Waktu menunjukkan menit ke-100 di Stadion Guadalajara, Meksiko, pada 31 Maret 2026. Papan skor masih menunjukkan angka 0-0. Laga final babak play-off interkonfederasi menuju Piala Dunia 2026 antara Republik Demokratik Kongo dan Jamaika berjalan sangat alot.
Sepanjang 90 menit waktu normal, kiper Jamaika, Andre Blake, berkali-kali menggagalkan peluang emas penyerang Kongo. Membuat jalannya pertandingan terasa sangat menegangkan bagi puluhan ribu suporter yang hadir di stadion.
Kebuntuan itu akhirnya pecah lewat sebuah skema sepak pojok. Bek tengah Kongo, Axel Tuanzebe, berhasil melompat lebih tinggi dari barisan pertahanan lawan. Ia menyundul bola dengan keras ke dalam gawang Jamaika.
Ketika peluit panjang dibunyikan wasit, skor 1-0 tetap bertahan. Kemenangan ini mengakhiri penantian panjang 52 tahun. Kongo berhak tampil kembali di panggung Piala Dunia, mengulang sejarah yang pernah mereka ukir pada tahun 1974 saat negara tersebut masih bernama Zaire.
View this post on Instagram
Kabar kemenangan di Amerika Utara itu merambat sangat cepat menuju Benua Afrika. Di Kinshasa, ibu kota Kongo, malam yang diguyur hujan deras sama sekali tidak mampu menghentikan euforia jutaan warganya. Jalanan utama Boulevard du 30 Juin lumpuh total dipenuhi lautan manusia.
Jaringan radio nasional di sana, Radio Okapi, yang menyiarkan pertandingan tersebut secara langsung, melaporkan bahwa perayaan malam itu menjadi “momen persatuan terbesar yang pernah dirasakan masyarakat dalam sepuluh tahun terakhir.”
Pemandangan yang lebih mengharukan terjadi di wilayah timur, tepatnya di kota Goma. Selama bertahun-tahun, Goma selalu dikenal sebagai wilayah rawan konflik bersenjata yang mencekam.
Namun, malam itu, rentetan suara tembakan berganti menjadi sorak-sorai. Warga sipil tumpah ruah ke jalanan, menari bersama pihak keamanan tanpa ada rasa takut. Untuk satu malam, sepak bola berhasil menghadirkan kedamaian yang selama ini sangat sulit diwujudkan lewat perundingan politik.
Pertanyaannya, mengapa tiket lolos ke Piala Dunia ini dirayakan dengan skala yang begitu luar biasa, seolah-olah mereka baru saja meraih kemerdekaan dari penjajah?
Jawabannya terletak pada sejarah panjang persinggungan antara sepak bola dan identitas negara tersebut. Selama beberapa dekade terakhir, rakyat Kongo sering kali melihat pemain berbakat keturunan negara mereka mengangkat trofi bergengsi, tetapi selalu saat membela bendera negara Eropa.

Contoh paling nyata adalah ketika tim nasional Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia. Jika kita melihat data skuad asuhan pelatih Didier Deschamps saat itu, dari 23 pemain yang dibawa, 18 di antaranya—atau sekitar 78 persen—adalah keturunan imigran Afrika. Di dalam skuad juara itu, darah Kongo mengalir deras.
Kiper Steve Mandanda lahir di Kinshasa sebelum pindah ke Prancis. Bek tangguh Presnel Kimpembe dan gelandang Steven Nzonzi juga memiliki ikatan darah dengan Kongo.
Bagi masyarakat di benua Afrika, melihat anak-anak muda yang mewarisi darah leluhur mereka mencium trofi Piala Dunia memunculkan perasaan yang bercampur aduk antara bangga dan miris. Keringat merekalah yang membawa piala emas itu berlabuh dengan aman di Paris, sementara tanah leluhur mereka tetap miskin dan sepi dari prestasi di level dunia.
Dalam disiplin sosiologi olahraga, berpindahnya bakat ini bukan hal yang terjadi secara kebetulan. Pada tahun 1991, seorang akademisi asal Inggris bernama John Bale menulis buku berjudul The Brawn Drain: Foreign Student-Athletes in American Universities. Lewat buku itu, Bale mencetuskan istilah “Brawn Drain”, sebuah pelesetan dari brain drain atau fenomena berpindahnya kaum intelektual ke negara maju.
