak bekerja. Tapi dari kamarnya, ia bisa menghasilkan transferan dolar AS. 

Belum lama ini, saya pun mendengar cerita dari seorang kenalan asal Banjar, Jawa Barat. Karena keterampilan “ngonten” di kanal YouTube, ia bisa menghasilkan cuan besar hanya dengan hidup di desa. Ia bahkan terang-terangan menyebut menjalani hidup dengan slow living. 

Akan tetapi, ada hard skill tertentu yang sangat laku untuk kerja di kota, tapi tidak relevan saat dibawa pulang. Sementara, karena bertahun-tahun merasa cukup dengan hasil kerja berbasis hard skill tersebut, akhirnya tidak punya skill lain yang bisa menjadi alternatif slow living. 

#1 Menulis: hard skill laku buat kerja di kota, tapi tidak berguna di desa

Di kalangan orang-orang yang bekerja di bidang “menulis”, terutama wartawan dan editor, slow living di desa seolah menjadi sesuatu yang amat jauh. Rasa-rasanya bahkan tidak akan pernah bisa dirasakan. 

Saat di kota, hard skill ini memang bisa menghasilkan cuan: bekerja di media besar dengan gaji layak, menjadi editor penerbitan buku dengan klien berjibun. Belum dari mengisi workshop. 

Namun, kalau dibawa pulang ke desa, lantas mau apa? Karena menulis adalah pekerjaan yang asing sama sekali. 

Di level kabupaten memang ada media. Tapi upah rendah adalah kenyataan yang harus diterima kalau bekerja di sana. 

Sekarang pun banyak media yang membuka lowongan kerja content writer dengan sistem kerja full WFH. Masalahnya, dari pengalaman saya sendiri, pekerjaan tersebut lebih mirip scam: penulis dieksploitasi tenaga dan pikirannya, tapi salary-nya jauh dari manusiawi. 

Obrolan di Threads lantas membuka, ternyata banyak bidang hard skill yang membuat orang overthinking dan menutup asa untuk slow living: 

#2 Barista: profesi idaman tapi ternyata tidak memungkinkan buat slow living di desa

Setelah bertahun-tahun menjadi barista di kota, bayangan indah berikutnya adalah pulang ke desa: merintis bisnis kedai kopi sendiri, lalu hiduplah dengan slow living. 

Lebih-lebih, budaya ngopi memang menjadi salah satu budaya yang tidak lekang zaman. Dengan begitu, hard skill mengolah kopi ala kota awalnya terasa akan sangat berguna di desa. 

Iklan

Itulah kenapa profesi ini menjadi salah satu idaman anak-anak muda. Peluangnya besar. Selain di kota, potensinya bisa dibawa ke kabupaten-kabupaten kecil. 

Namun, yang tidak diperhitungkan, budaya ngopi di desa, kecamatan, atau bahkan level kabupaten, jelas-jelas berbeda dengan kota. Daya belinya berbeda. Minatnya juga berbeda. 

Di kota, barista bisa mengolah beragam varian kopi. Harga Rp30 ribu pergelas juga menjadi harga termurah. Tetapi, di level kabupaten kecil dengan UMK mini, harga segitu jelas sangat kemahalan karena sudah terlanjur terbiasa dengan kopi sachet seharga Rp4 ribuan pergelas. 

Alhasil, alih-alih slow living dengan hard skill kerja barista, yang terjadi adalah kebingungan: tidak punya pasar, nol pemasukan. 

Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…

2 skill lain yang menggiurkan dan dicari-cari, tapi kalau dibawa ke desa bikin pusing karena malah nol pemasukan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 13 April 2026 oleh

Tags: bisnis di desabisnis slow livinghard skillkerja di kotapilihan redaksiskill buat slow living di desaskill kerjaskill kerja di kotaslow livingslow living di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kos di Jogja, kos campur.MOJOK.CO
Urban

Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik

5 Mei 2026
Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO
Catatan

Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

5 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Mendalam

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO
Urban

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

4 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos di Jogja, kos campur.MOJOK.CO

Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik

5 Mei 2026
Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
Bahaya Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Negara Makin Gila! MOJOK.CO

Bahaya Dolar ke Rupiah Makin Gila dan Tembus 17 Ribu, Lalu Menjadi Gambaran Negara Sakit yang Semakin Kritis, Masyarakat Kecil dan Perintis Perlahan Mati

2 Mei 2026
Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO

Solusi atas Jeritan Hati Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

30 April 2026
Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya.MOJOK.CO

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

30 April 2026
Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar S2 Kesehatan Masyarakat dan S1 Kedokteran sebelum usia 25 tahun

Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun

1 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.