Bale mendefinisikan Brawn Drain sebagai proses tersistematis di mana bakat olahraga atau keunggulan fisik dari negara berkembang disedot habis-habisan oleh negara maju. Dalam dunia sepak bola modern, Eropa telah merancang sebuah sistem industri raksasa yang membuat mereka bisa terus menguras pemain muda Afrika demi memperkuat kompetisi liga dan tim nasional mereka sendiri.
Di sinilah letak mahalnya nilai gol dari Axel Tuanzebe di Guadalajara. Profil perjalanannya adalah kebalikan dari sistem Brawn Drain Eropa tersebut. Ia lahir di Bunia, sebuah wilayah di timur Kongo. Saat kecil, ia pindah ke Inggris dan menyerap seluruh kemajuan fasilitas sepak bola modern. Ia dididik di akademi bergengsi Manchester United, bahkan sempat menjadi pemain andalan untuk tim nasional Inggris di kelompok umur U-19 hingga U-21. Di atas kertas,
Tuanzebe sudah masuk dalam alur hidup yang sama dengan para pemain Prancis tahun 2018. Ia sangat mungkin ditarik ke tim nasional senior Inggris. Namun, pada awal tahun 2024, ia mengambil langkah mengejutkan dengan menolak panggilan negara Barat dan beralih federasi demi membela negara kelahirannya, Republik Demokratik Kongo.
Keputusannya menjadi simbol migrasi balik yang sangat berani. Ia membuktikan bahwa anak Afrika didikan fasilitas Eropa tetap bisa pulang untuk membangun derajat bangsanya.

Kolonialisme baru dalam sepak bola
Namun, jika kita benar-benar ingin memahami mengapa negara Eropa begitu mudah menyedot talenta Afrika, kita harus melihat lebih jauh ke belakang. Pola pengurasan bakat pesepak bola ini memiliki akar logika yang sama persis dengan era kolonialisme di abad ke-19.
Sejarawan Adam Hochschild membedah sejarah kelam ini melalui bukunya yang berjudul King Leopold’s Ghost: A Story of Greed, Terror, and Heroism in Colonial Africa (1998). Hochschild menjelaskan bagaimana Raja Leopold II dari Belgia menjadikan wilayah Kongo sebagai lahan perkebunan dan tambang pribadinya antara tahun 1885 hingga 1908, yang saat itu diberi nama Congo Free State.
Raja Leopold II tidak pernah memandang wilayah Kongo sebagai sebuah negara yang harus dibangun, tapi cuma sebagai sebuah lahan eksploitasi besar-besaran untuk meraup pundi-pundi kekayaan pribadi. Dua komoditas utama yang paling dicari adalah karet murni dan gading gajah.
Saat itu, karet sangat dibutuhkan oleh negara-negara Eropa yang sedang berlomba dalam revolusi industri untuk dijadikan bahan pembuat ban. Demi mendapatkannya dalam jumlah masif, rezim Leopold menerapkan sistem kerja paksa yang luar biasa kejam.
Hochschild mencatat jutaan nyawa rakyat Kongo melayang akibat kelaparan, kelelahan bekerja, hingga hukuman mutilasi tangan bagi mereka yang gagal memenuhi target setoran harian.
Kekayaan alam Kongo disedot tanpa sisa, dibawa melintasi samudera ke Benua Biru untuk membangun kota-kota megah seperti Brussels dan Paris. Sementara wilayah Kongo dibiarkan hancur berantakan tanpa fasilitas yang layak untuk penduduknya.

Pola pikir kolonial yang dicatat oleh Hochschild inilah yang hari ini masih diwarisi dalam industri sepak bola Eropa. Cara kerjanya persis sama, hanya bentuk komoditasnya yang berubah. Jika di abad ke-19 komoditas yang dicari adalah getah karet dari hutan, di abad ke-21 komoditasnya adalah anak-anak muda yang pandai bermain bola di jalanan.
Saat ini, para agen pencari bakat dari klub-klub kaya di Eropa secara rutin mendatangi kota dan desa terpencil di Kongo mencari bocah belasan tahun yang memiliki bakat istimewa. Anak-anak ini lalu dibeli dengan biaya yang sangat murah dari klub lokal, lalu segera dibawa ke Eropa.
Ketika bakat mereka sudah matang, nilai jualnya melonjak tajam hingga puluhan juta Euro di bursa transfer. Uang hasil transfer, penjualan tiket, nilai kontrak hak siar, dan pajak penghasilan pemain sepenuhnya berputar untuk memakmurkan negara-negara Eropa.
Praktik “perdagangan bakat” yang tidak seimbang ini, jelas mendapat kritik tajam dari banyak elemen. Paul Darby, misalnya, dalam bukun Africa, Football and FIFA: Politics, Colonialism and Resistance (2002), membeberkan fakta bagaimana klub-klub Eropa sengaja membangun atau mendanai akademi sepak bola di Afrika, yang tujuan utamanya bukanlah untuk memajukan olahraga setempat.
Darby, yang meminjam terminologi dari peneliti olahraga senior, Raffaele Poli, secara spesifik menyebut jaringan akademi yang terafiliasi dengan klub Eropa ini dengan sebutan “football plantations”.
Istilah tersebut merujuk pada sistem perkebunan di era kolonial yang dulunya digunakan semata-mata untuk menanam komoditas ekspor. Akademi sepak bola di Kongo saat ini beroperasi dengan logika serupa, yakni sekadar sebagai pusat pengepul bakat.
Bahkan, banyak akademi lokal di Kongo yang didirikan semata-mata untuk menjadi pemasok bahan mentah bagi klub-klub di liga Belgia, Prancis, atau Inggris. Mereka melatih anak-anak hanya dengan taktik dasar yang sesuai dengan standar permainan Eropa, lalu mengekspor mereka secepat mungkin sebelum harga pasarnya menjadi terlalu mahal di bursa transfer internasional.
Dampak buruk dari sistem football plantations ini sangat memukul kompetisi sepak bola domestik Kongo, yang dikenal dengan nama Linafoot League. Karena para pemain terbaiknya selalu dibawa pergi ke luar negeri sejak usia remaja, liga lokal secara otomatis kehilangan pemain bintangnya.
Tanpa kehadiran bintang lokal yang bisa menarik minat penonton untuk datang ke stadion, Linafoot sangat kesulitan mendapatkan sponsor besar dan nilai kontrak hak siar televisi mereka menjadi sangat rendah. Akibatnya, klub-klub lokal bersejarah seperti TP Mazembe atau AS Vita Club harus berjuang keras memutar otak agar tidak berakhir dengan kebangkrutan.
Kondisi tersebut pada akhirnya menciptakan sebuah ironi ekonomi yang menyedihkan. Karena liga lokalnya kekurangan dana dan kurang menarik secara kualitas, para penggemar sepak bola di kota seperti Kinshasa atau Lubumbashi lebih suka menonton pertandingan liga elite Eropa. Mereka rela membayar biaya langganan televisi berbayar yang mahal hanya demi melihat pemain asal Kongo seperti Chancel Mbemba atau Yoane Wissa membela klub di Prancis atau Inggris.
Alhasil, lahirlah sebuah lingkaran eksploitasi yang terus berulang. Tanah Kongo melahirkan bakat sepak bola secara gratis, Eropa datang mengambil dan memolesnya, lalu Eropa menjual kembali tontonan bakat tersebut kepada rakyat Kongo melalui layar televisi dengan harga mahal. Uang dari kantong masyarakat Kongo justru mengalir deras keluar negeri untuk membiayai kemewahan industri sepak bola Eropa, sementara fasilitas stadion lokal dibiarkan rusak dan tidak terawat.
Kolonialisme di Kongo tak berhenti di lapangan hijau
Jika kita mau membuka mata lebih lebar, eksploitasi terhadap Kongo ternyata tidak berhenti di atas lapangan hijau. Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada diklaim sebagai “pesta teknologi olahraga yang luar biasa besar”. Turnamen ini dikonsumsi oleh milyaran manusia melalui layar telepon pintar, tablet, dan layanan streaming dengan resolusi tinggi.
Perputaran uang dari iklan digital dan hak siar ini membuat FIFA meraup keuntungan hingga miliaran dolar. Namun, semua kemewahan teknologi digital tersebut menyembunyikan kenyataan yang sangat pahit. Berdasarkan data dari World Economic Forum, Republik Demokratik Kongo menyumbang lebih dari 70 persen pasokan mineral kobalt dunia, serta menguasai mayoritas cadangan mineral coltan atau kolumbit-tantalit.
Dalam industri teknologi, kobalt adalah bahan baku utama yang tidak bisa digantikan dalam pembuatan baterai litium-ion yang menjadi sumber nyawa dari setiap telepon pintar dan kamera canggih yang digunakan untuk penyiaran Piala Dunia. Sementara coltan adalah elemen penting pembuat kapasitor pengatur aliran listrik di setiap perangkat elektronik. Tanpa adanya kobalt dan coltan dari Kongo, layar telepon seluler milik miliaran manusia di bumi ini akan mati total.
Inilah ironi kesenjangan ekonomi global yang benar-benar menampar nalar. Umat manusia di berbagai belahan bumi bisa menikmati tayangan visual sepak bola terbaik berkat kekayaan alam dari perut bumi Kongo, khususnya dari wilayah tambang miskin seperti Kolwezi dan Lualaba. Namun, triliunan dolar dari keuntungan industri teknologi dunia itu hanya mengalir masuk ke rekening perusahaan multinasional raksasa.
Sementara tanah kelahirannya, secara harfiah, telah menerangi dunia teknologi modern, anak muda di Kongo justru masih harus bermain bola tanpa alas kaki di atas lapangan tanah merah berdebu. Pembangunan infrastruktur olahraga di negara mereka berjalan sangat lambat karena negaranya dibiarkan miskin oleh tata kelola perekonomian global yang tidak pernah adil.
Rakyat Kongo saat ini benar-benar mengalami apa yang pantas disebut sebagai perampokan ganda oleh peradaban modern. Di satu sisi, bakat manusia terbaik mereka disedot habis-habisan untuk membesarkan nama klub Eropa melalui sistem football plantations. Di sisi lain, kekayaan mineral mereka dikeruk tanpa henti untuk menyalakan perangkat teknologi global yang kemewahannya sangat sulit mereka nikmati secara merata.
Oleh karena itu, tiket lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 menjadi sesuatu yang nilainya jauh melampaui sekadar ukuran kebanggaan olahraga. Keberhasilan sejarah yang dipastikan lewat sundulan gemilang Axel Tuanzebe itu telah menjelma menjadi sebuah simbol perlawanan nyata terhadap sejarah panjang penindasan dan kemiskinan struktural yang dipaksakan dari luar.
Mereka seolah sedang mendeklarasikan kemenangan atas tiga lapis penjajahan sekaligus: warisan kolonialisme masa lalu yang merampas persediaan karet mereka, sistem industri sepak bola Eropa yang menguras bakat mudanya, hingga keserakahan perusahaan teknologi global yang menambang pasokan kobalt mereka.

Kehadiran sosok Axel Tuanzebe memberikan harapan dan kekuatan moral yang besar bagi generasi muda di sana. Setelah menghabiskan sebagian besar masa pertumbuhannya dididik dalam sistem Eropa, keputusannya untuk pulang dan berjuang membawa nama negaranya sendiri menjadi bukti paling nyata bahwa rasa cinta terhadap identitas bangsa belum sepenuhnya musnah.
Ia berhasil mendobrak kebiasaan lama di mana pemain-pemain berbakat asal Benua Afrika sering kali lebih memilih jalan yang nyaman dan gemerlap dengan membela negara-negara maju di tanah Eropa.
Pada putaran final Piala Dunia yang digelar mulai bulan Juni 2026, Kongo tergabung di dalam Grup K bersama Portugal, Kolombia, serta Uzbekistan. Laga perdana mereka akan berlangsung di kota Houston. Apa pun hasil yang akan mereka dapatkan di fase grup nanti, Republik Demokratik Kongo sesungguhnya sudah meraih kemenangan yang paling penting.
Di bawah sorotan lampu stadion raksasa di Amerika Serikat dan disaksikan miliaran pasang mata, mereka tidak lagi hadir sebagai warga kelas dua yang hanya bertugas menyumbang pemain untuk tim Eropa, atau sekadar menjadi kuli penyuplai kobalt untuk layar televisi. Mereka berdiri sejajar membawa nama dan kehormatan negara mereka sendiri.
Sepak bola, yang selama puluhan tahun dijadikan alat eksploitasi, pada akhirnya berhasil mereka rebut kembali untuk mengangkat derajat, harga diri, dan kebanggaan sebuah bangsa.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Aamir Khan dan Poskolonialisme dalam Sinema Bollywood atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













